LANDASAN TEORI BELAJAR

A.   PENDAHULUAN

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu belajar dapat terjadi kapan dan dimana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya suatu perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan atau sikapnya. Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah, tidak lain dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana dalam aspek pengetahuan, keterampilan maupun sikap.

Upaya awal dalam memahami belajar adalah melalui kebijaksanaan tradisional, yang biasanya didasarkan pada pengalaman, dan melalui filsafat seperti idealisme Plato dan realisme Aristoteles (Gredler; 2011), Dalam tahapan perkembangannya kemudian teori belajar mendekatkan diri pada psikologi yang fokus pada kesadaran dan proses mental. Sebagai disiplin ilmu baru, psikologi dihadapkan pada dua pertanyaan utama yakni; apa yang seharusnya menjadi fokus studi? Dan, apa yang seharusnya menjadi cakupan disiplin ilmu ini?. Disisi lain psikologi ingin mengembangkan ilmu pasti namun, disiplin ini belum memiliki metode riset yang pasti. Disinilah awal mula lahirnya behaviorisme dengan tokohnya John B. Watson. Dia mengusulkan studi umum yang dapat menyatukan semua psikolog yakni studi perilaku/behavior. Selama 30 tahun behaviorisme sebagai aliran dalam ilmu psikologi menjadi sangat dominan. Kemudian dalam tahapan selanjutnya muncul beberapa aliran psikologi yang membahas perilaku manusia dalam belajar.

B.   ALIRAN DALAM TEORI BELAJAR

            Teori Psikologi sebagai dasar pengembangan teori-teori belajar dapat digolongkan ke dalam lima aliran yang dianggap besar dan sangat dominan dalam memenuhi praktek pembelajaran yakni, behavioristik, Kognitifistik, Humanistik, Kontruktivistik, dan Cybernetik.

  • 1.    Aliran Behavioristik    

Belajar menurut pandangan aliran behavioristik pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respon (S-R). Oleh karena itu, teori belajar ini juga dinamakan teori Stimulus-Respon yaitu belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya.

Teori-teori belajar termasuk di dalam teori behavioristik antara lain: koneksionisme (Thorndike), classical conditioning, (Pavlop), operant conditioning (Skinner). 

a.    Connectionisme (Thorndike)

Teori connectionisme (hubungan) yang dibangun oleh Thorndike dari percobaannya diperoleh gambaran yang luas (kompleks) terhadap proses belajar pada manusia. Connectionisme dalam belajar akan melahirkan partisipasi aktif antara guru dengan siswa. Partisipasi aktif antara guru di dalam suatu pembelajaran, jika seorang guru mampu memberikan stimulus positif kepada siswanya, barulah stimulus (rangsangan) tersebut ditanggapi siswa dalam bentuk respon baik dalam bentuk bertanya, kemampuan menjawab soal atau bentuk-bentuk lain yang berhubungan dengan aktivitas belajar.                           

Untuk mendapatkan partisipasi aktif dan positif ditengah suasana berlangsungnya proses pembelajaran, Thorndike menggagas setidaknya harus ada tiga hukum mayor (Snelbecker, 1974:214) yaitu:

1.    Hukum efek

Hukum efek (law of effect) penting dipahami oleh seorang tenaga pengajar (guru) di mana ketika seorang siswa mampu melakukan pekerjaannya atau aktivitas belajarnya dengan baik, maka guru tersebut harus memberikan penghargaan (appreciation) dalam bentuk pujian dan lain-lain. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih termotivasi lagi dalam belajarnya

2.    Hukum latihan

Hukum latihan (law of exercise) dimaksudkan untuk memberikan atau memantapkan skill, sebab menurut Thorndike, apabila hukum ini dilakukan dengan semakin banyak berlatih, maka semakin mahirlah seseorang (siswa) dengan demikian secara otomatis maka skill (kemampuannya) akan tumbuh dengan baik. Demikian pula halnya dalam proses belajar seseorang (siswa) semakin banyak belajar maka akan semakin terasah kemandirian dan skillnya.

 3.    Hukum kesiap-siagaan

            Sementara hukum kesiap-siagaan (law of readiness) lebih ditujukan untuk mengetahui sampai sejauhmana kesiap-siagaan siswa untuk mampu menerima pelajaran dari guru, sehingga siswa mampu mengikuti tahap-tahap pelajaran yang akan disampaikan. Dengan pemahaman lain bahwa hukum kesiap-siagaan ditujukan untuk memberikan stimulasi yang tepat kepada siswa sehingga akan tercipta partisipasi aktif antara guru dan siswa. Dalam bentuk pemahaman yang lebih luas, bahwa hukum kesiap-siagaan (law of rediness). Ini juga dimaksudkan untuk mengetahui masa peka seorang siswa, dengan mengetahui masa peka siswa maka sesungguhnya guru akan dapat memberikan stimulus yang tepat dan sesuai pula dengan pertumbuhan (fisik) dan perkembangannya (psikis). Namun kesulitannya terletak pada penentuan kapan suatu masa pekan seorang siswa dimulai.

b.    Classical Conditioning (Pavlop)

Teori classical conditioning atau pengkondisian klasik dari Ivan Pavlop merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme. Pavlop melakukan percobaan dengan seekor anjing. Dalam percobaannya, Pavlop ingin membentuk tingkah laku tertentu pada anjing. Bentuk percobaan yang dilakukan sebagai berikut: dalam keadaan lapar, sebelum diberikan makanan dibunyikan lonceng, diperlihatkan makanan, dan air liur anjing keluar. Keadaan ini terus menerus diulang, bunyikan lonceng, perlihatkan makanan, air liur anjing keluar. Setelah beberapa kali dilakukan ternyata pada akhirnya setiap lonceng dibunyikan air liur anjing keluar walaupun tanpa diberikan makanan. Dalam keadaan ini, anjing belajar bahwa kalau lonceng berbunyi pada ada makanan sehingga menyebabkan air liurnya keluar.

Berdasarkan eksperimen ini, Pavlop menarik kesimpulan bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkondisian tertentu. Pengkondisian itu adalah dengan melakukan semacam pancingan dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan tingkah laku itu.

Belajar menurut Pavlop merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu prilaku atau respon terhadap sesuatu. Dalam hal ini Pavlop mengemukakan hukum belajar sebagai berikut:

a.    Law of respondent conditioning atau hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara serentak dengan salah satunya berfungsi sebagai reinforce, maka reflex stimulus lainnya akan meningkat.

b.    Law of respondent extinction atau hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforce maka kekuatannya akan menurun. 

c.          Operant Conditioning

Teori operant conditioning dikembangkan oleh B.F Skinner. Teori ini dilandasi oleh adanya penguatan (reinforcement). Berbeda dengan Pavlov yang diberi kondisi adalah stimulus (S), maka pada teori Skinner ini yang diberi kondisi adalah respon (R).

Skinner membedakan dua macam respon yakni respondent respons (reflexive response) dan operant response (instrumental response). Respondent respons adalah respon yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu, misalnya perangsang stimulus makanan menimbulkan keluarnya air liur. Respon ini relatif tetap. Artinya, setiap ada stimulus semacam itu akan muncul respon tertentu. Dengan demikian, perangsang-perangsang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkannnya. Operant response atau instrumental response adalah respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang yang demikian disebut reinforce, karena perangsang-perangsang tersebut memperkuat respons yang telah dilakukan. Jadi dengan demikian, perangsang tersebut mengikuti dan memperkuat suatu tingkah laku yang telah dilakukan. Misalnya jika seseorang telah belajar melakukan sesuatu lalu mendapat hadiah sebagai reinforce, maka ia akan menjadi lebih giat dalam belajar.

Pada prilaku manusia  respondent respons bersifat terbatas, oleh karena itu sangat kecil untuk dapat dimodifikasi. Sebaliknya operant response sifatnya tidak terbatas, oleh karena itu kemungkinan untuk dapat dimodifikasi sangat besar. Dengan demikian untuk mengbah tingkah laku dapat menggunakan operant response.

Skinner berpendapat bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu perlu diturutkan atau dipecah-pecah menjadi bagian-bagian atau komponen tiingkah laku yang spesifik. Selanjutnya, agar terbentuk pada tingkah laku yang diharapkan pada setiap tingkah laku yang spesifik yang telah direspon, perlu diberikan reinforce agar tingkah laku itu terus menerus diulang, serta untuk memotivasi agar berlanjut kepada komponen tingkah laku selanjutnya sampai pada akhirnya pada pembentukan tingkah laku puncak yang diharapkan.

  • 2.    Aliran Kognitif   

Teori belajar kognitif lebih menekankan pada proses belajar yang dilakukan individu. Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang tampak. Belajar juga merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi dan aspek kejiwaan lainnya. Belajar menurut teori ini merupakan aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang kompleks.

Berikut beberapa teori belajar yang termasuk dalam aliran kognitif yaitu:

a.    Teori Gestalt

Teori gestalt dikembangkan oleh Koffka, Kohler dan Wertheimer. Menurut teori gestalt belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah  pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Berbeda dengan teori behavioristik yang menganggap belajar atau tingkah laku itu bersifat mekanistik, sehingga menggabaikan atau mengingkari peranan insight. Teori gestalt beranggapan bahwa insight adalah inti dari pembentukan tingkah laku.

Insight yang merupakan inti dari belajar menurut teori gestalt memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a.    Kemampuan insight seseorang tergantung kepada kemampuan dasar orang tersebut, sedangkan kemampuan dasar itu tergantung kepada usia dan posisi yang bersangkutan dalam kelompoknya.

b.    Insight dipengaruhi atau tergantung kepada pengalaman masa lalunya yang relevan.

c.    Insight tergantung kepada pengaturan dan penyediaan lingkungannya.

d.    Pengertian merupakan inti dari insight. Melalui pengertian individu akan dapat memecahkan masalah. Pengertian itulah yang bisa menjadi kenderaan dalam memecahkan masalah lain pada situasi yang berlainan.

e.    Apabila insight telah diperoleh, maka dapat digunakan untuk menghadapi persoalan dalam situasi lain. Di sini terdapat macam transfer belajar, namun yang ditransfer bukanlah materi yang dipelajari, tetapi relasi-relasi dan generalisasi yang diperoleh melalui insight.

Prinsip yang terdapat dalam teori belajar gestalt berdasarkan keseluruhan. Keseluruhan itu lebih memiliki makna dari bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada dalam keseluruhan. Sebuah kata akan bermakna manakala dalam sebuah kalimat. Demikian juga kalimat akan memiliki makna apabila ada dalam suatu rangkaian karangan.

Makna dari prinsip ini adalah pembelajaran itu bukanlah berangkat dari fakta-fakta akan tetapi mesti berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah itu maka siswa dapat mempelajari fakta.

1.  Anak yang belajar merupakan keseluruhan.

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan bukanlah hanya mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Apa artinya kemampuan intelektual manakala tidak diikuti sikap yang baik atau tidak diikuti oleh pengembangan seluruh potensi yang ada dalam diri. Oleh karenya mengajar bukanlah menumpuk memori kepada siswa dengan fakta-fakta yang lepas-lepas tetapi mengembangkan keseluruhan potensi yang ada dalam diri anak.

2.    Belajar berkat insight.

Belajar akan terjadi manakala dihadapkan kepada suatu persoalan yang harus dipecahkan. Belajar bukanlah menghafal fakta. Melalui persoalan yang dihadapi akan mendapatkan insight yang berguna untuk menghadapi setiap masalah. 

3.    Belajar berdasarkan pengalaman.

Pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan makna kehidupan setiap prilaku individu. Belajar adalah melakukan reorganisasi pengalaman-pengalaman masa lalu yang secara terus menerus disempurnakan. Oleh karena itu proses pembelajaran adalah proses memberikan pengalaman-pengalaman yang bermakna untuk kehidupan indiividu.

b.    Teori Medan Kognitif (Lewin)

Teori medan kognitif dikembangkan oleh Kurt Lewin. Lewin memandang bahwa setiap individu berada di dalam medan kekuatan yang bersifat psikologis yang disebut dengan ruang hidup (life space). Life space meliputi manifestasi lingkungan di mana siswa bereaksi, objek material yang dihadapi, serta fungsi kejiwaan yang diimilikinya. Belajar berlangsung sebagai akibat perubahan struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif itu merupakan hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur medan kognitif itu sendiri, yang lain dari kebutuhan motivasi internal individu. 

Teori medan kognitif ini menjelaskan bahwa belajar adalah proses pemecahan masalah. Beberapa hal yang berkaitan dengan proses pemecahan masalah menurut Lewin dalam belajar adalah:

1.  Belajar adalah perubahan struktur kognitif. Setiap orang akan dapat memecahkan masalah apabila bisa mengubah struktur kognitif.

2.  Motivasi. Motivasi adalah faktor yang dapat mendorong setiap individu untuk berprilaku. Motivasi muncul karena adanya daya tarik tertentu. Di samping itu motivasi juga bisa muncul karena pengalaman yang menyenangkan.  

c.    Teori Perkembangan Piaget

            Menurut Piaget dasar dari belajar adalah aktivitas anak apabila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Akibatnya lingkungan sosialnya berada di antara anak dan lingkungan fisiknya. Melalui pertukaran ide-ide dengan orang lain, seorang anak tadinya memiliki pandangan subjektif terhadap sesuatu yang diamatinya akan berubah pandangannya menjadi objektif  Aktivitas mental anak terorganisasi dalam struktur kegiatan mental yang disebut skema atau dalam bentuk jamak skemata. Skema merupakan abtraksi mental seseorang yang digunakan untuk mengerti sesuatu atau memecahkan sesuatu atau memecahkan masalah. Individu mengisi atribut skemanya dengan informasi yang benar agar dapat membentuk kerangka pikir yang benar. Kerangka pemikiran inilah yang akan membentuk pengetahuan struktural individu.  Pengetahuan struktural tersebut terdiri dari skema-skema yang dipunyai dan hubungan antar skema-sekama tersebut.

            Piaget menjelaskan bahwa struktur pengetahuan atau struktur kognitif yang dimiliki individu terjadi karena adanya proses adaptasi. Adaptasi adalah proses penyesuaian skema dalam merespon lingkungan melalui dua proses yang tidak dapat dipisahkan yaitu asimilasi dan akomodasi. Proses asimilasi adalah proses penyatuan (pengintegrasian) informasi, persepsi, konsep dan pemgalaman baru ke dalam pengalaman yang sudah ada dalam struktur kognitif individu. Akomodasi adalah penyesuaian atau penyusunan kembali skema ke dalam situasi yang baru. Informasi atau pengalaman baru diasimilasikan, mungkin saja tidak cocok dengan skema yang telah ada. Apabila dalam penyerapan informasi baru tidak cocok maka akan terjadi disekuilibrium yaitu ketidakseimbangan yang terjadi karena informasi yang masuk berbeda dengan struktrul kognitifnya, secara sederhana dapat dikatakan bahwa disekuilibrium terjadi jika apa yang dihadapi berbeda dengan apa yang telah dipahami sebelumnya. Jika terjadi disekuilibrium, maka secara alamiah individu akan berupaya mengurangi ketidakseimbangan dan mengembangkan struktur kognitif baru atau mengadaptasikan struktur kognitif lama sampai terjadi keseimbangan lagi. Proses mengembalikan keseimbangan ini disebut ekuilibrasi. 

            Piaget menjelaskan bahwa perkembangan kognitif mempunyai tiga unsur yaitu: (1) isi, (2) fungsi, dan (3) struktur. Isi adalah apa yang telah diketahui yang menunjukkan kepada tingkah laku yang dapat diamati yang mengungkapkan aktivitas intelek. Isi intelegensi berbeda-beda dari umur ke umur dan dari anak ke anak. Fungsi, menunjukkan kepada sifat dari aktivitas intelektual, asimilasi dan akomodasi yang tetap dan terus menerus dikembangkan sepanjang perkembangan kognitif. Struktur, menunjukkan pada sifat organisatoris yang dibentuk (skemata) yang menjelaskan terjadinya prilaku khusus.    

d.    Teori Kognitif Bruner

            Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan atas dua asumsi. Asumsi pertama ialah bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Berlawanan dengan paham para penganut teori Behaviour, Bruner yakin bahwa siswa yang belajar berinteraksi dengan lingkungan yang secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan, tetapi juga dalam diri siswa sendiri. Asumsi  kedua  ialah bahwa siswa yang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya (mode of work). Dengan menghadapi aspek dari lingkungan, siswa akan membentuk suatu struktur atau model. Dengan model tersebut dapat disusun hipotesis, untuk memasukkan pengetahuan baru kedalam struktur-struktur, dengan memperluas struktur-struktur itu atau dengan mengembangkan struktur atau sub struktur baru.

            Bruner menyebutkan dalam belajar terdapat hal-hal yang mempunyai kemiripan dihubungkan menjadi suatu struktur yang memberikan arti. Dalam proses interaksi dengan lingkungan maka siswa mengembangkan model dalam (inner mode) atau sistem koding untuk menyajikan pengetahuan sebagaimana yang diketahuinya.

            Menurut Bruner, kategorisasi dapat membawa siswa ke tingkat yang lebih tinggi dari pada informasi yang diberikan. Siswa menentukan objek-objek itu dengan suatu kelas/kelompok. Bila siswa mengklasifikasikan suatu objek, maka siswa membuat sekumpulan sifat-sifat, atribut-atribut dan hubungan-hubungan. Siswa melakukan hal tersebut melalui inferensi, menemukan lebih banyak mengenai segala sesuatu tentang objek tersebut.  

            Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu adalah: (1) memperoleh informasi baru (2) tranformasi informasi, dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.

            Informasi baru dapat merupakan penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki siswa, atau informasi itu dapat bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki siswa.

Dalam transformasi pengetahuan, seorang siswa memperlakukan pengetahuan agar cocok atau sesuai dengan tugas baru. Jadi, transformasi menyangkut cara siswa memperlakukan pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan mengubah menjadi bentuk lain. Siswa menguji relevansi dan ketetapan pengetahuan dengan menilai apakah cara siswa memperlakukan pengetahuan itu cocok dengan tugas yang ada.

Bruner menyebutkan pandangannya tentang belajar atau pertumbuhan kognitif sebagai konseptualisme instrumental. Pandangan ini berpusat pada dua prinsip yaitu (1) pengetahuan siswa tentang lingkungannya didasarkan pada model-model tentang kenyataan yang dibangunnya dan (2) model-model semacam itu mula-mula diadopsi dari kebudayaan siswa, kemudian model-model itu diadaptasikan pada kegunaan siswa yang bersangkutan.

Persepsi siswa tentang suatu peristiwa merupakan suatu proses konstruktif. Dalam proses ini, siswa menyusun suatu hipotesis dengan menghubungkan data inderanya pada model-model yang telah disusunnya, lalu menguji hipotesisnya terhadap sifat-sifat tambahan dari peristiwa itu. Siswa itu tidak dipandang sebagai organisme aktif yang pasif, tetapi sebagai seorang yang memilih informasi secara aktif dan membentuk hipotesis perseptual.

e.    Teori Belajar Bermakna (Ausubel)

Ausubel mencetuskan gagasan belajar penerimaan verbal bermakna (meaningful verbal reception learning). Ausubel menyatakan bahwa cara belajar ini merupakan proses yang aktif karena meliputi: (1) analisis kognitif untuk menentukan aspek struktur kognitif  yang  berhubungan dengan materi baru, (2) penyesuaian materi baru dengan struktur kognitif yaitu mengetahui persamaan dan perbedaan antara konsep baru dan konsep yang sudah diketahui sebelumnya, dan (3) perumusan kembali materi belajar sesuai dengan latar belakang intelektual serta kosa kata yang dimiliki oleh siswa.

Dalam teori belajar bermakna, dasar pemikiran utama adalah bahwa konsep/informasi baru harus berhubungan dengan konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif, oleh karena itu, Ausubel  menjelaskan faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna dan penyimpanan informasi adalah struktur kognitif itu sendiri. Bila struktur kognitif ini jelas, mantap dan tersusun dengan baik akan timbul pemahaman yang tepat dan jelas yang dapat mempertahankan kekuatan atau keberadaannya. Sebaliknya, bila struktur kognitif tidak tersusun dengan baik, hal ini akan menghambat belajar bermakna dan penyimpanan informasi baru.

Ausubel menjelaskan cara terbaik untuk memperkuat struktur kognitif adalah dengan menggunakanadvance organizersyang sesuai serta jelas. Advance organizers ini dapat membantu siswa dalam mempelajari konsep dari materi baru secara bermakna dengan menghubungkan konsep tersebut dengan aspek yang sesuai dari struktur kognitif siswa. Dengan kata lain, advance organizersdapat mengaktifkan serta menguatkan struktur kognitif siswa dengan menitikberatkan pada aspek-aspek yang berhubungan dengan konsep dari materi baru untuk dijadikan ideational scaffolding.

f.     Teori belajar Gagne

Gagne menjelaskan belajar adalah bukan merupakan sesuatu yang terjadi secara alamiah tetapi hanya akan terjadi dengan adanya kondisi-kondisi tertentu yaitu kondisi: (1) internal, yang antara lain menyangkut kesiapan siswa dan apa yang telah dipelajari sebelumnya (prerequisite) ekternal merupakan situasi belajar dan penyajian stimuli yang secara sengaja diatur oleh guru dengan tujuan memperlancar proses belajar. Tiap-tiap jenis hasil belajar memerlukan kondisi-kondisi tertentu yang perlu diatur dan dikontrol. Secara khusus, Gagne menyatakan bahwa cara berpikir seseorang tergantung pada: (1) keterampilan apa yang telah dimiliki, dan (2) keterampilan serta hirarki apa yang yang diperlukan untuk mempelajari suatu tugas.

Gagne mengemukakan 8 fase dalam suatu tindakan belajar. Fase-fase tersebut merupakan peristiwa-peristiwa eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru. Fase belajar menurut Gagne adalah: (1) fase motivasi (motivation phase), (2) fase pemahaman (apprehending phase), (3) fase perolehan (acquisition phase), (4) fase pengingatan (retention phase), (5) pengungkapan kembali (retrieval phase), (6) fase generalisasi (generalization phase), (7) fase penampilan (performance phrase), dan (8) fase umpanbalik.  

Selanjutnya Gagne menyebutkan hasil belajar dengan istilah kapabilitas belajar. Gagne menyebutkan 5 kategori kapabilias belajar  yang dapat dipelajari oleh siswa yaitu: (1) informasi verbal, (2) strategi kognitif, (3) keterampilan intelektual, (4) sikap dan (5) keterampilan motorik.

  • 3.    Aliran Humanistik    

Teori belajar humanistik memandang bahwa proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Menurut teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika siswa telah memahami lingkungan dan dirinya sendiri.

Teori belajar humanistik ini cenderung bersifat eklektif dalam arti memanfaatkan teknik belajar apapun, asal tujuan belajar siswa dapat tercapai. Dengan kata lain teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri dapat tercapai. Dalam prakteknya, teori ini antara lain terwujud dalam pendekatan yang diusulkan Ausubel dengan “belajar bermakna”, teori ini juga terwujud dalam teori Bloom dan Krathwohl.

1.            Teori Kolb

Kolb membagi tahapan belajar menjadi 4 yaitu:

a.    Pengalamana konkrit

Pada tahapan ini, seorang siswa hanya sekedar ikut mengalami suatu kejadian. Dalam hal ini belum mempunyai kesadaran tentang tentang hakekat kejadian tersebut dan belum mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus trjadi seperti itu.

b.    Pengalaman aktif dan reflektif

Pada tahapan ini, siswa melakukan observasi aktif terhadap kejadian belajar, serta mulai berusaha memikirkan dan memahaminya.

c.    Konseptualisasi

Pada tahapan ini, siswa mulai belajar untuk membuat abstraksi atau teori tentang sesuatu hal yang pernah diamatinya. Pada tahap ini, siswa diharapkan sudah mampu membuat aturan-aturan umum (generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda tetapi mempunyai landasan aturan yang sama.

d.    Eksperimental aktif.

Pada tahap ini, siswa mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke situasi yang baru. Misalnya, siswa tidak banyak memahami asal usul sebuah rumus tetapi ia mampu memakai rumus untuk memecahkan suatu masalah yang belum pernah ia temukan.

Menurut Kolb, siklus belajar semacam itu terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung di luar kesadaran siswa. Dengan kata lain, meskipun dalam teorinya, Kolb mampu membuat garis tegas antara tahap satu dengan tahap lainnya, namun dalam praktek peralihan dari satu tahap ke tahap lainnya itu seringkali terjadi begitu saja, sulit ditentukan kapan beralihnya.

2.          Teori Honey dan Mumford

Honey dan Mumford membagi 4 tipe siswa yaitu:

a.    Tipe aktivis

Siswa dengan tipe aktivis suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru. Cenderung terbuka dan mudah diajak berdialog. Dalam belajar menyukai metode yang mampu mendorong untuk menemukan hal-hal baru tetapi mereka cepat bosan dengan hal-hal yang memerlukan waktu lama dalam implementasi.

b.    Tipe reflektor

Siswa dengan tipe reflektor sangat berhati-hati mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusan cenderung konservatif dalam arti mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat baik buruk suatu keputusan sebelum bertindak.

c.    Tipe teoritis

Siswa dengan  tipe teoritis sangat kritis, senang menganalisa dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang bersifat subyektif. Bagi tipe ini, berpikir secara rasional adalah sesuatu yang sangat penting. Mereka biasanya juga sangat skeptic dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif. 

d.    Tipe pragmatis

Tipe ini, menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal. Teori memang penting, namun bila teori tidak bisa dipraktekkan, untuk apa?. Tipe siswa pragmatis, tidak suka bertele-tele membahas aspek teoritis filosofis dari sesuatu. Bagi tipe ini, sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika bisa dipraktekkan.

3.          Teori Habermas

Habermas meyakini bawa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. Dengan asumsi ini, Habermas membagi 3 tipe belajar yaitu:

a.    Belajar teknis

Siswa belajar bagaimana berinteraksi dengan alam sekelilignya. Mereka berusaha menguasai dan mengelola alam dengan cara mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu. Dengan kata lain tipe ini menekankan interaksi manusia dengan lingkungannya.

b.    Belajar praktis

Siswa belajar berinteraksi tetapi pada tahap ini yang lebih dipentingkan adalah interaksi antara siswa dengan orang-orang yang ada disekelilingnya. Pada tahap ini pemahaman siswa terhadap alam tidak berhenti pada suatu pemahaman yang kering dan terlepas kaitannya dengan manusia. Namun pemahaman terhadap alam justru relevan jika dan hanya jika berkaitan dengan kepentingan manusia. Dengan kata lain tipe ini menekankan tidak hanya interaksi manusia dengan lingkungannya tetapi juga antara manusia dengan manusia lainnya.  

c.    Belajar emansipatoris

Siswa berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan (transformasi) kultural dari suatu lingkungan. Pemanfaatan dan kesadaran terhadap transformasi kultural dianggap tahap belajar yang paling tinggi, sebab transformasi kultural dianggap sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi. Dengan kata lain, tipe ini menekankan pada pemahaman siswa terhadap transformasi atau perubahan kultural dalam suatu lingkungan.

4.          Teori Vygotsky

Menurut Vygotsky perkembangan kemampuan seseorang dapa dibedakan kepada 2 tingkat yaitu:

a.    Tingkat perkembangan aktual.

Tingkay perkembangan aktual tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri.  Hal ini disebut Vygostky dengan istilah kemampuan intramental. 

b.    Tingkat perkembangan potensial.

Tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika di bawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten.  Hal ini disebut Vygostky dengan istilah kemampuan intermental. 

          Jarak antara kedua kemampuan tersebut yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial ini disebut zona perkembangan proksimal. Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada pada proses pematangan. Perkembangan ini akan menjadi matang melalui interaksinya dengan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten.

Untuk menafsirkan zona perkembangan proksimal ini dengan menggunakan scaffolding interpretation, yaitu memandang zona perkembangan proksimal sebagai perancah sejenis wilayah penyangga atau batu loncatan untuk mencapai taraf perkembangan yang semakin tinggi.

Berpijak pada konsep zona perkembangan proksimal, maka sebelum terjadi internalisasi dalam diri siswa, atau sebelum kemampuan intramental terbentuk, siswa perlu dibantu dalam proses belajarnya. Orang dewasa atau teman sebaya yang kompeten perlu membantu dengan berbagai cara seperti memberi contoh, memberikan feedback, menarik kesimpulan dan sebagainya dalam rangka meningkatkan perkembangan kemampuannya.

Bimbingan atau bantuan dari orang dewasa atau teman sejawat yang kompeten sangat efektif untuk meningkatkan produktivitas belajar. Bantuan-bantuan tersebut tentunya disesuaikan dengan konteks sosio-kultural atau karakteristik sosial siswa. Bimbingan bermanfaat untuk memahami alat-alat semiotic, seperti bahasa, tanda dan lambing-lambang. Siswa mengalami proses internalisasi yang selanjutnya alat-alat ini berfungsi sebagai mediator bagi proses-proses psikologis lebih lanjut dalam diri anak.

Bentuk-bentuk pembelajaran kooperatif, kolaboratif, pembelajaran kontekstual, problem based learning, authentic instruction serta service learning sangat tepat diterapkan untuk mendukung keberhasilan belajar siswa.

5.          Teori Carl Rogers

Roger menyatakan bahwa siswa yang belajar hendaknya tidak dipaksa, melainkan dibiatkan belajar bebas, siswa diharapkan dapat mengambil keputusan sendiri dan berani bertanggungjawab atas keputusan-keputusan yang diambilnya sendiri. Dalam konteks tersebut, Rogers mengemukakan 5 hal dalam proses belajar humanistik yaitu:

a.    Hasrat untuk belajar

Hasrat untuk belajar disebabkan adanya hasrat ingin tahu manusia yang terus menerus terhadap dunia sekelilingnya. Dalam proses mencari jawabnya, seseorang mengalami aktivitas-aktivitas belajar.

b.    Belajar bermakna

Seseorang yang beraktivitas akan selalu menimbang-nimbang apakah aktivitas tersebut mempunyai makna bagi dirinya. Jika tidak tentu tidak akan dilakukannya. 

c.    Belajar tanpa hukuman

Belajar yang terbebas dari ancaman hukuman mengakibatkan anak bebas melakukan apa saja mengadakan eksperimentasi hingga menemukan sendiri sesuatu yang baru.

d.    Belajar dengan inisiatif sendiri

Belajar dengan inisiatif sendiri menyiratkan tingginya motivasi internal yang dimiliki. Siswa yang banyak berinisiatif, mampu mengarahkan dirinya sendiri, menentukan pilihannya sendiri serta berusaha menimbang sendiri hal yang baik bagi dirinya.

e.    Belajar dan perubahan

Dunia terus mengalami perubahan, karena itu siswa harus belajar untuk dapat menghadapi kondisi dan situasi yang terus berubah. Dengan demikian belajar yang hanya sekedar mengingat fakta atau menghafal sesuatu dipandang tidak cukup.

  • 4.    Aliran Konstruktivistik

Teori konstruktivistik memahami belajar sebagai proses pembentukan (konstruksi) pengetahuan oleh siswa itu sendiri. Pengetahuan ada di dalam diri siswa yang sedang mengetahui. Oleh karena itu pengetahuan merupakan hasil konstruksi yang dilakukan siswa.  Menurut aliran konstruktivistik, pengetahuan dipahami sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru. Pengetahuan bukanlah kemampuan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman maupun lingkungannya.

Terdapat beberapa kemampuan yang diperlukan untuk mengkonstruksi pengetahuan: (a) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, (b) kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan tentang sesuatu hal, dan (c) kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu pada yang lain.

Sedangkan faktor-faktr yang membatasi proses konstruksi pengetahuan adalah: (a) hasil konstruksi yang telah dimiliki seseorang: pengalaman yang sudah diabstraksikan yang telaha menjadi konsep dan telah dikonstruksi menjadi pengetahuan dalam banyak hal membatasi pengertian seseorang tentang hal-hal yang berkaitan dengan konsep tersebut, (b) domain pengetahuan seseorang: pengalaman akan fenomena merupakan unsure penting dalam pengembangan pengetahuan, kekurangan dalam hal ini akan membatasi pengetahuan, dan (c) jaringan struktur kognitif seseorang: setiap pengetahuan yang baru harus cocok dengan dengan ekologi konseptual (konsep, gambaran, gagasan, teori yang membentuk struktur kognitif yang berhubungan satu sama lain), karena manusia cenderung untuk menjaga stabilitas ekologi sistem tersebut. Kecenderungan ini dapat menghambat perkembangan pengetahuan.    

Selanjutnya berkaitan dengan ciri-ciri belajar konstruktivistik adalah sebagai berikut:

a.    Orientasi

Siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu topik dengan memberi kesempatan melakukan observasi.

b.    Elisitas

Siswa mengungkapkan idenya dengan jalan berdiskusi, menulis, membuat poster dan lain-lain.

c.    Restrukturisasi

Klarifikasi ide dengan ide orang lain, membangun ide baru, mengevaluasi ide baru.

d.    Penggunaan ide baru baru dalam berbagai situasi

Ide atau pengetahuan yang telah terbentuk perlu diaplikasikan pada bermacam-macam situasi.

e.    Review

Dalam mengaplikasi pengetahuan, gagasa yang ada perlu direvisi dengan menambahkan atau mengubah.

      Peranan guru, menurut aliran konstruktivistik lebih sebagai mediator atau fasilitator bagi siswa, yang meliputi kegiatan sebagai berikut:

a.    Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab, mengajar atau berceramah bukanlah tugas utama guru.

b.    Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasannya. Guru perlu menyemangati siswa dan menyediakan pengalaman konflik.

c.    Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa berjalan atau tidak. Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa dapat diberlakukan untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan.   

  • 5.     Aliran Cybernetisme

Aliran Cybernetisme memandang otak manusia aktif memproses informasi seperti halnya teknologi informasi alau komputer, namun manusia aktif mencari bukan hanya pasif menerima. Peserta didik menangkap rangsangan melalui panca indranya, baik dalam bentuk obyek benda, data, maupun peristiwa kemudian memperhatikan atau mengabaikan, memilih sebagian atau menerima seluruhnya, dan membuat reaksi dengan membuat respons-respons.

Manusia bukan mesin yang pasif yang selalu tertib dan teratur memproses informasi tersebut, melainkan aktif mencari dan me-manipulasi. Suatu ketika ia cepat sekali, sedang-sedang saja, atau lambat sekali tergantung pada kesegaran pikiran, perasaan, dan kebugaran fisik yang muncul pada saat itu. Berbeda dengan mesin yang berbentuk benda mati, manusia cenderung mencari pengalaman yang mengarah pada perolehan pengetahuan bam, keterampilan baru, atau sikap dan pandangan baru yang lebih memihak kepada dirinya atau pihak lain. Melalui proses seperti ilu peserta didik selalu berubah atau berkembang.

Sebagai manusia, peserta didik mencari informasi untuk memecahkan masalah dengan cara mengorganisasikan apa yang telah diketahui dan mensintesisnya sehingga mengantarkannya pada kesimpulan dalam bentuk hasil belajar yang baru.

Fungsi pengajar adalah menarik perhatian peserta didik agar pikiran, fisik, dan sikapnya tertuju pada materi pembelajaran yang akan dibahas. Kesiapan peserta didik untuk belajar dibangun seawal mungkin dalam suatu proses pembelajaran, misalnya dengan mengaitkan materi yang akan dibahas dengan materi yang sudah dikuasai peserta didik dan lebih difokuskan pada pemahaman bukan pada hafalan. Pengajar perlu membantu peserta didik memisahkan bagian pelajaran yangsangai penting dari yang kurang penting. Pengajar perlu memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengulangi materi yang dipelajari sampai diyakini bahwa ia tidak akan melupakannya. Di samping pengulangan, pengajar perlu menyajikan materi dengan jelas melalui uraian, pengorganisasian materi yang runtut, dan simbol-simbol yang menarik sehingga peserta didik terhindar dari kesalahpengertian dan mengarahkan perhatiannya pada proses pembelajaran.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pengajar perlu memisahkan mana materi pembelajaran yang penting dengan menggunakan lambang-lambang yang menarik perhatian, mengaitkan materi yang baru dengan yang lama, memberi kesempatan mengulang materi yang dipelajari sesering mungkin, terutama bagi peserta didik yang lambat dalam berpikir. Pengajar mengedepankan materi yang mempunyai manfaat bagi kehidupan peserta didik. Tokoh dalam aliran ini antara lain Hilda Taba dan David Ausubel.

Kelima aliran itu tidak selalu sejalan antara satu dengan yang lain, bahkan lebih banyak berbeda. Penganut yang fanatik acapkali mempertentangkannya. Perbedaan itu masuk sampai pada tingkat yang lebih operasional, seperti metode pembelajaran induktif versus deduktif, expository versus discovery, ceramah dan tanya-jawab versus diskusi kelompok dan sebagainya. Kelima aliran itu walau tidak sepakat dalam banyak hal tetapi mereka menerima suatu konsep yang menyatakan bahwa perkembangan peserta didik dipengaruhi oleh dua faktor besar, yaitu bakat atau bawaan dan pengalaman termasuk pengalaman pembelajaran dan peristiwa dalam hidupnya. Perpaduan kedua faktor itu menunjukkan arah dan pencapaian peserta didik dalam pembentukan dirinya di bidang pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku.

Bila disimak dengan cermat, kelima aliran itu memang berbeda pandangan. Keadaan itu membuat pengajar sulit bahkan tidak mungkin menyatukannya. Sebagian pengajar percaya bahwa kelimanya, bukan saja beda tetapi terasa kontradiktif pada saat menerapkannya, terutama bila membandingkan dua aliran yang kontras yaitu humanisme dan behaviorisme. Kelima aliran itu mengandung lima cara pandang terhadap proses pembelajaran. Pengajar tidak harus setia hanya pada salah satu aliran saja dan membuang bahkan membenci aliran yang lain.

C.   KESIMPULAN

            Teori belajar behavioristik atau dikenal juga dengan aliran tingkah laku memaknai belajar sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Belajar tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor yang diberikan lingkungan. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam aliran behavioristik adalah Thorndike, Pavlop, Watson, Hull, Guthrie dan Skinner.

            Teori belajar kognitif, memaknai belajar tidak hanya sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Lebih dari itu, belajar adalah melibatkan proses berpikir yang kompleks. Pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya sangat menentukan hasil belajar. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam aliran kognitif adalah Koffka, Kohler, Wertheimer Piaget, Ausubel, Bruner dan Gagne.

            Teori belajar humanistik, memaknai proses belajar  dilakukan dengan memberikan kebebasan yang sebesar-besarnya kepada individu. Siswa diharapkan dapat mengambil keputusannya sendiri dan bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang dipilhnya. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam aliran humanistik adalah Kolb, Honey dan Mumford, Habermas, Vygotsky, Rogers.

            Teori belajar konstruktivistik memaknai belajar sebagai proses pembentukan (kontruksi) pengetahuan oleh siswa itu sendiri. Pengetahuan ada di dalam diri seseorang yang sedang mengetahui dan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru kepada siswa

            Teori Belajar Cybernetisme memandang otak manusia aktif memproses informasi, namun manusia aktif mencari bukan hanya pasif menerima. Peserta didik menangkap rangsangan melalui panca indranya, baik dalam bentuk obyek benda, data, maupun peristiwa kemudian memperhatikan atau mengabaikan, memilih sebagian atau menerima seluruhnya, dan membuat reaksi dengan membuat respons-respons.

 D.   DAFTAR PUSTAKA

Gredler, Margareth E., 2011, Learning And Instruction: Teori dan Aplikasi, terjemahan Tri Wibowo, B.S., Jakarta, Kencana.

Schunk, Dale H., 2012, Learning Theories, an Perspective 6th editions, Boston, Pearson Education, Inc.

Woolfolk, Anita, 2004, Educational Psychology, 9th editions, Boston, Pearson Education, Inc.

Miarso, Yusufhadi, 2009, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta, Kencana,.

Hergenhahn, B.R., dan Olson, Matthew H., 2008, Theory Of Learning, Jakarta, Kencana.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s