Pendekatan Saintifik, Berpikir Divergen, dan Interaksi Guru – Siswa dalam Pross Pembelajaran

Oleh: Zulrahmat Togala

Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk menggali hubungan konseptual pendekatan pembelajaran saintifik, kemampuan berpikir divergen, dan pentingnya interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.  Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang merangkul pengalaman belajar tanpa batas serta bagaimana gagasan dan emosi berinteraksi dengan suasana kelas yang juga terus berubah.  Pembelajaran adalah proses yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti sifat-sifat individu, kemampuan guru, bahan ajar dan kualitas interaksi antara guru dan siswa. Pendekatan pembelajaran saintifik dapat mengantar mental siswa secara aktif melakukan kegiatan mengamati fenomena dan fakta, bertanya, menjelaskan, memberi komentar, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, dan sejumlah kegiatan mental lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut membutuhkan pola berpikir divergen dimana seseorang mampu merespon dan mengolah informasi yang diterimanya untuk menghasilkan berbagai solusi jawaban dalam menyelesaikan suatu masalah.  Pada akhirnya kegiatan pembelajaran akan semakin bermakna jika interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran lebih optimal.

Kata kunci: pendekatan saintifik, berpikir divergen, interaksi belajar

PENDAHULUAN

            Banyak praktek pembelajaran yang dilakukan guru dewasa ini tidak membiasakan siswa untuk mendapatkan sendiri pengetahannya, proses komunikasi hanya terjadi satu arah saja yaitu dari guru ke siswa, guru mengangap bahwa siswa adalah sebuah ember kosong yang harus diisi dengan sesuatu yang penting yakni materi pembelajaran yang sudah terencana sejak awal, bagi guru penguasaan materi lebih penting dari pada mengembangkan kemampuan berpikir. Dampak dari kondisi pembelajaran yang seperti ini menyebabkan siswa tidak memiliki minat dan motivasi dalam belajar, pembelajaran membosankan, kreativitas mereka terbelenggu, mereka tidak dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran, dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka.

            Pada  dasarnya pendidikan adalah  bagaimana membangun gagasan dan emosi manusia secara terus-menerus, yang berimplikasi pada perubahan kesadaran manusia yang juga berlangsung tanpa henti sehingga menyebabkan terciptanya karakter khusus bagi proses pendidikan.  Joyce, Weil, dan Calhoun (2011: 6-7) mengemukakan bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang merangkul pengalaman belajar tanpa batas tentang bagaimana gagasan dan emosi berinteraksi dengan suasana kelas dan bagaimana keduanya dapat berubah sesuai dengan suasana kelas yang juga terus berubah. Cara guru menerapkan suatu pembelajaran akan berpengaruh besar terhadap kemampuan siswa dalam mendapatkan pengetahuan.  Demikian halnya dengan Swennen dan Marcel (2009: 134) mengemukakan bahwa belajar merupakan proses yang kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti sifat-sifat individu pembelajar, kemampuan guru, bahan ajar dan kualitas interaksi antara guru dan siswa.  Selanjutnya Suparman (2012: 6) mengemukakan bahwa pembelajaran harus berorientasi pada siswa, artinya diselenggarakan untuk kebutuhannya, disesuaikan dengan karakteristiknya, dan diutamakan mengaktifkan dirinya selama proses pembelajaran berlangsung. Pendapat beberapa pakar di atas mengindikasikan bahwa tujuan dari keseluruhan proses pembelajaran adalah melibatkan mental siswa ke dalam berbagai pengalaman belajar yang sengaja diciptakan oleh guru. Pengalaman belajar sebagai sebuah kondisi yang sengaja diciptakan, juga harus dapat mendukung siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap.

            Keberhasilan proses pembelajaran siswa dapat disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal.  Faktor internal antara lain berkaitan dengan kemampuan siswa memahami konsep, minat, motivasi, sikap terhadap mata pelajaran, gaya belajar, kemampuan awal yang dimiliki siswa, dan kreativitas. Sedangkan faktor eksternal antara lain kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, kualitas bahan ajar, metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran yang digunakan, media pembelajaran, lingkungan belajar, alokasi waktu, dan manajemen.  Namun dari beberapa faktor tersebut di atas menarik untuk dikaji faktor yang disebabkan oleh proses pembelajaran, khususnya  pendekatan pembelajaran, karakteristik individu/siswa, dan sejauhmana interaksi antara guru dan siswa sebagai suatu kondisi yang sengaja diciptakan.

            Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara teoritis sekaligus menjawab pertanyaan tentang bagaimanakah langkah-langkah pendekatan pembelajaran saintifik?, sejauhmana kecenderungan berpikir divergent seorang siswa mempengaruhi hasil belajar? dan bagaimanakah model interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Belajar

Para psikolog dan peneliti telah mengemukakan banyak teori untuk menjelaskan bagaimana individu belajar. Namun tidak ada satu definisi belajar yang diterima secara universal. Mereka memiliki padangan yang berbeda-beda tentang penyebab, proses, dan akibat dari belajar. Sementara itu, teori belajar telah mengalami perubahan mendasar, berkembang dari behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme. Perubahan inilah yang menjadi dasar para peneliti dalam mengembangkan pembelajaran.

Menurut Gagne (1977: 3) “Learning is a change human disposition or capability, which persist over a period of time, and which is not simply ascribable to processes of growth”. Menurutnya belajar ialah perubahan dalam disposisi manusia atau kapabilitas yang berlangsung selama satu masa waktu dan tidak semata-mata disebabkan oleh proses pertumbuhan. Lebih lanjut Gagne mengemukakan bahwa perubahan yang terjadi pada belajar adalah berupa perubahan tingkah laku dengan inferensi sebelum individu ditempatkan dalam situasi belajar, ataupun perubahan berupa peningkatan kapabilitas, dan juga perubahan pada sikap, minat dan nilai. Perubahan yang dimaksudkan di atas harus dapat bertahan lama dan akhirnya perubahan itu bukan disebabkan oleh pertumbuhan fisik seperti tinggi badan atau perkembangan otot melalui latihan.

Driscoll seperti yang dikutip Reiser dan Dempsey (2012: 36); Smaldino, Lowther dan Russel (2011: 11) mendefinisikan belajar sebagai konsekuensi dari perubahan kemampuan yang berasal dari pengalaman dan interaksi pemelajar dengan dunia. Sementara menurut Dale (2012: 39), belajar merupakan perubahan perilaku atau perubahan dalam kapasitas perilaku dengan cara tertentu yang bertahan lama, perubahan yang dimaksud dihasilkan dari praktek atau bentuk-bentuk pengalaman lainnya. Definisi ini mengindikasikan tiga kriteria yang harus dipenuhi oleh belajar yakni: (1) perubahan perilaku, artinya seseorang dikatakan belajar ketika mereka mampu melakukan suatu hal dengan cara yang berbeda; (2) perubahan perilaku itu bertahan lama seiring dengan waktu. Perubahan perilaku yang sifatnya sementara (pengaruh alkohol atau obat-obatan) bukan merupakan perubahan perilaku yang dimaksud, karena jika pengaruh obat-obatan atau alkohol hilang, perilakunya akan kembali ke keadaan semula; (3) perubahan perilaku terjadi melalui pengalaman seperti melakukan kegiatan praktek dari mengamati orang lain, sementara perubahan perilaku yang disebabkan oleh perubahan sifat fisik tidak termasuk dalam kriteria belajar.

            Richey, Klein dan Tracey (2011: 61) mengemukakan bahwa “Learning is the relatively permanent change in a person’s knowledge or behavior due to experience. This definition has three components: (1) the duration of the change is long-term rather than short-term; (2) the locus of the change is the content and structure of knowledge in memory or the behavior of the learner; (3) the cause of the change is the learner’s experience in the environment rather than fatigue, motivation, drugs, physical condition, or psychological intervention”. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam pengetahuan atau perilaku seseorang karena pengalaman. Definisi ini memiliki tiga komponen yakni: (a) durasi dari perubahan tersebut adalah jangka panjang; (b) lokus perubahan adalah isi dan struktur pengetahuan dalam memori atau perilaku siswa; (c) penyebab perubahan disebabkan oleh pengalaman dan lingkungan siswa. Snelbecker (1974: 11-15) menyimpulkan bahwa belajar adalah kemampuan suatu organisme untuk tampil dengan cara yang berbeda dari cara sebelumnya. Menurutnya belajar harus mampu menjelaskan perubahan perilaku sebagai hasil dari belajar dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks dan perilaku tersebut tidak dimodifikasi atau dikendalikan oleh organisme atau oleh agen eksternal lain.

Pendekatan Pembelajaran

            Sanjaya (2006: 127) mengemukakan bahwa pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap pembelajaran. Istilah ini merujuk kepada cara pandang tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, oleh karenanya strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan tertentu. Sejalan dengan itu Sani (2013: 91) berpendapat bahwa pendekatan pembelajaran adalah sekumpulan asumsi yang saling berhubungan dan terkait dengan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran merupakan sudut pandang guru terhadap proses pembelajaran secara umum berdasarkan teori tertentu yang kemudian mendasari pemilihan strategi dan metode pembelajaran. Pendapat diatas menjelaskan bahwa pendekatan dalam pembelajaran merupakan cara pandang tentang bagaimana terjadinya proses pembelajaran, yang menjadi landasan bagi guru dalam memilih metode dan strategi penyampaiannya.

Roy Killen (2009: 116-117) mengemukakan dua pendekatan dalam pembelajaran yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-teacher centred). Demikian halnya Edward Anthony (1963: 63-67) menjelaskan bahwa pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang berhubungan dengan sifat pengajaran dan pembelajaran. Sebuah pendekatan aksiomatik yang menggambarkan sifat materi pelajaran yang akan diajarkan. Selanjutnya Corcoran dan Silander (2009: 165) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran ditandai dengan keteraturan tertentu dalam cara di mana guru dan siswa berinteraksi satu sama lain dan dengan bahan ajar yang dapat digambarkan, dievaluasi, dan direplikasi. Lebih lanjut dikemukakan bahwa pendekatan pembelajaran yang baik harus mempertimbangkan partisipasi, ketekunan, dan kesuksesan dalam akademis siswa pada umumnya.

Dilihat dari perspektif teknologi pendidikan, pembelajaran merupakan sebuah sistem dengan komponen-komponen yang saling berkaitan untuk melakukan suatu sinergi, yakni mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Memandang pembelajaran sebagai sebuah sistem dikenal dengan istilah pendekatan sistem (system approach). Miarso (2009: 528-529) mencontohkan pendekatan sistem yang paling sederhana yang dikemukakan oleh Briggs yang disebut “three anchor points” dan Kaufman yang disebut “system analysis steps”. Pendekatan itu meliputi tiga konsep dasar yakni:  (1) adanya arah serta tujuan yang ingin dicapai; (2) dengan merumuskan strategi, teknik, media; (3) menentukan ukuran/kriteria keberhasilan. Selanjutnya Reigeluth dan Merril (1983: 18) mengatakan bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang didasari teori pembelajaran yang bersifat preskriptif, yaitu teori yang memberikan jalan keluar dalam mengatasi masalah belajar. Mereka mengidentifikasi tiga variabel yang harus di masukkan dalam kerangka teori instruksional yaitu variabel kondisi, metode, dan hasil belajar. Kerangka teorinya seperti pada Gambar 1.

Picture1

Gambar 1. Kerangka teori pembelajaran

            Berdasarkan kerangka teori tersebut setiap metode pembelajaran harus mengandung rumusan pengorganisasian bahan pelajaran, strategi penyampaian, dan pengelolaan kegiatan, dengan tidak mengesampingkan tujuan belajar, hambatan belajar, karakteristik siswa, agar dapat diperoleh efektifitas, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran.

Pendekatan Pembelajaran Saintifik

Kata Saintifik berasal dari kata dasar “Science” dan berasal dari bahasa Latin “scientia,” yang berarti pengetahuan. Menurut Webster New Collegiate Dictionary, definisi science  adalah pengetahuan yang diperoleh melalui studi atau praktek, atau pengetahuan meliputi kebenaran umum yang dilandasi beberapa aturan umum, yang diperoleh dan diuji melalui metode ilmiah dan berkaitan dengan alam. Elemen dasar dari ilmu pengetahuan adalah bagaimana mengetahui dan menjelaskan tentang alam ini. Menurut Bybee (2006: 2-3) bahwa pengetahuan ilmiah harus didasarkan oleh pengamatan dan data eksperimen, artinya bahwa penjelasan tentang fenomena yang terjadi harus dibuktikan dengan data empiris. Beberapa literatur menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan dimulai dengan pengamatan, selanjutnya berdasarkan pengamatan mereka menyatakan hipotesis, biasanya dinyatakan dengan bentuk proposisi “jika…maka…” artinya hipotesis tersebut memiliki kualitas prediksi yang bisa dikonfirmasi melalui pengamatan lebih lanjut melalui eksperimentasi. Jika pengamatan atau percobaan mengkonfirmasi prediksi, hipotesis bertahan dan investigasi terus berlanjut. Lebih lanjut mereka menjelaskan bahwa tidak ada kesepakatan umum tentang metode atau cara para ilmuwan melakukannya, namun sebuah metode ilmiah perpegang pada hukum bahwa pemerolehan pengetahuan ilmiah harus logis, obyektif, dan imparsial.  Mereka juga sepakat bahwa dalam menjelaskan dan memahami fenomena, menggunakan penalaran, data empiris, menghindari prasangka, dan menyajikan penjelasan sebagai proses ilmiah.

Semiawan (2007: 4) mengemukakan bahwa pengetahuan memiliki tiga ciri yang harus dimiliki untuk bisa disebut ilmu pengetahuan. Pertama, dasar pembenaran, artinya pemerolehan pengetahuan tersebut menuntut pengaturan kerja ilmiah yang diarahkan pada perolehan derajat kepastian sebesar mungkin. Pernyataan harus diarahkan pada dua cara berpikir ilmiah yakni berpikir deduktif dan induktif; kedua, sistematis artinya susunan pengetahuan didasarkan pada penyelidikan ilmiah yang terencana, teratur, dan terarah, sistemik menunjuk pada adanya hubungan yang merupakan suatu kebulatan melalui komparasi dan generalisasi, dan ketiga, sifat intersubyektif ilmu artinya pengetahuan ilmiah tidak didasarkan atas intuisi dan sifat subyektif seseorang, namun adanya kesepakatan dan pengakuan akan adanya kebenaran. Dengan kata lain pendekatan ilmiah adalah proses berpikir dimana kita bergerak secara induktif dari pengamatan menuju pembentukan hipotesis dan kemudian berbalik secara deduktif membuat verifikasi atas hipotesis kita tadi pada penerapan logis.

Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmiah, syarat yang harus dipenuhi pengetahuan agar dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah. Menurut Abruscato (1992: 6), Pengetahuan merujuk pada sebuah proses dimana kita memperoleh dan mengumpulkan informasi secara sistematis tentang alam disekitar kita, ditandai dengan nilai-nilai dan sikap yang dimiliki oleh orang-orang yang menggunakan proses ilmiah untuk mengumpulkan pengetahuan. Pendekatan ilmiah merupakan gabungan antara penalaran induktif dan penalaran deduktif, Kerlinger (1986: 37) memberi definisi pendekatan ilmiah sebagai “penyelidikan yang sistematik, terkontrol, empiris, dan kritis tentang fenomena-fenomena alami dengan dipandu oleh teori dan hipotesis-hipotesis tentang hubungan yang dikira terdapat antara fenomena itu.”

Dalam pengajaran tradisional guru melibatkan para siswa dalam serangkaian tugas yang tidak memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana membangun argumentasi ilmiah yang meyakinkan melalui pengumpulan bukti-bukti. Pemerolehan pengetahuan harus dibangun melalui pengalaman hidup, khususnya melalui partisipasi dan interaksi dengan orang lain dalam kegiatan yang berarti. Guru perlu melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran di mana mereka benar-benar melakukan sendiri dengan pengalaman-pengalaman yang diciptakan guru.

Berkaitan dengan proses belajar penemuan, Bruner dalam Dale (2012: 372-371) mengemukakan bahwa belajar menemukan mengacu pada penguasaan pengetahuan untuk diri sendiri. Lebih lanjut dikemukakan bahwa proses belajar penemuan melibatkan perumusan dan pengujian hipotesis-hipotesis, bukan sekedar membaca dan mendengarkan guru menerangkan. Penemuan adalah sebuah tipe penalaran induktif karena siswa mengamati dan mempelajari contoh spesifik kemudian merumuskan aturan-aturan, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip umumnya. Belajar menemukan juga dikenal sebagai pembelajaran berbasis masalah, penelitian, eksperiensial, dan konstruktivis.  Selanjutnya menurut Carin dan Sund (1989: 11), penyelidikan ilmiah didefinisikan sebagai cara mencari kebenaran dan pengetahuan. Agar pengetahuan tersebut ilmiah dilakukan dengan mengidentifikasi masalah, membuat hipotesis, dan melakukan penyelidikan yang berhubungan dengan permasalahan. Kata kunci dalam melakukan proses penyelidikan menurut mereka adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang signifikan, membentuk perilaku yang diarahkan pada sikap ilmiah dengan menggunakan metode-metode tertentu yang sering disebut scientific processes.

Suchman seperti yang dikutip Joyce, Weil, dan Calhoun (2009: 213-214), mengemukakan bahwa pembelajaran melalui penyelidikan ilmiah dapat mengantarkan siswa pada kebiasaan melakukan strategi-strategi, nilai-nilai, sikap dan keterampilan seperti mengobservasi, mengumpulkan dan mengolah data, mengidentifikasi dan mengontrol variabel, merumuskan dan menguji hipotesis, serta menarik kesimpulan. Dengan melakukan pembelajaran yang mengacu pada proses ilmiah juga menjadikan pembelajaran lebih aktif, mandiri, serta membiasakan siswa untuk berpikir logis.

Berpikir Divergen

Spector (2012: 100) memberikan saran bahwa satu hal yang patut dipertimbangkan bagi seorang guru dalam merencanakan kegiatan pembelajaran adalah pentingnya mengetahui karakteristik siswa, tujuannya adalah untuk mengetahui lebih awal dukungan yang paling mungkin dan relevan untuk diberikan. Salah satu cara mengetahui karakteristik siswa yang memiliki implikasi terhadap perencanaan pembelajaran adalah gaya berpikir siswa.  Demikian halnya dengan Elliott, et. el. (2000: 294-295), mengemukakan bahwa menyadari pentingnya mengidentifikasi dan menggunakan pengetahuan tentang gaya berpikir di dalam kelas, seorang guru dapat memperluas teknik mengajar sekaligus mengakomodasi karakteristik siswa.  Sementara itu Santrock (2009: 7) menjelaskan bahwa berpikir melibatkan kegiatan memanipulasi dan mentransformasi informasi dalam memori untuk membentuk konsep, menalar, membuat keputusan, dan memecahkan masalah. Seorang anak misalnya mampu berpikir mengenai hal-hal konkret, memikirkan subyek yang abstrak, mereka juga dapat berpikir mengenai masa lampau dan membayangkan masa depan, dan juga berpikir mengenai kenyataan dan fantasi.

Istilah gaya berpikir menurut Witkin dalam Riding dan Rayner (2012: 15) “is understood to be an individual’s preferred and habitual approach to organising and representing information. Menurutnya gaya berpikir adalah pendekatan yang dipilih seseorang dalam mengatur dan mengolah informasi.  Pendapat lain tentang gaya berpikir juga dikemukakan oleh Miller dalam Zang (2006: 99), menurutnya gaya berpikir adalah perbedaan individu dalam pemrosesan informasi. Pemrosesan informasi sebagai proses kognitif menurutnya terdiri dari tiga komponen yiatu persepsi, memori, dan berpikir. Selanjutnya Messick (1996: 9) mengemukakan bahwa Gaya berpikir biasanya dikonseptualisasikan sebagai karakteristik individu dalam mempersepsi, mengingat, berpikir, dan penilaian reflektif dari keteraturan pemrosesan informasi. Gaya berpikir adalah perbedaan individu dalam cara pengorganisasian atau pengolahan informasi dan pengalaman.  Demikian halnya dengan Sternberg (1997: 134) mengemukakan bahwa istilah gaya berpikir mengacu pada cara individu memproses informasi dalam melakukan pemecahan masalah.

Berdasarkan pendapat yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa gaya berpikir adalah kecenderungan seseorang dalam merespon dan mengolah informasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Dalam konteks pembelajaran gaya berpikir adalah cara siswa dalam menyesuaikan respon informasi kemudian menghubungkan dengan kemampuan yang ada dalam dirinya untuk untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran.

Guilford seperti yang dikutip De Cecco (1968: 455) mengemukakan bahwa  aspek yang khas dari kreativitas adalah berpikir divergent dengan kemampuan memberikan beragam respon untuk satu permasalahan yang diberikan. Selanjutnya Munandar (1999: 91) mengemukakan bahwa berpikir divergen identik dengan kreativitas yang menuntut penggunaan kemampuan berpikir lancar, lentur, orisinal, dan terperinci. Pola berpikir divergen adalah memberikan bermacam-macam kemungkinan jawaban berdasarkan informasi yang diberikan dengan penekanan pada keragaman kuantitas dan kesesuaian.  Guilford menguraikan teori tentang bagaimana berpikir kreatif bekerja, dan menggunakan pengujian kecerdasan sebagai panduan, kemudian mengusulkan serangkaian tes yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif serta mengidentifikasi individu yang memiliki potensi kreatif. Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa orang-orang kreatif adalah mereka yang sensitif terhadap masalah, fasih dalam pemikiran dan ekspresi serta fleksibel (spontan dan mudah beradaptasi) dengan pemecahan masalah baru.

Menurut Kolb dalam Reid (1995: 58), individu dengan gaya berpikir divergen memiliki dua kecenderungan berpikir yakni mereka lebih suka melibatkan diri sepenuhnya dalam suatu pengalaman baru (concrete experience), dan mereka lebih suka mengobservasi dan merefleksi atau memikirkan pengalamannya dari berbagai segi (reflection observation). Kekuatan mereka terletak pada kemampuan imajinasi.  Mereka suka memandang sesuatu dari berbagai segi dan menjalin berbagai hubungan menjadi satu keseluruhan yang bulat. Mereka mampu melahirkan berbagai ide baru dan terampil dalam “brainstorming”. Salah satu komponen penting dari kreativitas adalah kemampuan untuk melihat permasalahan dilingkungannya. Sebagai contoh, jika dua orang menggunakan alat yang sama dan salah seorang diantara mereka tidak puas dengan kinerja alat yang digunakannya, ia mungkin mencoba untuk membuat inovasi yang lebih baik dari fungsi sebelumnya, dengan demikian orang itu telah menunjukkan kepekaan terhadap masalah, yang mungkin diperlukan untuk mengatur proses kreatif sehingga Ia melakukan tindakan. Seseorang yang tidak memiliki kemampuan melihat masalah berkaitan denga alat yang digunakannya, tidak akan memiliki kesempatan untuk menciptakan sesuatu (Weisberg, 2006: 95-97).

Menurut Santrock (2009: 21) berpikir divergent adalah pemikiran dengan tujuan menghasilkan banyak jawaban terhadap pertanyaan yang sama sebagai karakteristik dari kreatifitas. Wolkflok (2004: 21)  menegaskan bahwa berpikir divergen adalah kemampuan untuk mengusulkan bayak ide atau jawaban yang berbeda. Selanjutnya Sattler seperti yang dikutip Woolflok bahwa ciri siswa yang memiliki gaya berpikir divergen adalah mereka memiliki rasa ingin tahu, konsentrasi tinggi, adaptibilitas, memiliki energy yang tinggi, humoris, independensi, memiliki ketertarikan pada hal-hal kompleks dan misterius, tidak menoleransi kebosanan dan inventiveness.  Selanjutnya Nevid (2012: 235) mengemukakan bahwa berpikir divergen adalah “the wellspring of invention; it is the ability to conceive of new ways of viewing situations and new uses for familiar object.”  Menurutnya berpikir divergen adalah sumber penemuan, individu yang berpikir divergen memiliki kemampuan untuk memahami dan melihat situasi dalam cara yang berbeda pada objek yang dikenal.

Menurut Eggen & Kauchak (2007: 150);  Cohean & Swerdlik (2010: 342); Kauffman, Plucker dan Baer (2008: 18), bahwa berpikir divergen memiliki empat dimensi yakni: kefasihan (fluency), adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak ide-ide yang relevan dengan masalah, fleksibilitas (flexibility) adalah kemampuan untuk menghasilkan perspektif baru dari berbagai sudut pandang, orisinalitas (originality) adalah kemampuan untuk menghasilkan ide-ide baru dan berbeda, tidak seperti yang dipikirkan orang lain, elaborasi (elaboration) kemampuan menambahkan aneka kekayaan atau sebuah detail dalam penjelasan lisan atau tampilan bergambar. Sebagai contoh, jika seseorang sedang merencanakan acara sosial di sebuah restoran untuk merayakan acara khusus, dia mungkin membuat banyak daftar lokasi restoran yang mungkin bisa dijadikan rujukan (kefasihan tinggi), daftar yang mencakup restoran yang tidak diketahui dan tidak pernah dipikirkan oleh teman-temannya (orisinalitas tinggi), daftar dengan berbagai jenis restoran (fleksibilitas yang tinggi), daftar restoran tersebut tidak hanya berada dalam satu wilayah tetapi mungkin berada di daerah (elaborasi tinggi).

METODE

            Penelitian ini bertujuan mengkaji keterkaitan antara konsep teoritis pendekatan pembelajaran saintifik, dan gaya berpikir divergen dihubungkan dengan interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran, sehingga metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka.  Dalam tulisan ini penulis menganalisis sekaligus mengkomparasi kajian tentang pendekatan saintifik atau metode ilmiah dari beberapa ahli dengan berbagai macam tahapan yang berbeda untuk disintesis sehingga dihasilkan satu tahapan yang merupakan kolaborasi dari beberapa pendapat yang nantinya menjadi konsep tersendiri.

TEMUAN DAN PEMBAHASAN

Belajar merupakan sebuah proses mental yang kompleks, dimana didalamnya terjadi perubahan perilaku individu berdasarkan pengalaman dan cenderung bertahan lama. Perubahan perilaku dapat diartikan sebagai pemerolehan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Perubahan perilaku dari individu tersebut harus bisa terukur untuk memastikan adanya perubahan “perilaku belajar” dan bukan perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan fisik. Perubahan perilaku dalam disposisi manusia atau kapabilitas yang berlangsung selama satu masa waktu tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh proses pertumbuhan.  Perubahan yang terjadi adalah berupa perubahan tingkah laku dengan inferensi sebelum individu ditempatkan dalam situasi belajar. Ada dua kata kunci dari konsep yang telah dikemukakan di atas yakni bahwa belajar membutuhkan pengalaman langsung oleh individu yang mengalami belajar dan adanya perubahan tingkah laku sebagai akibat dari proses pembelajaran. Oleh karena itu pendekatan pembelajaran yang harusnya dipilih oleh guru dalam mengajar adalah pendekatan yang berorientasi pada siswa (student- center).

            Pendekatan pembelajaran dipandang sebagai titik awal dalam merencanakan sebuah proses pembelajaran secara umum yang dilandasi teori pembelajaran dengan melibatkan seperangkat asumsi serta karakteristik kondisi pembelajaran. Ketepatan dalam memilih pendekatan yang sesuai dapat memberikan arah yang jelas terhadap proses pengajaran. Disamping itu, guru dapat merancang dan menetapkan aturan atau prinsip umum sehingga pembelajaran berjalan sesuai yang diinginkan. Pembelajaran pada dasarnya adalah interaksi antara guru, siswa, lingkungan belajar serta konten pembelajaran. Oleh karena itu guru sebagai fasilitator seyogyanya memiliki upaya yang lebih komprehensif dalam rangka menciptakan lingkungan belajar yang sebaik-baiknya bagi siswa. Pemilihan pendekatan pembelajaran yang tepat tidak sekedar memberikan arah yang jelas terhadap proses pengajaran tetapi juga dapat menjamin pembelajaran menunjukkan hasil seperti yang diinginkan. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran dapat mengantarkan siswa pada kebiasaan melakukan strategi-strategi, nilai-nilai, sikap dan keterampilan seperti mengobservasi, mengumpulkan dan mengolah data, mengidentifikasi dan mengontrol variabel, merumuskan dan menguji hipotesis, serta menarik kesimpulan. Kegiatan pembelajaran yang demikian dapat menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, kolaboratif, serta membiasakan siswa untuk menyelesaikan masalah dengan beragam solusi.

Berpikir divergen adalah kemampuan seseorang dalam merespon dan mengeksplorasi informasi dengan menghasilkan berbagai solusi jawaban dalam menyelesaikan suatu masalah, ciri orang yang memiliki gaya berpikir seperti ini adalah memiliki rasa ingin tahu, konsentrasi tinggi, mudah beradaptasi, selalu bersemangat, kelihatan ceria, percaya diri, tertarik pada hal yang kompleks dan misterius, tidak menoleransi kebosanan dan berdaya cipta (kreatif). Dalam pembelajaran kadang-kadang siswa dituntut untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan mensintesis seperti menunjukkan kemampuan untuk merakit bagian-bagian menjadi satu kesatuan yang baru, merumuskan hipotesis baru atau rencana aksi, dan membangun solusi untuk masalah yang tidak diketahui. Banyak proses sintesis melibatkan berpikir divergen yang memiliki kemampuan melakukan eksplorasi ke berbagai arah. Iindividu dengan gaya berpikir divergen memiliki dua kecenderungan berpikir yakni mereka lebih suka melibatkan diri sepenuhnya dalam suatu pengalaman baru (concrete experience), dan mereka lebih suka mengobservasi dan merefleksi atau memikirkan pengalamannya dari berbagai segi (reflection observation).

            Langkah-langkah pendekatan pembelajaran saintifik divisualisasikan pada Gambar 2.

Picture2

Gambar 2. Langkah-langkah pendekatan pembelajaran saintifik

            Sintaks model interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran saintifik diperlihatkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Model Interaksi Guru dan Siswa dalam pembelajaran Saintifik

Picture3Picture4

KESIMPULAN

Pembejaran dengan pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang mengacu pada proses pemerolehan pengetahuan, keterampilan dan sikap berdasarkan metode ilmiah. Dengan kata lain bahwa siswa diarahkan untuk mengkonstruksi atau menemukan sendiri pengetahuannya. Pendekatan saintifik dilakukan dengan mengidentifikasi masalah, membuat hipotesis, dan melakukan penyelidikan yang berhubungan dengan permasalahan. Kata kunci dalam melakukan proses penyelidikan adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang signifikan, membentuk perilaku yang diarahkan pada sikap ilmiah dengan menggunakan metode-metode tertentu, dalam melakukan penyeledikan terkait permasalahan yang diajukan dibutuhkan kreativitas tinggi dalam mengeksplorasi lingkungan pembelajaran. Berpikir divergen sebagai kemampuan seseorang dalam merespon dan memproses informasi untuk mengembangkan ide-ide dengan  menemukan berbagai solusi alternatif untuk menyelesaikan satu permasalahan,  identik dengan ciri berpikir kreatif. Individu yang memiliki gaya berpikir divergen akan cepat menyesuaikan diri dalam lingkungan pembelajaran saintifik, dengan kreatifitas yang dimilikinya, Ia mampu mengeksplorasi pembelajarannya untuk menemukan sendiri pengetahuan, namun tentu saja atas bimbingan, arahan, dan petunjuk dari guru.

REFEENSI

Abruscato, J.  (1992). Teaching Children Science Third Edition. Boston: Allyn & Bacon.

Anthony, E. M.  ( 1963). Approach, Method, and Technique, originally published in English Language Teaching Journal, Vol. 17, 63-67, dikases dari http://www.sala.org.br/index.php/artigos/615-approach-method-and-technique.

Bybee, R. W.  (2006). Scientific Inquiry And Nature Of Science: Implications  for Teaching, Learning, and Teacher Education, ed. Flick Lawrence B. and Lederman Norman G. Springer, Netherland.

Carin, A. A.,  Sund, R. B.  (1989). Teaching Science Through Discovery 6th Edition. Ohio: Merrill Publishing Company.

Cohean, R. J. dan Swerdlik, M. E.  (2010). Psychology Testing and Assessment 7th edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

Corcoran, T., Silander, M. (2009). Instruction in High Schools: The Evidence and the Challenge. Journal Issue America’s High Schools:Volume 19 Number 1 Spring 2009, 165. Diakses dari http://futureofchildren.org.

Dale, H. S. (2012). Learning Theories: An Educational Perspective 6th Editions, Terjemahan: Hamidah dan Fajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

De Cecco, J. P. (1968). The Psychology of Learning and Instruction: Educational Psychology. New York: Prentice-Hall, Inc.

Eggen, P., Kauchak, D. (2007). Educational psychology: windows on classrooms 7th edition. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Elliott, S. E., et. al., (2000). Educational Psychology: Effective Teaching, Effective Learning 3th Edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

Gagne, R. M. (1977). The Conditions Of Learning 3th Edition. New York: Rinehart And Winston.

Joyce B., Weil M., Calhoun E. (2011). The Model Of Teaching Eighth Edition, terjemahan Fawaid, A., Mirza, A.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kaufman, J. C., Plucker, J. A.,  Baer, J. (2008). Essentials of Creativity Assessment. New Jersey: Wiley & Sons, Inc.

Kerlinger, F. E. (1986). Asas-Asas penelitian behavioral. New York: Yogyakara.

Killen, R.  (2009). Effective Teaching Strategies: Lessons from Research and Practice 5th ed. Melbourne: Chengange Learning.

Messick, S., (1996). Report Research: Bridging Cognition and Personality in Education: The Role of Style in Performance and Developmen. New Jersey: Educational Testing Service. 9. Diakses dari http://vvw.ets.org/Meclia/Research/pdf/RR-96-22.pdf.

Miarso, Y. (2004). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.

Munandar, U. (1999). Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: Gramedia.

Nevid, J. S. (2012). Essentials of Psychology: Concepts and Applications Third Edition. Wadsworth.

Reid, J. M. (1995). Learning Style in the ESL/EFL Classroom. Massacusetts: Heinle & Heinle Publisher.

Reigeluth, C. M.  (1983). Instructional-Design Theories and Models: An Overview of their Current Status. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

Reiser, R. A., Dempsey, J. V. (2012). Trend And Issue In Instructional Design And Technology. Boston: Pearson Education, Inc.

Richey, R. C., Klein, J. D., Tracey, M. W. (2011). The Instructional Design Knowledge Base: Theory, Research, and Practice. New York: Routledge.

Riding, R and Rayner, S. (2012). Understanding Style Differences in Learning and Behavior. New York: Routledge.

Sani, R. A. (2013). Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Sanjaya, W. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Perdana Media Group.

Santrock, J. W. (2009). Educational Psychology, 3th ed. Buku 2, terjemahan Angelica D. Jakarta: Salemba Humanika.

Semiawan, C.R. (2007). Catatan Kecil tentang Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Kencana.

Smaldino, S. E. Lowther, D.L., Russell, J. D.  (2011). Instructional Technology And Media For Learning 9th Editions, Terjemahan Arif Rahman. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Snelbecker, G. E. (1974). Learning Theory, Instructional Theory And Psychoeducational Design.  New York: McGraw-Hill.

Spector, M. J.  (2012). Foundations of Educational Technology: Integrative Approaches and Interdisciplinary Perspectives. New York: Routledge.

Sternberg,  R.J. (1997). Thinking Styles. New York: Cambridge University Press.

Suparman, A. (2012). Desain Instruksional Moderen: Panduan Para Pengajar dan Inovator Pendidikan. Jakarta: Penerbir Erlangga.

Swennen, A. & Van der Klink, M. (Editors). (2009). Becoming a Teacher Educator: Theory and Practice for Teacher Educators. New York: Springer.

Weisberg, R. W.  (2006). Creativity: Understanding Innovation in Problem Solving, Science, Invention and The Arts. New Jersey: John Wiley & Sons.

Woolfolk, A. (2004). Educational Psychology. Nedham Heights: Allyn and Bacon, Inc.

Zang,  L. F., Sternberg, R. J.  (2006). The Nature of Intellectual Style. Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s