Kepemimpinan Organisasi Belajar dan Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran

Oleh: Zulrahmat Togala

A.   Pendahuluan

Perkembangan teknologi telah menguasai hampir setiap bidang kehidupan manusia, Tidak terkecuali dengan dunia pendidikan juga telah bergerak serius dalam menghadapi tantangan di era informasi. Salah satu bentuk implementasinya di antaranya adalah restrukturisasi proses pembelajaran untuk merefleksikan pemanfaatan teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam restrukturisasi ini peran guru dirubah dari penyaji, menjadi fasilitator suatu pembelajaran yang aktif, menjadi ahli media dan sebagai kolaborator dalam perencanaan kurikulum untuk pemanfaatan sumber-sumber informasi yang efektif.

Perkembangan pesat Information and Communication Technology (ICT) menawarkan sebuah peluang sekaligus menyuguhkan tantangan bagi praktisi pendidikan untuk memanfaatkan teknologi tersebut dalam pendidikan. Seiring dengan semakin bagusnya infrastruktur di sebuah institusi pendidikan. Satu hal yang merupakan dukungan kuat perlunya dikembangkan sebuah inovasi langkah yang mengintegrasikan teknologi dalam pendidikan adalah: 1) Menggunakan ICT untuk mengkreasi atau mempresentasikan sebuah konteks untuk menarik perhatian 2. Menggunakan ICT untuk memfasilitasi transmisi informasi dan pemahaman. 3. Menggunakan ICT untuk mempresentasikan praktik dan latihan dan memfasilitasi transfer informasi dan pengetahuan. 4. Menggunakan ICT untuk membantu penilaian, dan 5. Membantub melaksanakan kegiatan administrative dan layanan lainnya.

B.   Permasalahan

Sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik individu yang mampu secara efektif menggunakan teknologi. Kebijakan pemimpin pendidikan diperlukan untuk memastikan teknologi dapat diintegrasikan ke dalam proses belajar-mengajar. Agar dapat diterima oleh seluruh stake holder Apa yang harus dilakaukan oleh seorang pemimpin dalam mengintegrasikan teknologi dalam pendidikan ?, Apa saja yang menjadi manfaat integrasi teknologi dalam Organisasi pembelajar? Pertanyaan ini perlu dicarikan jawabannya, agar pemahaman kebermanfaatan teknologi dalam organisasi belajar menjadi lebih kuat.

C.   Pembahasan

1.    Integrasi Teknologi dan Organisasi Belajar.

Konsep “organisasi pembelajaran” dalam lembaga pendidikan digambarkan, sebagai organisasi yang menuntut individu dengan kesempatan yang berkelanjutan untuk mengembangkan pribadi dalam rangka mencapai tujuan mereka, mendukung metode baru pendidikan dan pemikiran yang mempromosikan pengembangan individu, dan menerapkan strategi kooperatif dalam pembelajaran. Senge (1990) mengidentifikasi lima elemen dasar dari sebuah organisasi belajar, yaitu, ‘Sistem Berpikir’, ‘Penguasaan Pribadi’, ‘Mental Model’, ‘Building Visi bersama’ dan ‘Tim Learning’.

Peter Senge (1990), mengemukakan bahwa organisasi pembelajar adalah organisasi-organisasi di mana orang mengembangkan kapasitas mereka secara terus-menerus untuk menciptakan hasil yang mereka inginkan, di mana pola pikir yang luas dan baru dipelihara, di mana aspirasi kolektif dipoles, di mana orang-orang belajar tanpa henti untuk melihat segala hal secara bersama-sama. Sedangkan Marquardt (1996) mendefinisikan organisasi belajar sebagai organisasi yang anggotanya memiliki kemampuan belajar yang tinggi dan dilakukan secara bersama-sama untuk memperbaiki performansinya secara berkelanjutan, dilakukan melalui pengumpulan, pengelolaan dan penggunaan pengetahuan untuk kemajuan dan kesuksesan organisasi. Marquardt menambahkan, organisasi akan dapat menjadi “organisasi pembelajar” hanya dengan membelajarkan individu-individu di dalamnya dengan memberdayakan aspek pembelajaran, organisasi, manusia, pengetahuan dan teknologi.

Demikian halnya dengan Garvin (2000) dalam Budiharjo (2011), mengemukakan bahwa “Learning Organization is an organization skilled at creating, acquiring, interpreting, transferring, and retaining knowledge and at purposefully modifying its behavior to reflect new knowledge, and insight”. (Organisasi belajar adalah organisasi yang terampil menciptakan, memperoleh, menafsirkan, mentransfer, dan mempertahankan pengetahuan dan senantiasa memodifikasi perilaku dan merefleksikan menjadi pengetahuan dan wawasan baru).

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa organisasi belajar adalah organisasi yang senantiasa mengembangkan kapasitas individu, kelompok maupun organisasi melalui belajar berkelanjutan dengan mencipta, memperoleh, memodifikasi, mentransfer, serta mempertahankan pengetahuan dan teknologi menjadi bermanfaat untuk tujuan organisasi.

Definisi di atas juga menggambarkan ciri-ciri dari organisasi belajar yakni: (1) Adanya komitmen individu, kelompok dan organisasi untuk melakukan perubahan secara dinamis, kompetitif dan kolaboratif yang ditunjang oleh kondisi lingkungan baik internal maupun eksternal yanag kondusif, (2) Adanya dinamika  kreativitas dan inovasi dari setiap individu,  kelompok  dan organisasi, (3) Transformasi organisasi termasuk visi, budaya, strategi, (4) Adanya pemberdayaan sumber daya manusia dan teknologi, (5) Adanya manajemen    pengetahuan yang menjamin pemerolehan, penciptaan, penyimpanan dan pengambilan kembali pengetahuan untuk dimanfaatkan di masa sekarang maupun akan datang, (6) Adanya kesadaran dari anggota organisasi tentang pentingnya belajar berkelanjutan, dan (7) Memanfaatkan teknologi dalam menunjang aktifitas organisasi.

Menurut Peter senge, organisasi belajar sebagai suatu disiplin mengembangkan potensi para anggota organisasi yang dikenal dengan The Fifth Dicipline sebagai berikut:  Berpikir Sistem (Systems Thinking) : adalah suatu kerangka kerja konseptual, untuk membuat pola yang lebih jelas, dan untuk membantu kita melihat bagaimana mengubah hal-hal secara efektif dan dengan paling sedikit upaya untuk mencari tingkatan jarak dalam system. System thinking dianggap sebagai aspek penting dalam organisasi pembelajaran sebagai cara baru individu-individu memandang dirinya sendiri dan dunia mereka. Penguasaan Pribadi (Personal Mastery): Setiap orang harus mempunyai komitmen untuk belajar sepanjang hayat dan mengembangkan potensinya secara optimal. Pola Mental (Mental Models): Setiap orang mempunyai pola mental tentang bagaimana ia memandang dunia di sekitarnya dan bertindak atas dasar apa yang dilihatnya. Visi Bersama (Shared Vision): Organisasi yang berhasil berusaha mempersatukan orang-orang berdasarkan identitas dan perasaan yang sama yang dijabarkan dalam suatu visi yang dimiliki bersama. Belajar Beregu (Team Learning): Bekerja denga sistim regu (team work ) jauh lebih berarti daripada bekerja secara perorangan dari masing-masing anggotanya. Jika Peter Senge mengemukakan lima disiplin belajar dalam organisasi pembelajar, maka Marquardt (1996) mengemukakan model sistem organisasi belajar yakni: Sub-sistem belajar terdiri atas: 1) tingkat yang meliputi; individu, grup/kelompok, dan organisasi, 2) jenis belajar yang terdiri atas adaptif, antisipatori, deuteron, dan tindakan, 3) keterampilan belajar yang meliputi sistem berpikir, model mental, penguasaan perorangan, belajar beregu, visi bersama dan dialog. Sub-sistem organisasi terdiri dari: visi, budaya, struktur, dan strategi organisasi. Sub-sistem orang terdiri: manager/pemimpin, karyawan, pelanggan, rekan usaha, dan masyarakat. Sub-sistem pengetahuan meliputi akuisisi (data dan informasi yang diperoleh dari dalam dan luar organisasi), kreasi ( pengetahuan baru yang diciptakan), simpanan (pengetahuan yang mudah diperoleh anggota organisasi), transfer dan penggunaan (pengalihan informasi dan pengetahuan antar individu serta penggunaannya dalam organisasi). Dan sub-sistem teknologi terdiri dari unsur-unsur teknologi informasi, belajar berbasis teknologi dan sistem pendukung kinerja elektronik. Tidak ada penekanan kepada salah satu sistem dan subsistem tersebut sebagai suatu hal yang penting tetapi semua unsur tersebut penting dan merupakan satu kesatuan yang sistemik, jika terdapat satu subsistem yang tidak berjalan, maka akan menghambat pergerakan dari subsistem lainnya.

Selain itu, perlu juga diperhatikan hambatan dalam proses belajar. Hambatan dalam proses belajar bisa datang dari individu maupun organisasi. Dalam konteks individu hambatan belajar terjadi karena: 1) pengetahuan individu tersebut tersimpan sendiri, 2) individu yang memiliki pengetahuan tersebut tidak ingin berbagi, 3) individu-individu dalam organisasi tidak menyadari manfaat belajar, dan 4) individu-individu dalam organisasi tidak memiliki waktu yang cukup untuk belajar. Sedangkan dalam konteks organisasi, hambatan belajar dapat terjadi karena: 1) kurangnya dukungan dari manajemen organisasi; tidak ada komitmen unrtuk melakukan perubahan, 2) budaya organisasi tidak kondusif; tidak ada saling percaya, kedisiplinan rendah, 3) menganggap belajar tidak menjadi bagian dari cara kerja organisasi keseluruhan.

Meskipun pandangan tentang organisasi belajar, oleh Peter Senge dan Marquardt dirumuskan berbeda, namun ada beberapa persamaan secara substansial tentang organisasi belajar: pertama, bahwa setiap organisasi belajar harus mampu beradaptasi dengan lingkungan . Kedua. bahwa setiap individu memiliki potensi atau kemampuan untuk melakukan kegiatan belajar secara terus menerus untuk kepentingan pencapaian tujuan organisasi. Organisasi yang belajar akan mampu beradaptasi lebih cepat dan dapat mencapai keunggulan dalam dunia global. Organisasi pembelajaran mampu memanfaatkan kompetensi kolektif individu, kelompok, dan organisasi untuk meningkatkan status organisasi, teknologi, manajemen pengetahuan, dan pemberdayaan masyarakat. Perkembangan pesat teknologi menawarkan peluang sekaligus tantangan bagi praktisi pendidikan – termasuk kepala sekolah dan guru – untuk memanfaatkan teknologi tersebut dalam pembelajaran. Seiring dengan tersedianya infrastruktur teknologi komputer, seluruh stakeholder bisa mengintegrasikannya untuk meningkatkan performa organisasi secara keseluruhan.

2.    Pemimpin Teknologi dalam Organisasi Belajar Pendidikan

Menurut Fullan (2007), seorang pemimpin sekolah yang efektif harus memiliki karakteristik pemahaman tentang perubahan, keterbukaan terhadap inovasi dan kemauan untuk mendorong belajar dan mengajar. Tidak hanya harus pemimpin mengharapkan guru dan siswa untuk menggunakan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar mereka, sebagai pemimpin dalam inovasi, pemimpin juga harus mengikuti perkembangan teknologi dan memanfaatkan sendiri. Dengan kata lain, pemimpin teknologi harus menjadi model penggunaan teknologi bagi guru dan siswa lainnya.

Menuirut Gibson (1997) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi kegiatan pengikut melalui proses komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan Nanus & Dobbs (1999) mengemukakan bahwa sebagai agen perubahan pemimpin memiliki fungsi, menciptakan iklim kewirausahaan, mengembangkan aliansi strategis. mendefinisikan realitas, untuk mengarahkan semua orang ke dalam tindakan nyata, fokus terhadap perubahan, dan membuat keputusan yang tepat.

Achua dan Lussier (2010) mendefinisikan kepemimpinan sebagai “…the influencing process of leaders and followers to achieve organizational objectives through change.  Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi para pemimpin dan pengikut untuk mencapai tujuan organisasi melalui perubahan. Kepemimpinan merupakan hal terpenting dalam proses kerja sama diantara manusia dalam mencapai tujuannya. Dan Tim Simkins (2005) Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan mengembangkan dan mengeksplorasi penyelesaian masalah dari berbagai perspektif.

Berdasarkan konsep kepemimpinan di atas dapat di simpulkan bahwa kepemimpinan adalah aktivitas/kegiatan atasan dalam mempengaruhi dan menggerakkan orang lain secara bersama-sama melalui perubahan untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu pimpinan dalam satuan pendidikan memiliki dua peran yang sangat penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Pertama, sebagai pengelola pendidikan di satuannya, Ia memiliki tangungjawab terhadap keberhasilan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran dengan cara melaksanakan administrasi sekolah dengan seluruh substansinya dan mengelola kualitas sumber daya manusia yang ada agar mampu menjalankan tugas pendidikan yang dibebankan kepadanya. Kedua, sebagai pemimpin formal, Ia bertanggungjawab atas tercapainya tujuan pendidikan dengan kemampuannya melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun penciptaan iklim dan budaya yang kondusif bagi terlaksananya proses pembelajaran yang efektif, efisien dan produktif.

Abad ke 21 menuntut paradigma baru tentang kepemimpinan. Warren Bennis (Shelton 1997) dalam Sitepu berpendapat, pemimpin dalam generasi ini perlu membuat inovasi, melakukan terobosan-terobosan pengembangan, memberikan inspirasi dan memperluas pandangan ke depan. Tugas pemimpin tidak lagi hanya sebatas merumuskan visi, membuat keputusan strategis, serta mengarahkan semua sumber daya untuk mewujudkan visi itu atau memberikan perintah lalu mengawasinya. Dewasa ini tantangan pemimpin adalah mentransformasikan hirarki birokrasi dan memberdayakan setiap anggota sehingga kreatif serta inovatif melalui belajar sepanjang hayat. Dalam konteks ini memberdayakan mengandung makna menyediakan lebih banyak informasi dan teknologi, mendorong terjadinya kolaborasi untuk bersama-sama memecahkan masalah, dan melakukan desentralisasi  sumber daya sehingga tersedia dan dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah-masalah setempat. Pemberdayaan yang demikian akan berfungsi dengan baik serta berhasil apabila pemimpin memberikan kepercayaan kepada orang-orang dalam organisasi dan melonggarkan pengawasan dan penilaian yang ketat atas kinerja mereka. Kepercayaan yang diberikan oleh pemimpin akan memotivasi mereka mengawasi dan mengendalikan dirinya sendiri serta menilai kinerjanya secara bertanggung jawab. Melalui pemberdayaan yang demikian akan memunculkan  rasa kepemilikan (sense of belonging/ownership) setiap anggota tehadap organisasinaya.

Teknologi informasi memungkinkan pemimpin mengorganisasi bawahannya melalui proses transformasi dalam lingkungan yang kompetitif secara global. Demikian pula manfaat integrasi teknologi bagi pembelajaran khususnya bagi guru. Teknologi pembelajaran semakin bermutu. Senada dengan Bruce Sheppard (2003) mengemukakan bahwa kepemimpinan sekolah yang inovatif memiliki ketergantungan yang besar terhadap penggunaan teknologi informasi. Dengan integrasi teknologi pembelajaran dapat tersedia sesuai kebutuhan dan tepat waktu, dengan teknologi bisa menjelaskan konsep yang abstrak menjadi jelas. Manfaat lain integrasi teknologi dalam pembelajaran ketika instruktur dan sumber pelatihan berada pada jarak tertentu dari peserta didik. Belajar melalui teknologi memungkinkan akses ke sejumlah wilayah secara geografis.

Hasil penelitian Cakir (2012) menjelaskan bahwa sikap pemimpin terhadap integrasi teknologi dalam pendidikan sangat positif, mereka menginginkan integrasi teknologi digunakan secara luas dalam program pendidikan. Disisi lain, pemimpin tidak memiliki kekhawatiran jika integrasi teknologi akan mengambil peran manusia. Pada wawancara dengan pemimpin menunjukkan bahwa mereka setuju dengan integrasi teknologi. Sedangkan yang bertanggung jawab untuk menyebarluaskan  adalah semua stakeholder utamanya guru komputer. Pemimpin selanjutnya melakukan kerjasama dengan guru yang memiliki pengetahuan tentang teknologi computer mengambil keputusan menyelenggarakan pelatihan agar pengetahuan tentang pemanfatan teknologi dalam pembelajaran juga menjadi keahlian semua guru yang ada, tidak hanya di kuasai oleh guru tertentu saja.

Penelitian ini menyoroti dua dari lima prinsip dasar organisasi pembelajaran, yaitu, ‘membangun visi bersama’ dan ‘tim belajar’ (Senge, 1990). Menurut Senge, berpartisipasi dalam ‘tim kerja’, mengidentifikasi visi bersama, dan berbagi informasi melalui diskusi kelompok menyebabkan self-development. Tidak hanya organisasi belajar membuat belajar lebih mudah untuk semua anggota, proses pembelajaran tim sangat penting, mengingat bahwa itu adalah tim, bukan individu yang merupakan unit dasar pembelajaran dalam organisasi modern, dengan kata lain, jika tim tidak belajar, organisasi tidak belajar. Selain itu, temuan penelitian ini menekankan peran penting pemimpin dan guru komputer dalam penyebaran teknologi. Karena peran mereka sebagai pemimpin dalam integrasi teknologi secara efektif, diawasi oleh siswa dan guru lain di sekolah yang dapat menjadi role model jika diperlukan.

3.    Teknologi untuk Membangun  Organisasi Belajar

Brian Quinn (1992) dalam Marquardt (1996), mengemukakan bahwa teknologi adalah alat yang paling penting untuk mengelola pengetahuan organisasi. Efektifitas penggunaan teknologi membutuhkan pemahaman tidak hanya teknologi informasi dan ilmu komputer tetapi juga seni dan ilmu pembelajaran, penemuan, dan komunikasi. Organisasi yang tahu bagaimana memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kapasitas belajar mereka memiliki keunggulan kompetitif memutuskan untuk segera meningalkan kebiasaan yang lama dengan mengacu pada teknologi moderen.

Teknologi sebagai subsistem dari Sistem Pembelajaran Model Organisasi terdiri dari pendukung, jaringan teknologi yang terintegrasi dan alat-alat informasi yang memungkinkan akses dan pertukaran informasi dan pembelajaran. Hal Ini termasuk proses teknis, sistem, dan struktur untuk kolaborasi, pembinaan, koordinasi, dan keterampilan pengetahuan lainnya. Tidak hanya itu tetapi juga terdiri dar alat elektronik dan metode canggih seperti komputer untuk konferensi, simulasi, dan kolaborasi antara kompuyer pendukung. Semua elemen ini bekerja untuk kepentingan pemanfaatan pengetahuan dalam organisasi.

Ada dua dimensi yang menjadi kunci utama mengapa teknologi mendukung organisasi pembelajar sebuah organisasi: 1)  Teknologi digunakan untuk mengelola pengetahuan: teknologi berbasis komputer untuk mengumpulkan, mengkode, pengolahan, penyimpanan, mentransfer dan menerapkan data antar mesin, orang, dan organisasi, dan 2) Teknologi untuk meningkatkan kecepatan dan kualitas pembelajaran: Video, audio, dan pelatihan berbasis komputer multimedia untuk memberikan dan berbagi pengetahuan dan keterampilan di mana saja, kapan saja.

Teknologi informasi menyajikan organisasi dengan peluang strategis baru untuk belajar di seluruh perusahaan. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mengotomatisasi, mendidik, dan ransform sendiri. Teknologi informasi memungkinkan redistribusi kekuasaan, fungsi, dan kontrol ke lokasi di mana mereka akan paling efektif. Produksi, koordinasi, dan manajemen dapat dicapai lebih efisien dan menyeluruh. Dengan teknologi dapat meningkatkan komunikasi dengan meniadakan batas-batas dalam organisasi dan meningkatkan berbagai kemungkinan hubungan yang baik antara individu. Hal ini memungkinkan komunikasi lebih mudah langsung melintasi ruang dan waktu. Teknologi mengurangi jumlah tingkat manajemen yang diperlukan dalam struktur organisasi.

D.   Kesimpulan

  • Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi mengharuskan adanya integrasi yang menyeluruh bagi semua stake holder dunia pendidikan untuk dapat mengakuisisi manfaat dari teknologi ke dalam kegiatan pembeljaaran.
  • Organisasi belajar adalah organisasi yang senantiasa mengembangkan kapasitas individu, kelompok maupun organisasi melalui belajar berkelanjutan dengan mencipta, memperoleh, memodifikasi, mentransfer, serta mempertahankan pengetahuan dan teknologi menjadi bermanfaat untuk tujuan pembeljaran secara keseluruhan.
  • Pemimpin pendidikan yang menerapkan Organisasi Belajar dan mengintegrasikan teknologi ke dalam organisasinya harus menyadari bahwa pertama, sebagai pengelola pendidikan di satuannya, Ia memiliki tangungjawab terhadap keberhasilan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran dengan cara melaksanakan administrasi sekolah dengan seluruh substansinya dan mengelola kualitas sumber daya manusia yang ada agar mampu menjalankan tugas pendidikan yang dibebankan kepadanya. kedua, sebagai pemimpin formal, Ia bertanggungjawab atas tercapainya tujuan pendidikan dengan kemampuannya melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun penciptaan iklim dan budaya yang kondusif bagi terlaksananya proses pembelajaran yang efektif, efisien dan produktif.
  • Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Individu, kelompok, dan organisasi yang menerapkan manajemen organisasi pembelajar memiliki antusiasme tinggi terhadap pemanfaatan teknologi dilingkungan kerja mereka
  • Dimensi yang menjadi kunci utama mengapa teknologi mendukung organisasi pembelajar dalam dunia pendidikan karena teknologi dapat mengumpulkan, mengkode, pengolahan, penyimpanan, mentransfer dan menerapkannya kembali kapanpun diperlukan pada orang dan organisasi, kemudian dapat meningkatkan kecepatan dan kualitas pembelajaran melalui Video, audio, dan pelatihan berbasis komputer multimedia untuk memberikan dan berbagi pengetahuan dan keterampilan di mana saja, kapan saja.

E.   Daftar Pustaka

Achua, Christopher A. and Lussier, Robert N., Effective Leadership 4th Editions, South Western, Ohio, 2010.

Budihardjo, Andreas., 2011, Organisasi: Menuju Pencapaian Kinerja Optimum, Prasetya Mulya Publishing, Jakarta.

Cakir, Recep, 2012, Technology Integration and Technology Leadership in Schools as Learning Organizations, TOJET: The Turkish Online Journal of Educational Technology – October 2012, volume 11 Issue 4, tersedia di http://www.tojet.net/articles/v11i4/11427.pdf, diakses tanggal, 18 Mei 2013.

Fullan, M. 2007. Educational leadership. John Wiley & Sons, Inc.: San Fransisco.

Gibson, et,. al., 1997,  Organizations: Behavior, Structure, Processes, 14th  Editions, McGRaw – Hill Companies, New York.

Marquardt. M. J, 1996, Building The Learning Organizations: A System Approach to Quantum Improvement and Global Success. New York: McGraw-Hill Companies Inc.

Nanus, Burt and Dobbs, Stephen M., 1999, Leaders Who Make a Difference: Essential Strategies for Meeting The Non-profit Challenge. Jossey-Bass Inc. Publisher, San Fransisco.

Peter M. Senge, 1990, The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization Terjemahan: Nunuk Adiarni, Editor : Lyndon Saputra, Bina Rupa Aksara, Jakarta.

Shelton, Ken., Ed. 1997, A New Paradigm Of Leadership: Vision, of Excellence for 21st Century Organizations. Executive Excellence Publishing, Utah.

Sheppard, Bruce, Leadership, Organizational Learning, and the Successful Integration of Information and Communication Technology in Teaching and Learning, International Electronic journal For leadership in Learning Volume 7 Tahun 2003,  tersedia di http://iejll.synergiesprairies.ca/ iejll/index.php/ijll/article/ viewFile/429/91, di akses tanggal, 11 Juni 2013.

Simkins, Tim., 2005: Leadership in Education ‘What Works’ or ‘What Makes Sense’?, Journal Educational Management Administration & Leadership, SAGE Publications, London. Tersedia: http://www.ioe.stir.ac.uk/documents/MTEP16Reader-Simkins.pdf Diakses tanggal 5 Juni 2013.

Sitepu, B.P. 2010, Memimpin Organisasi Belajar, Tersedia di http:// bintangsitepu.wordpress.com/2010/07/02/memimpin-organisasi-belajar.  Diakses tanggal 10 Mei 2013.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s