Kepemimpinan Efektif Dalam Organisasi Pembelajar

Kepemimpinan Efektif dalam Organisasi Belajar

Oleh: Zulrahmat Togala[1]

A. Pendahuluan

Masalah pendidikan di Indonesia sepertinya tidak pernah akan habis dibicarakan dan di bahas dalam berbagai kesempatan. Kita menyadari bahwa pendidikan merupakan kunci utama bagi bangsa yang ingin maju dan unggul dalam persaingan global. Namun berbagai upaya yang dilakukan pemerintah tidak juga memuaskan harapan kita akan kemajuan pendidikan untuk bersaing dengan Negara lain yang pengelolaan dan prestasi pendidikannya memang telah di akui dunia. Berdasarkan data dalam Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011: The Hidden Crisis, Armed Conflict and Education yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diluncurkan di New York, Senin (1/3/2011), indeks pembangunan pendidikan atau education development index (EDI) Indonesia berdasarkan data tahun 2008 berada pada posisi ke-69 dari 127 negara di dunia, Ditingkat Asia Tenggara Indonesia masih lebih baik dari, Laos, Kamboja Dan Filiphina.[2]

Masalah pendidikan di Indonesia ibarat benang kusut. Sistem Pendidikan kita sepertinya dikelola secara tidak terencana, masih hangat dalam ingatan kita kurikulum 2004, berubah lagi dengan kebijakan kuriklum 2006, dan di penghujung tahun  2013 ini pemerintah dengan mantera “Simsalabim, Abrakadabra”  kembali meluncurkan kurikulum 2013. Pertanyaan kemudian yang sedikit menganggu adalah “Apa yang salah dengan kurikulum 2004 dan 2006 ? ”, tidak pernah ada kajian yang komprehensif untuk mendeteksi dimana titik kelemahan system pendidikan kita, paling tidak untuk mengatasi kekurangan-kekurangan yang terjadi, sekaligus mencarikan solusi penyelesaiannya.

B. Permasalahan

Pendidikan perlu memiliki modal intelektual yang kuat agar mampu terus menerus belajar secara cepat dan tepat,[3] agar keputusan yang di hasilkan dapat bermanfaat bagi kemajuan dunia pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu kepemimpinan yang efektif sangat dibutuhkan bila suatu organisasi pendidikan ingin sukses dalam mencapai tujuan. Tanpa kepemimpinan yang kuat, masing-masing individu dalam penyelenggaraan organisasi pendidikan akan berjalan mengikuti ambisi dan tujuan pribadi masing-masing tanpa memperhatikan pencapaian tujuan organisasi, karenanya kepemimpinan efektif sangat diperlukan untuk memberikan pengarahan dan bimbingan terhadap individu sehingga diharapkan tujuan dari organisasi dapat dicapai dengan baik. Permasalahan sekarang adalah bagaimana menciptakan kepemimpinan pendidikan yang efektif ?

C. Pembahasan

Perbaikan mutu pendidikan sesungguhnya tergantung pada kualitas sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya dan pengelolaan organisasi di mana seluruh stake holder pendidikan dapat mengalaminya sebagai bagian dari kehidupannya sehari-hari. Satu hal yang penting untuk di garis bawahi bahwa dalam kehidupan organisasi dan manajemen dewasa ini adalah adanya trend yang mengarah pada perubahan. Perubahan tersebut  menyebabkan transformasi-transformasi dasar yang menuntut adanya perubahan dari paradigma organisasi tradisional ke paradigma baru. Organisasi yang menganut paradigma tradisional akan berjalan secara efektif dalam keadaan yang stabil, tetapi sering tidak bekerja dengan baik dalam lingkungan yang berubah cepat.[4] Tidak cukup dengan kepemimpinan yang efektif dan pengelolaan budaya organisasi yang sehat untuk dapat menjawab tantangan pendidikan yang semakin kompleks, maka dunia pendidikan perlu mengadopsi paradigma baru dalam organisasi yakni organisasi pembelajar. Dalam organisasi pembelajar, anggota organisasi tersebut terus menerus memperbesar kapasitasnya untuk menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, berpola pikir ekspansif dan terpelihara dengan baik, di mana aspirasi kolektif terwadahi, terus menerus belajar dan melihat secara bersama dan menyeluruh.[5]

  1. Kepemimpinan Efektif

Istilah kepemimpinan merujuk pada adanya kebutuhan suatu kelompok untuk memiliki orang yang dapat mengorganisasi aktivitas-aktivitas individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Achua dan Lussier mendefinisikan kepemimpinan sebagai “…the influencing process of leaders and followers to achieve organizational objectives through change.[6] Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi para pemimpin dan pengikut untuk mencapai tujuan organisasi melalui perubahan. Kepemimpinan merupakan hal terpenting dalam proses kerja sama diantara manusia dalam mencapai tujuannya. Secara universal pemimpin harus memiliki sifat yang sama, namun tidak ada kesepakatan yang sama antara para pakar mengenai ciri seorang pemimpin yang efektif, tetapi paling tidak ada beberapa ciri pemimpin efektif yang konsisten yang ada dalam diri setiap pemimpin yang membedakannya dengan orang lain, dan tidak semua pemimpin efektif memiliki sifat-sifat ini namun dapat dikembangkan dengan usaha yang serius.

Seorang pemimpin paling tidak memiliki: (a) Pengaruh yang besar terhadap orang lain, mereka harus bisa memiliki dominasi yang besar jika berada ditengah-tengah orang banyak. (b) Energik; memiliki stamina tinggi dan selalu berpikir positif untuk bekerja keras dalam mencapai tujuan dan mampu mentolerir tekanan yang dapat menyebabkan konsentrasi menjadi menurun., memiliki antusiasme dan tidak memiliki kata menyerah. (c) Percaya diri, menampilkan keyakinan diri tentang kemampuan mereka, kepercayaan terhadap orang lain, dan rasa hormat. Kepercayaan diri yang positif berkaitan dengan efektivitas dan merupakan prediktor untuk menjadi sukses. (d) Menguasai Keadaan; Seorang pemimpin harus memiliki control terhadap diri dan orang lain. Seorang pemimpin yakin bahwa mereka mengendalikan nasib orang lain dan bahwa perilaku mereka secara langsung mempengaruhi kinerja pengikut mereka. Pemimpin yang efektif cenderung berorientasi ke masa depan, menetapkan tujuan dan bagaimana cara mencapainya. (e) Stabilitas; Pemimpin yang stabil adalah pemimpin yang secara emosional dapat mengendalikan diri mereka, tidak mengeksploitasi kemarahan mereka yang bisa berakibat negatif. Penanganan emosi dapat membantu dalam melakukan pekerjaan. (f) Integritas; mengacu pada perilaku yang jujur dan etis, membuat seseorang dapat dipercaya. Integritas adalah kebalikan dari mencari kepentingan pribadi dengan mengorbankan orang lain.  (g) Kecerdasan; mengacu pada kemampuan kognitif untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Hal ini juga disebut sebagai kemampuan mental umum. (h) Emotional Intelligence; adalah kemampuan untuk bekerja dengan baik dengan orang-orang, dan EI sangat penting untuk hubungan yang sehat. (i) Keluwesan; mengacu pada kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang berbeda. (j) Sensitivitas terhadap Lainnya; mengacu pada pemahaman anggota kelompok sebagai individu, Pemimpin perlu memiliki dan menyampaikan ketertarikan pada orang lain.

  1. Organisasi Pembelajar

Menurut Garvin  dalam Wibawa, Organisasi pembelajar adalah organisasi yang mampu mencipta, mendapatkan, menafsirkan, mentransfer, dan mempertahankan pengetahuan, dan memodifikasi perilakunya sesuai tujuan yang direfleksikan pemahaman akan pengetahuan baru.[7]

Menurut Peter Senge ada lima disiplin (lima pilar) yang membuat suatu organisasi menjadi organisasi pembelajar.[8]

  • Personal  Mastery –  belajar  untuk  memperluas  kapasitas personal dalam mencapai hasil kerja yang paling diinginkan, dan menciptakan lingkungan organisasi yang menumbuhkan seluruh anggotanya  untuk mengembangkan  diri  mereka  menuju pencapaian sasaran dan makna bekerja sesuai dengan harapan yang mereka pilih.
  • Mental Models – proses bercermin, sinambung memperjelas, dan meningkatkan gambaran diri kita tentang dunia luar, dan melihat bagaimana mereka membentuk keputusan dan tindakan kita.
  • Shared  Vision –  membangun  rasa  komitmen  dalam  suatu kelompok, dengan mengembangkan gambaran bersama tentang masa depan yang akan diciptakan, prinsip dan praktek yang menuntun cara kita mencapai tujuan masa depan tersebut.
  • Team  Learning –  mentransformasikan  pembicaraan  dan keahlian berpikir (thinking skills), sehingga suatu kelompok  dapat secara sah mengembangkan otak dan kemampuan yang lebih besar dibanding ketika masing-masing anggota kelompok bekerja sendiri.
  • Systems  Thinking –  cara  pandang,  cara  berbahasa  untuk menggambarkan dan memahami kekuatan dan hubungan yang menentukan perilaku dari suatu sistem.   Faktor disiplin kelima ini membantu kita untuk melihat bagaimana mengubah system secara lebih efektif dan untuk mengambil tindakan yang lebih pas sesuai dengan proses interaksi antara komponen suatu system dengan lingkungan alamnya.
  1. Peran Pemimpin dalam Menciptakan Organisasi Belajar

Pemimpin memainkan peran kunci dalam mengembangkan budaya belajar. Para ahli setuju bahwa Knowledge management adalah kuncinya. Pengetahuan telah diidentifikasi sebagai salah satu sumber daya yang paling penting yang berkontribusi pada keunggulan kompetitif organisasi. Kinerja yang unggul dicapai ketika pengetahuan yang baru diperoleh, ditafsirkan dan diintegrasikan dengan pengetahuan yang ada dan diterapkan untuk memecahkan masalah.

Masalah yang terkait dengan upaya gagal untuk menciptakan budaya belajar sering dikaitkan dengan kepemimpinan yang buruk. Untuk menciptakan kepemimpinan berbasis pengetahuan, pemimpin ditantang untuk mengubah organisasi mereka menjadi sistem yang fleksibel yang mampu belajar dan beradaptasi. Menghapus keengganan dari beberapa anggota untuk berbagi informasi, meningkatkan tidak hanya proses belajar tetapi juga penciptaan dan pertukaran pengetahuan. Pemimpin dalam organisasi belajar menghadapi tantangan ganda untuk mempertahankan operasi yang efisien dan menciptakan sebuah organisasi adaptif pada waktu yang sama.[9]

Syarat seorang pemimpin yang kreatif untuk meningkatkan pembelajaran dan mengarah pada pengetahuan baru.

1. Mendorong Berpikir Kreatif

Meskipun kapasitas organisasi untuk menjadi lebih kreatif harus dimulai pada tingkat individu namun kreatifitas pada tingkat organisasi juga penting. Pada tingkat individu, para pemimpin dapat meningkatkan pembelajaran para anggota dan berusaha mendorong untuk Thinking Out Of the Box, dengan kata lain, pikirkan kemungkinan yang ada daripada menanggapi tantangan, anggota didorong untuk menciptakan masa depan sebagai budaya yang mendorong inovasi. Orang dengan ide radikal atau berbeda harus diberi ruang dalam sebuah organisasi pembelajaran, tidak harus dilihat sebagai sesuatu yang mengganggu atau merepotkan. Pada tingkat organisasi, kreativitas dipengaruhi oleh jenis gaya kepemimpinan, budaya, iklim, struktur, sumber daya, keahlian dan sistem yang memiliki oleh organisasi tersebut.

Pendekatan lain untuk meningkatkan berpikir kreatif adalah mendorong karyawan untuk meneliti dan belajar dari beberapa kompetitor terbaik dari organisasi yang lain. Proses ini, dikenal sebagai benchmarking. sebuah organisasi pembelajar harus memperbaiki praktek-praktek terbaik dari pesaing dan menciptakan inovasi dari hasil benchmarking.[10]

2. Menciptakan Iklim Eksperimentasi dan Inovasi

Pemimpin harus menciptakan budaya eksperimentasi dan inovasi. Semua orang diharapkan untuk menyumbangkan ide-ide, menunjukkan inisiatif, dan mengejar perbaikan terus-menerus. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah untuk menciptakan rasa urgensi dalam organisasi, sehingga orang melihat perubahan dan inovasi sebagai suatu kebutuhan.

3. Reward

Penggunaan insentif dan penghargaan merupakan alat yang ampuh yang dapat diterapkan pemimpin untuk mendorong pembelajaran dan inovasi. Pemimin sering dikritik karena berhasil melakukan kooordinasi dan manajerial dalam sebuah organisasi tetapi tidak mampu memberikan dukungan untuk memotivasi mereka. Penghargaan untuk ide-ide sukses dan inovatif harus diberikan. Penghargaan dan insentif memperkuat belajar yang positif dan inovatif dalam organisasi.

4. Membangun Keyakinan untuk Belajar dan Beradaptasi

Lingkungan dalam budaya kerja yag menerapkan konsep organisasi pembelajaran adalah salah satunya adalah perubahan yang cepat dalam lingkungan kerja itu sendiri. Memberikan kesempatan bagi karyawan untuk memecahkan masalah dalam kelompok atau unit akan meningkatkan kepercayaan dan kebanggaan diri mereka. Setiap keberhasilan akan memberikan keyakinan yang lebih besar dalam menghadapi perubahan.

5. Mendorong Berpikir Sistem

Untuk meningkatkan pembelajaran, pemimpin harus membantu karyawan menganggap organisasi sebagai suatu sistem di mana setiap orang bekerja mempengaruhi kerja orang lain. Oleh karena itu, setiap orang dalam organisasi mempertimbangkan bagaimana tindakan mereka mempengaruhi unsur-unsur lain dari organisasi.

6. Menciptakan Budaya Belajar Individu dan Tim

Pemimpin harus menciptakan budaya di mana setiap orang dihargai, dan organisasi mempromosikan dan mendukung orang untuk mengembangkan potensi mereka. Aspek lain dari menciptakan budaya yang kondusif untuk belajar adalah konsep keanekaragaman tim. Pemimpin harus memastikan bahwa keragaman hadir dalam tim mereka. Sebuah kelompok yang beragam akan meningkatkan pembelajaran karena anggotanya terdiri dari berbagai bidang keahlian yang bergabung untuk menghasilkan wawasan atau pengetahuan baru.

7. Preserving Knowledge untuk Ide Kreatif dan Inovatif.

Kelahiran ide baru atau pengetahuan dimulai dengan individu. Membuat pengetahuan pribadi tersedia untuk orang lain adalah kegiatan utama dala menciptakan organisasi pengetahuan. Pengetahuan yang dibagi dapat membantu karyawan dengan masalah yang sulit atau memberikan kesempatan bagi karyawan dari berbagai bagian dari organisasi untuk berinteraksi satu sama lain, mendapatkan nasihat dan memberikan dukungan tentang masalah umum. Ide yang dihasilkan dalam atau di luar organisasi dapat menjadi sumber produk baru atau inovasi.

8. Buat Visi Bersama untuk Belajar.

Menciptakan visi bersama meningkatkan pembelajaran sebagai anggota organisasi mengembangkan tujuan dan komitmen bersama untuk membuat belajar merupakan bagian berkelanjutan dari organisasi. Jika karyawan semua percaya bahwa organisasi tersebut sedang bergerak menuju kebesaran, mereka akan termotivasi untuk menjadi bagian dari itu dengan belajar dan menyumbangkan ide-ide dan solusi terbaik mereka.

9. Memperluas Wawasan Masa Depan.

Untuk meningkatkan kemampuan karyawan dalam belajar, akan sangat membantu bagi para pemimpin untuk memperluas wawasan karyawan dalam melihat organisasi dan lingkungan eksternal. Belajar dibatasi ketika para pemimpin dan pengikut mereka gagal untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda dan karena itu tidak dapat membantu organisasi beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Wawasan karyawan yang luas akan memberikan beberapa perspektif dan berbagai pendekatan untuk memecahkan masalah dan memfasilitasi pembelajaran dan perbaikan terus-menerus.

10. Belajar dari Kesalahan.

Dari beberapa penelitian yang dilkaukan bahwa banyak organisasi ketika menemui kegagalan kecenderungannya adalah segera meninggalkan kegiatan dan menghindari konsekuensi negatif.[11] Seorang pemimpin harus menyadari bahwa pembelajaran berlangsung dari hal-hal yang salah dari pada dari hal-hal yang benar. Oleh karena itu, untuk mendorong pembelajaran, pemimpin harus mengkomunikasikan pandangan bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan yang tertunda. Kemudian, memberikan kesempatan memperbaiki untuk menciptakan kesuksesan.

Dalam organisasi yang menganut konsep organisasi pembelajar, pemimpin harus mengkomunikasikan pesan bahwa belajar dan peningkatan terus menerus merupakan keharusan dalam lingkungan yang sangat dinamis saat ini. Pemimpin harus memimpin dalam menantang status quo dan menciptakan kondisi organisasi yang kondusif untuk belajar dan berinovasi secara berkelanjutan.

D. Kesimpulan

Permasalahan utama dalam penyelenggaraan System Pendidikan Nasional adalah tingkat pencapaian kualitas hasil pendidikan yang masih rendah, diantara sekian banyak faktor yang mempengaruhi adalah kurang kepemimpinan yang efektif yang bisa mengelola organisasi disetiap unit pengelola pendidikan yang tantanganya begitu kompleks.

Pengelolaan pendidikan yang cenderung tradisional juga merupakan kendala yang sangat jelas kelihatan dibeberapa penyelenggaraan pendidikan baik ditingkat pusat maupun ditingkat daerah. Hal ini menyebabkan tidak berjalannya organisasi sebagai suatu system dalam sebuah organisasi dalam mencapai tujuannya. Dalam menghadapi persaingan global yang demikian pesat dan cendrung berubah, maka transformasi dari paradigma penyelenggaraan organisasi tradisional kearah paradigma baru yang menuntut anggota organisasi tersebut terus menerus memperbesar kapasitasnya untuk menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, berpola pikir ekspansif dan terpelihara dengan baik, di mana aspirasi kolektif terwadahi, terus menerus belajar dan melihat secara bersama dan menyeluruh.

Sinergi antara kepemimpinan efektif dan pengelolaan organisasi yang modern diharapkan akan mengubah pola pikir dan perilaku kerja yang mampu mencipta, mendapatkan, menafsirkan, mentransfer, dan mempertahankan pengetahuan, dan memodifikasi perilakunya sesuai tujuan yang direfleksikan pemahaman akan pengetahuan baru.

E. Daftar Pustaka

Andreas Budihardjo, Organisasi:Menuju Pencapaian Kinerja Optimum, Prasetya Mulya, Jakarta, 2011.

Basuki Wibawa, Makalah:Teknologi Kinerja,  Konsep dan Implementasinya di Organisasi dan Masyarakat Belajar, disampaikan dalam Seminar Nasional Teknologi Pendidikan, Jakarta, 2011.

Christopher A. Achua and Robert N. Lussier, Effective Leadership 4th Editions, South Western, Ohio, 2010.

Iskandar Agung, Strategi Mengembangkan Organisasi Pembelajar di Sekolah, Bee Media, Jakarta, 2012.

Senge, Peter. M., The Fifth Discipline: the art and practice of the learning organization, A Currency Paperback, New York, 1994.

http://edukasi.kompas.com. Diakses tanggal, 3 Desember 2013


[1] Mahasiswa Program Doktor Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta.

[2] http://edukasi.kompas.com. Diakses tanggal, 3 Desember 2013.

[3] Andreas Budihardjo, Organisasi:Menuju Pencapaian Kinerja Optimum, Prasetya Mulya, Jakarta, 2011, h. 53.

[4] Iskandar Agung, Strategi Mengembangkan Organisasi Pembelajar di Sekolah, Bee Media, Jakarta, 2012, h.48.

[5] Basuki Wibawa, Makalah:Teknologi Kinerja,  Konsep dan Implementasinya di Organisasi dan Masyarakat Belajar, disampaikan dalam Seminar Nasional Teknologi Pendidikan, Jakarta, 2011.,

[6] Christopher A. Achua and Robert N. Lussier, Effective Leadership 4th Editions, South Western, Ohio, 2010, p. 6.

[7]  Basuki Wibawa, (Op. Cit. 2011)

[8] Peter M. Senge, The Fifth Discipline: the art and practice of the learning organization,  A Currency Paperback, New York, 1994, p. 10-12.

[9] Achua, C. A. and Lussier, R.N., Op. Cit. p. 419.

[10] ibid. p. 420).

[11] Achua , C. A. and Lussier, R.N., op.cit.  p. 422.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s