METANOIA PROFESIONALISME GURU PEMBELAJAR

 

Oleh: Zulrahmat

A.   PENGANTAR

Pemerintah menempatkan pembangunan pendidikan sebagai program yang sangat strategis dalam pembangunan Nasional. Hal ini tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang mengamanatkan bahwa “pemerintah dalam menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan serta peningkatan mutu, relevansi, dan efisiensi manajemen pendidikan dalam rangka menghadapi tantangan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global”.

Sebagai salah satu unsur penting dari pembangunan pendidikan, peran guru sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Peran itu semakin kuat dengan pencanangan guru sebagai profesi oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 4 Desember 2004.  Selanjutnya Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen secara eksplisit mengamanatkan adanya pembinaan dan pengembangan profesi guru secara berkelanjutan sebagai aktualisasi dari sebuah profesi pendidik. Pengembangan keprofesian berkelanjutan dilaksanakan bagi semua guru, baik yang sudah bersertifikat maupun belum bersertifikat. Sasarannya antara lain adalah meningkatnya kompetensi guru dan tenaga kependidikan dan pada akhir diharapkan akan berdampak pada kualitas pembelajaran di kelas dan adanya peningkatan hasil belajar siswa.

B.   PERMASALAHAN

Tujuan ideal yang telah diprogramkan oleh pemerintah saat ini sudah terlaksana meskipun belum sepenuhnya sempurna, diantaranya adalah program pembinaan dan pengembangan profesionalisme guru melalui pendidikan dan  pelatihan singkat maupun berkesinambungan (Continuous Professional Development) dan dalam penyelenggaraannya diberdayakan unsur-unsur lain seperti; Kelompok Kerja (KKG); Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP); Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS); Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS); Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP); dan Perguruan Tinggi (LPTK).

Selain itu Uji Kompetensi Guru (UKG) yang telah dilaksanakan juga bertujuan untuk pemetaan kompetensi dan untuk mengetahui materi pelatihan yang akan diberikan kepada guru guna meningkatkan kemampuan mengajar. Meskipun pada kenyataannya UKG belum dapat menggambarkan kompetensi guru secara utuh, karena yang diujikan hanya kompetensi paedagogik dan profesional, dan hasilnyapun belum dimanfaatkan.

Tulisan ini ditujukan untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan pendidikan kita,  khususnya yang berkaitan dengan pengembangan profesionalisme guru. Pertanyaan yang penting untuk dijawab diantaranya adalah; (1) Bagaimana peran guru dan kualitas pembelajaran?; (2) Apa urgensi pengembangan profesionalisme guru?; dan (3) Bagaimana model pengembangan profesionalisme Individual guru?.

C. PEMBAHASAN & SOLUSI

1. Peran Guru dan Kualitas Pembelajaran

Guru adalah komponen yang menentukan dalam menerapkan strategi pembelajaran. Tanpa guru, bagaimanapun bagus dan idealnya suatu strategi, maka strategi itu tidak mungkin bisa diaplikasikan. Keberhasilan implementasi suatu strategi pembelajaran akan tergantung pada kemampuan guru dalam menggunakan metode, teknik, dan taktik pembelajaran. Setiap guru memiliki pengalaman, pengetahuan, kemampuan, gaya, dan pandangan yang berbeda dalam mengajar. Guru yang menganggap mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran akan berbeda dengan guru yang menganggap mengajar adalah suatu proses pemberian bantuan kepada siswa.

Guru dalam proses pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarnya, namun juga sebagai pembimbing, pengayom, dan pengajar. Secanggih apapun perkembangan perangkat teknologi dalam mendukung pembelajaran tak mungkin dapat menggantikan peran guru, sebab siswa adalah organisme yang sedang berkembang yang memerlukan bimbingan dan bantuan orang dewasa.

Penelitian yang dilakukan oleh Timperley et al. (2007) menyimpulkan bahwa peningkatan kualitas guru akan berdampak terhadap praktek mengajar. Menurut mereka guru harus seorang profesional yang dapat mengatur diri sendiri, mampu membangun pengalaman belajar mereka sendiri dan mampu bekerja efektif bagi keberhasilan siswa mereka.

Sementara itu Tilaar (2015) mengemukakan bahwa pada abad 21 guru harus seorang yang memiliki kemampuan profesional, seorang yang profesional pada suatu masyarakat yang moderen tidak cukup dilahirkan secara alamiah, tetapi perlu mendapatkan pendidikan formal. Sorang guru profesional harus memiliki sifat jujur, bekerja keras, disiplin, memiliki sikap sosial yang tinggi, inovatif-kreatif, dan demokratis. Guru profesional juga harus menguasai ilmu pengetahuan baik pengetahuan umum yang diperlukan untuk menghadapi dunia yang juga semakin terbuka sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun ilmu pengetahuan yang secara khusus wajib dikuasai oleh seorang guru, yaitu ilmu pedagogik.

  • Efektivitas dan Intensionalitas Guru

Cruickshank dan Haefele (2001) mengemukakan bahwa “guru yang baik adalah guru yang ideal, analitis, perhatian, kompeten, ahli, reflektif, memuaskan, memiliki responsifitas, dan dihormati”. Stronge (2007) mengemukakan bahwa “guru efektif meliputi karakteristik dari guru sebagai individu, bagaimana Ia melakukan perencanaan, mengajar, mengelola kelas, dan memonitor kemajuan siswanya”.

Kedua pendapat di atas menegaskan bahwa guru efektif adalah guru memandang pembelajaran yang dilakukannya ideal dan memuaskan karena dilakukan dengan perencanaan dan pengelolaan serta perhatian yang tinggi.

Selain efektifitas mengajar yang perlu diperhatikan seorang guru, ada konsep lain yang tidak kalah penting yakni Intensionalitas guru dalam melakukan proses pembelajaran. Artinya bahwa efektifitas seorang guru bisa tergambar ketika melakukan proses pembelajaran. Epstein (2007) mengemukakan bahwa guru yang intensional adalah guru yang terus menerus memikirkan hasil terbaik bagi siswa mereka dan bagaimana keputusan yang mereka ambil dapat mengantar siswa menuju hasil yang terbaik. Sementara itu, Slavin (2011) mengemukakan bahwa “guru yang intensional adalah guru yang memperhatikan kebutuhan siswa, mereka berharap dan belajar untuk menguasai strategi yang dapat mendorong siswa mereka berhasil. Lebih jauh dijelaskan bahwa guru yang intensional selalu memikirkan kualitas pengajaran mereka dengan mempertimbangkan banyak komponen pembelajaran lainnya”.

Hal ini berarti bahwa seorang guru harus memiliki pemahaman bahwa terjadinya kondisi pembelajaran yang maksimal tidak terjadi secara kebetulan, tetapi peristiwa belajar harus dilakukan dengan perencanaan yang matang sehingga pemerolehan pengetahuan pada siswa juga tidak terjadis ecara kebetulan.

  •  “Metanoia” Profesionalisme Guru

Metanoia berarti perubahan pola pikir atau konsep berpikir yang diperbaharui. Metanoia adalah transformasi yang radikal dari seluruh proses mental seseorang yang menghasilkan arah pemikiran baru tentang siapa dirinya dan bagaimana cara melihat diri sendiri.

Metanoia secara harfiah berarti “lompatan pikiran” atau “melampaui pikiran”. Metanoia adalah sebuah kekuatan pembaharuan pola pikir yang membawa perubahan total dalam perspektif kehidupan, perubahan dalam tujuan hidup dan perubahan dalam kehidupan itu sendiri.

Melalui “Metanoia Profesionalisme”, seorang guru diharapkan menyediakan sebuah ”kotak baru” dalam alam pikirannya untuk menuju kearah perubahan yang mendasar tentang bagaimana melihat pembelajaran yang dilakukannya.

Paradigma baru pembelajaran menuntut guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarnya, memahami keempat kompetensi yang diwajibkan kepadanya secara tekstual dan mengimplementasikannya ke dalam kegiatan pembelajaran sekadar “menggugurkan kewajiban”, tetapi juga harus bisa menjadi pengelola pembelajaran.

Oleh karenanya, keberhasilan suatu proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas atau kemampuan guru. Untuk itulah guru harus belajar secara terus-menerus untuk meningkatkan kemampuannya.

2. Urgensi pengembangan profesionalisme guru

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (1994), profesional berkaitan dengan mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang professional, sedangkan menurut Chambridge Dictionary kata profesional bersangkutan dengan profesi, memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya. (http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/professional,). Dengan demikian profesionalisme guru berarti kemampuan atau  kompetensi seorang guru untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik dan benar dengan komitmen yang kuat.

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada pasal 1 menjelaskan bahwa profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Di Indonesia dewasa ini, pengembangan perofesional sangat jarang dilakukan dan tidak merangkul guru secara keseluruhan, peningkatan pemahaman pedagogis yang dangkal, tidak memiliki relevansi dengan kurikulum dan pembelajaran, dilakukan secara parsial, dan tidak terakumulatif. Untuk itu perlu konsep yang lebih menyentuh untuk mengarahkan guru pada model peningkatan keprofesian berkelanjutan yang lebih baik.

Yoon et al. (http://ies.ed.gov/ncee/edlabs) mengemukakan bahwa pengembangan profesional bagi guru adalah mekanisme kunci untuk meningkatkan pembelajaran dan prestasi siswa. Lebih jauh dijelaskan bahwa meskipun pengembangan profesional yang dilakukan dipercaya memiliki kualitas yang sangat baik, namun masih memiliki kekurangan dan perlu perbaikan, diantaranya adalah: (1) koherensi kurikulum; (2) minimnya pemahaman pembelajaran aktif; (3) ketersediaan waktu; dan (4) tingkat partisipasi kolektif guru.

Menurut Chambridge International Examination (2015) pengembangan profesionalisme guru paling tidak memiliki dua manfaat: (1) melalui peningkatan profesionalisme guru yang efektif dapat meningkatkan pengetahuan guru yang bersangkutan, yang pada gilirannya meningkatkan pembelajaran; (2) meningkatan partisipasi: Menurut Survey Teaching And Learning International Survey (2008), Guru yang menggunakan praktek pengajaran yang beragam dan berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran, menerima lebih banyak umpan balik dan penilaian yang positif dalam pembelajaran mereka. Kedua pendapat di atas mengindikasikan bahwa meskipun penyelenggaraan pengembangan profesi yang dilakukan terhadap guru telah maksimal, namun masih perlu terus ditingkatkan.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Agama perlu memikirkan pentingnya pengembangan profesi bagi guru. Menurut penulis pengembangan profesi bagi guru harusnya fokus pada: (1) peningkatan pemahaman konsep pedagogis; (2) peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru dalam perencanaan, desain, dan implementasi pengajaran; (3) peningkatan pemahaman variasi strategi pembelajaran; (4) peningkatkan kemampuan prestasi belajar siswa.

3. Model Pengembangan Profesionalisme Individual

Menurut Swenen et al. (2009) mengajar adalah profesi yang sangat kompleks. Menjadi seorang guru adalah proses transformasional dan oleh karena itu yang terpenting adalah bagaimana mengembangkan motivasi, identitas pribadi, dan profesionalisme individual dari guru yang bersangkutan. Itu semua hanya dapat diperoleh dan diperkaya dengan berkomitmen menjadi bagian terpenting dari sebuah manajemen sekolah secara keseluruhan.

Berkaitan dengan peningkatan motivasi individual dalam membangun komitmen sebagai guru profesional, penulis akan kemukakan beberapa pemikiran dalam membangun komitmen pribadi sebagai seorang guru, yang penulis sebut sebagai “Model Pengembangan Profesional Individual”.

Peran guru dalam mengelola pembelajaran begitu sentral, tugas-tugas yang meliputi, melakukan analisis kebutuhan, mengidentifikasi karakteristik peserta didik, merencanakan strategi instruksional, pemilihan konten yang sesuai, mengidentifikasi media yang tepat, mengajarkan, dan mengevaluasi peserta didik, oleh karena itu kata “perubahan” belum cukup untuk menuju kearah yang lebih baik. Guru harus melakukan  lompatan revolusioner dengan menempatkan sebuah ”kotak baru” dalam alam pikirannya kearah perubahan yang mendasar.

Langkah langkah pengembangan individual yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

  • model-kompleks-ppiPemahaman Pedagogis

Seorang guru harus memiliki pemahaman konsep pedagosi. Dengan pemahaman pedagogis guru akan mampu memahami kondisi internal dan eksternal pembelajaran yang akan dilakukannya, tujuannya adalah agar guru dapat menyediakan layanan yang paling dibutuhkan oleh siswanya.

  • Desainer Pembelajaran

Jika guru telah memiliki pemahaman pedagogis yang baik, hal ini akan mendorong guru menciptakan desain pembelajaran yang tepat, mengembangkan metode dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

  • Guru Pembelajar

Tugas Guru bukan semata-mata menjadi pengajar tetapi juga sebagai pendidik. Sebagai pendidik guru harus memiliki berbagai kemampuan professional, harus mampu menyajikan proses pembelajaran yang menarik, memberi motivasi, dan menginspirasi, oleh karena itu  pengetahuan dan pengalaman guru harus senantiasa diperbaharui dengan berbagai masukan positif yang didapat dari berbagai sumber belajar.

  • Refleksi dan Revisi

Setelah semua kewajiban dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas profesinya, seorang guru selanjutnya diharapkan menuju ke proses pengenalan akan diri sendiri melalui refleksi dan revisi. Proses pengenalan diri melalui refleksi dan revisi akan membentuk guru menyadari apakah tanggungjawab keprofesiannya telah benar-benar dilaksanakan dengan baik atau hanya setengah-setengah. Dibutuhkan keberanian dan kejujuran dalam proses pengenalan diri melalui refleksi dan revisi, sebab jika tidak ada keberanian dan kejujuran, maka refleksi dan revisi yang sebenarnya akan sia-sia, yang ada hanyalah rasa egositas pada diri sendiri, dan ini berarti tidak ada kesadaran akan tanggungjawab sebagai seorang yang professional. Tujuan dari refleksi dan revisi adalah teridentifikasinya beberapa kekurangan untuk dilakukan perbaikan seperlunya.

D. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan kajian yang telah dikemukakan di atas, disimpukan sebagai berikut:

  1. Peran guru dalam proses pembelajaran bukan hanya sebagai model dan teladan bagi siswa, namun juga mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswanya. Secanggih apapun perkembangan perangkat teknologi tak mungkin dapat menggantikan peran guru dalam pembelajaran.
  2. Pengembangan profesionalisme guru di Indonesia jarang dilakukan, belum mampu merangkul guru secara keseluruhan, pemahaman pedagogis yang dangkal, dan dilakukan secara parsial. Untuk itu perlu kebijakan yang lebih kuat untuk mengarahkan guru arah pengembangan profesi yang lebih baik.
  3. Dibutuhkan komitmen pribadi sebagai guru untuk melakukan reformasi dengan melakukan peningkatan profesionalisme individual dengan cara: (1) meningkatkan pemahaman pedagogis; (2) mengembangkan desain pembelajarannya sendiri sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pembelajarannya; (3) menyadari bahwa belajar terus-menerus adalah cara mengatasi kelemahan; dan (4) senantiasa mengntospeksi diri sendiri dengan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukannya.

Saran dari penulis sebagai bahan masukan bagi sesama guru maupun pengambil kebijakan kita sebagai berikut:

  1. Dibutuhkan transformasi individual dari guru dalam melihat profesinya sebagai guru. Melalui konsep “metanoia profesionalisme”, guru diharapkan mampu membuat lompatan baru dengan menyediakan “kotak baru” menuju kearah perubahan yang mendasar bagaimana melihat pembelajaran dan mengarahkan pembelajaran ke arah yang lebih baik.
  2. Pengembangan profesionalisme guru harusnya fokus pada: (1) peningkatan pemahaman ilmu pedagogis; (2) peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru dalam perencanaan, desain, implementasi dan evaluasi pengajaran; dan (3) peningkatan pemahaman variasi strategi pembelajaran.
  3. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran guru, maka kata kuncinya adalah peningkatan kualitas pembelajaran guru dengan kebijakan pengembangan profesionalisme berkelanjutan.

E. DAFTAR PUSTAKA

  1. Chambridge International Examinations, Professional Development, www.cie.org.uk/events, diakses, 4 November 2016.
  2. Chambridge Dictionary, http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/professional, diakses, 4 November 2016.
  3. Cruickshank, D. R., & Haefele, D., Good teachers, plural. Educational Leadership 58 no8 F, 2001. http://www83.homepage.villanova.edu/richard.jacobs/EDU%208869/Cruickshank-Hafele.pdf. diakses 3 November 2016.
  4. Epstein, Ann S., The Intentional Teacher: Choosing the Best Strategies for Young Children’s Learning, Washington: NAYC, 2007.
  5. OECD, Creating Effective Teaching and Learning Environments: Firs Result Form TALIS, 2009, http://www.oecd.org/edu/school/43023606.pdf, diakses, 12 November 2016.
  6. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, Balai Pustaka: Jakarta, 2008.
  7. Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1.
  8. Slavin, Robert E., Educational Psychology: Theory and Practice, 9th edition, New Jersey: Pearson Education Inc., 2009.
  9. Stronge, James H., Qualities of effective teachers 2nd editions, Association for Supervision and Curriculum Development, Alexandria, Virginia USA, 2007.
  10. Swennen, Anja, Klink, Marcel van der, Becoming a Teacher Educator: Theory and Practice for Teacher Educators, Amsterdam: Springer, 2009.
  11. Tilaar, H. A. R., Pedagogik Teoritis untuk Indonesia, Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2015.
  12. Timperley, Helen, Wilson, Aaron, Barrar, Heather, Fung, Irene, Teacher Professional Learning and Development Best Evidence Synthesis Iteration [BES], 2007, www.minedu.govt.nz. Diakses 3 November 2016.
  13. Yoon, KS., Duncan T, Lee, SWY., Scarloss B., Shapley, KL.. Reviewing the evidence on how teacher professional development af fec ts student achievement, National Center for Education Evaluation and Regional Assistance, (2007). http://ies.ed.gov/ncee/edlabs. Diakses 12, November/ 2016.

Catatan:

Tulisan ini adalah salah satu finalis dan 10 besar pada Simposium Guru tahun 2016, Sentul dan  Jakarta, 24 – 28 November 2016.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pendekatan Saintifik, Berpikir Divergen, dan Interaksi Guru – Siswa dalam Pross Pembelajaran

Oleh: Zulrahmat Togala

Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk menggali hubungan konseptual pendekatan pembelajaran saintifik, kemampuan berpikir divergen, dan pentingnya interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.  Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang merangkul pengalaman belajar tanpa batas serta bagaimana gagasan dan emosi berinteraksi dengan suasana kelas yang juga terus berubah.  Pembelajaran adalah proses yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti sifat-sifat individu, kemampuan guru, bahan ajar dan kualitas interaksi antara guru dan siswa. Pendekatan pembelajaran saintifik dapat mengantar mental siswa secara aktif melakukan kegiatan mengamati fenomena dan fakta, bertanya, menjelaskan, memberi komentar, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, dan sejumlah kegiatan mental lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut membutuhkan pola berpikir divergen dimana seseorang mampu merespon dan mengolah informasi yang diterimanya untuk menghasilkan berbagai solusi jawaban dalam menyelesaikan suatu masalah.  Pada akhirnya kegiatan pembelajaran akan semakin bermakna jika interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran lebih optimal. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Buku: Survey of Iistructional Development Models, by Kent L. Gustafson & Robert Maribe Branch

51gOxGqijbL._SL500_SL160_Tujuan penulisan buku ini adalah untuk mengklasifikasikan model-model, dan membahas tren terbaru dalam pengembangan instruksional. Dalam menyiapkan penulisan buku ini para penulis merasa kesulitan memilih model yang akan di bahas, namun criteria yang diambil untuk memilih beberapa model meliputi: makna sejarah dari model, struktur yang unik atau perspektif, atau kutipan yang ada dalam literatur. Model yang mewakili dalam buku ini hanya sebagian kecil dari model yang sudah ada dan sangat banyak jumlahnya. Penulis berfokus pada proses ID secara keseluruhan, yang mencakup unsur-unsur analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Akibatnya, banyak model yang sangat baik tidak termasuk dalam survei ini. Namun, ID yang dipilih diyakini secara umum dapat mewakili literatur dan di antaranya mengandung semua konsep utama yang ditemukan pada model lain.

survey1Gustafon dan Branch  mengkategorikan model Desain Instruksional didasarkan pada sejumlah asumsi penciptanya tentang pengaturan yang diterapkan dan bagaimana proses itu terjadi. Dari sekian banyak model Desain Instruksional yang telah diciptakan, Gustafon dan Branch membaginya kedalam tiga kategori terkait dengan penggunaannya, yakni: 1). Classroom-Model Oriented, 2) Product-Oriented Models, 3) System-Oriented Models. Sebuah matriks, terkait tiga kategori dengan sembilan karakteristik diperlihatkan pada gambar di atas. Komentar-komentar di setiap sel dari matriks menunjukkan bagaimana karakteristik penggunaan terhadap kategori masing-masing model.

  1. 1.    Model Classroom-Oriented

Model Desain Instruksional yang berorientasi pada kelas sangat cocok bagi guru profesional yang memerlukan beberapa bentuk variasi pembelajaran. Model desain kategori ini dapat digunakan pada semua jenjang sekolah termasuk perguruan tinggi. Bahkan beberapa program pelatihan dalam bisnis dan industri juga menganggap bahwa kategori model orientasi kelas cocok digunakan.

Ada berbagai macam pengaturan kelas untuk dipertimbangkan ketika memilih model ID yang tepat untuk digunakan. Guru perlu menganalisis pemilihan konten yang sesuai, merencanakan strategi instruksional, mengidentifikasi media yang tepat, memberikan instruksi, dan mengevaluasi peserta didik, sifat berkelanjutan pembelajaran dalam kelas, sering disertai dengan beban mengajar yang berat, dan menyisihkan waktu untuk pengembangan bahan ajar secara komprehensif. Oleh karena itu guru biasanya perlu mengidentifikasi dan beradaptasi dengan sumber daya yang sudah ada dan tersedia, untuk memilih model desain instruksional yang cocok diterapkan dalam kelas, Guru perlu mengidentifikasi karakteristik model yang akan digunakan untuk dipertimbangkan dan disesuaikan dengan karakteristik kelas secara keseluruhan. Ada empat model desain yang sering dan cocok digunakan di lingkungan kelas yaitu : Model Gerlach dan Ely (1980); Model ASSURE (Heinich, Molenda, Russell dan Smaldino;1999); Model Newby, Stepich, Lehman dan Russell (2000), dan Model Morrison , Ross dan Kemp (2001).

  1. 2.    Model Product-Oriented

Model pengembangan produk, biasanya disesuaikan dengan jumlah produk yang akan dikembangkan,  akan beberapa jam, atau mungkin beberapa hari, dalam durasi. Jumlah analisis front-end untuk model berorientasi produk juga bervariasi. Pengguna mungkin tidak memiliki kontak dengan para pengembang kecuali selama pengujian model. Namun, dalam beberapa model prototyping cepat, interaksi awal dan berkesinambungan dengan pengguna dan / atau klien merupakan ciri utama dari proses kategori model ini.

Model pengembangan produk dicirikan oleh empat asumsi utama: (1) Produk instruksional yang dibutuhkan, (2) Apa yang perlu diproduksi dan bukan dipilih atau dimodifikasi dari bahan yang ada, (3) Adanya penekanan pada ujicoba dan revisi, dan (4) Digunakan oleh peserta didik dengan fasilitator. Asumsi kebutuhan seharusnya tidak perlu dianggap sebagai keterbatasan model ini. Dalam beberapa pengaturan, analisis front-end sudah dilakukan dan kebutuhan sudah ditentukan untuk berbagai produk secara efisien dan efektif. Selain itu, dalam beberapa situasi, kebutuhan tersebut sudah sangat jelas tidak perlu ada analisis kebutuhan , tetapi penitng unutk merancang apa yang perlu dilakukan.

Kategori model yang berorientasi produk seringkali mengandung unsur-unsur yang dapat digolongkan sebagai model sistem, Menurut Gustafson dan Branch kategori model ini terutama berfokus pada menciptakan produk instruksional daripada sistem instruksi yang lebih komprehensif. Ada lima kategori model yang ditawarkan yakni: 1) Model Bergman dan Moore (1990), 2) Model de Hoog. dc Jong dan de Vries (1994), 3) Model Bates (1995), 4) Model Nicveen (1997), dan 5) Model Seels dan Glasgow (1998).

  1. 3.    Model Systems-Oriented

Kategori model orientasi system adalah model yang ditujukan untuk pengembangan pembelajaran yang berskala besar/luas, kategori model ini biasanya dimulai dengan tahap pengumpulan data untuk menentukan kelayakan dan keinginan mengembangkan solusi instruksional. Banyak model berorientasi system mengharuskan masalah ditentukan dalam format yang diberikan sebelum melanjutkan perencanaan pembelajaran.

Thomas Gilbert (1978) dan Mager dan Pipe (1984) mengemukakan bahwa front-end analyze sangat relevan dengan kategori model ini. Mereka mengambil posisi bahwa, meskipun masalah mungkin memiliki solusi instruksional, yang pertama harus mempertimbangkan kurangnya motivasi dan faktor lingkungan sebagai domain alternatif untuk tindakan. Model system, sebagai sebuah kelas, berbeda dari model pengembangan produk dalam jumlah penekanan pada analisis tujuan organisasi sebelum menentukan untuk pembangunan. Model system juga biasanya menganggap lingkup yang lebih besar daripada model-model usaha pengembangan produk. Enam model yang termasuk dalam konteks system adalah sebagai berikut: 1) IPPSI (Interservice Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional Branson, 1975); 2) Model Gentry (1994), 3) Model Dorsey, Goodrum dan Schwen (1997); 4) Model Diamond (1989) , Model Smith dan Ragan (1999) dan Model Dick, Carey dan Carey (2001).

2. Konsep Penting dari Buku Survey Instructional Development Models.

Konsep menarik dari buku ini adalah penulis berusaha untuk memetakan sekian banyak model instruksional yang telah diciptakan berdasarkan tiga kategori yakni, model yang berorientasi ruang kelas, model yang berorientasi pada produk, dan model yang berorientasi pada system. Dalam memilih mana model yang tepat yang akan digunakan dalam situasi kerja yang bersangkutan, dibutuhkan analisis yang menunjukkan kesesuaian kategori model yang ada di atas.

Jika penggunaannya hanya untuk dilingkungan kelas yang kecil dan terbatas, sangat cocok digunakan kategori yang berorientasi pada ruang kelas. Guru perlu menganalisis pemilihan konten yang sesuai, merencanakan strategi instruksional, mengidentifikasi media yang tepat, memberikan instruksi, dan mengevaluasi peserta didik, sifat berkelanjutan pembelajaran dalam kelas, sering disertai dengan beban mengajar yang berat, dan menyisihkan waktu untuk pengembangan bahan ajar secara komprehensif. Oleh karena itu guru biasanya perlu mengidentifikasi dan beradaptasi dengan sumber daya yang suda ada dan tersedia, untuk memilih model desain instruksional yang cocok diterapkan dalam kelas.

Jika instruksional itu menuntut adanya produk yang dihasilkan/target utama dari instruksional untuk menghasilkan produk maka kategori yang diugunakan cocok dengan model product-oriented. Model pengembangan produk dicirikan oleh empat asumsi utama: (1) Produk instruksional yang dibutuhkan, (2) Apa yang perlu diproduksi dan bukan dipilih atau dimodifikasi dari bahan yang ada, (3) Adanya penekanan pada ujicoba dan revisi, dan (4) Digunakan oleh peserta didik dengan fasilitator.

Apabila kondisi penggunaannya berskala besar, maka sangat cocok digunakan kategori model yang berorientasi pada system. , kategori model ini biasanya dimulai dengan tahap pengumpulan data untuk menentukan kelayakan dan keinginan mengembangkan solusi instruksional. Model berorientasi system mengharuskan menganalisis tujuan pembelajaran sebelum melanjutkan perencanaan pembelajaran sampai [pada tahap implementasi atau evaluasi.

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Buku: Instructional Design: The ADDIE Approach, Robert Maribe Branch

instructional-design-the-addie-approachIstilah ADDIE merupakan singkatan dari Analyze, Design, Develop, Implement dan Evaluation. ADDIE telah banyak diterapkan dalam lingkungan belajar yang telah dirancang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Berdasarkan landasan filosofi pendidikan penerapan ADDIE harus bersifat student center, inovatif, otentik dan inspriratif. Konsep pengembangannya sudah diterapkan sejak terbentuknya komunitas sosial. Pembuatan sebuah produk pembelajaran dengan menggunakan ADDIE merupakan sebuah kegiatan yang menggunakan perangkat yang efektif. ADDIE yang membantu menyelesaikan permasalah pembelajaran yang komplek dan juga mengembagkan produk-produk pendidikan dan pembelajaran Tujuan penulisan buku ini adalah untuk memperkenalkan pendekatan ADDIE sebagai landasan proses dalam membuat sumber-sumber belajar secara efektif.

ADDIE-model1.    Langah-langkah Desain Model ADDIE

  1. Analyze – Analisis

Langkah-Langkah Analisis

  1. Validasi kesenjangan kinerja
  2. Merumuskan tujuan instruksional
  3. Mengidentifikasi karakteristik peserta didik
  4. Mengidentifikasi sumber-sumber yang dibutuhkan
  5. Menentukan strategi pembelajaran yang tepat
  6. Menyusun rencana pengelolaan program/proyek

Langkah-langkah tersebut diuraikan lebih terperinci sebagai berikut:

  • Menilai Kinerja: Mengukur kinerja actual, Menetapkan kinerja yang ingin dicapai, Mengidentifikasi penyebab
  • Merumuskan tujuan Instruksional: Menggunakan taksonomi Bloom, Taksonomi lain.
  • Mengidentifikasi karakter peserta didik: Kemampuan, pengalaman, motivasi, Sikap dan Lain-lain
  • Mengidentifikasi sumber-sumber: Mengidentifikasi pilihan-pilihan, Pertimbangan waktu, Konten, teknologi, fasilitas dan manusia
  • Menentukan strategi pembelajaran yang tepat: Mengidentifikasi pilihan-pilihan, Pertimbangan waktu,      Biaya setiap fase ADDIE,  Biaya keseluruhan.
  • Menyusun rencana kegiatan: Anggota Tim, batas-batas yang berarti, jadwal, Laporan akhir.

a.    Design – Desain

Tujuan: Memverifikasi kinerja yang akan dicapai dan pemilihan metode tes yang sesuai.

Langkah-langkah umum yang ditempuh dalam mendisain pembelajaran adalah:

  1. Menyusun daftar tugas-tugas
  2. Menyusun tujuan kinerja
  3. Menyusun strategi tes
  4. Menghitung investasi/biaya yang dikeluarkan

Komponen Disain: Diagram susunan tugas, Perangkat pelengkap tentang tujuan pembelajaran, Perangkat tes lengkap, Strategi Tes, Proposal investasi/biaya yang dikeluarkan

  1. Develop – Pengembangan

Tujuan: Menghasilkan dan memvalidasi sumber-sumber belajar

Fase Pengembangan

  1. Generate Content
  2. Select or develop Supporting Madia
  3. Develop guidance for the student
  4. Develop guidance for the teacher
  5. Conduct formative revisions
  6. Conduct a pilot tes

Tahapan ini merupakan tahapan produksi dimana segala sesuatu yang telah dibuat dalam tahapan desain menjadi nyata. Langkah-langah dalam tahapan ini diantaranya adalah: membuat objek-objek belajar (learning objects) seperti dokumen teks, animasi, gambar, video dan sebagainya; membuat dokumen-dokumen tambahan yang mendukung. Pengembangan merupakan langkah ketiga dalam mengimplementasikan model desain sistem pembelajaran ADDIE. Langkah pengembangan meliputi kegiatan membuat, membeli, dan memodifikasi bahan ajar. Dengan kata lain mencakup kegiatan memilih, menentukan metode, media serta strategi pembelajaran yang sesuai untuk digunakan dalam menyampaikan materi atau substansi program.

  1. Implement – Implementasi

Pada tahapan ini sistem pembelajaran sudah siap untuk digunakan oleh pemelajar. Kegiatan yang dilakukan dalam tahapan ini adalah mempersiapkan dan memasarkannya ke target pemelajar

  1. Menyiapkan Guru
  2. Menyiakan Pemelajar

Implementasi atau penyampaian materi pembelajaran merupakan langkah keempat dari model desain sistem pembelajaran ADDIE. Tujuan utama dari langkah ini antara lain sebagai berikut.

  • Membimbing pemelajar untuk mencapai tujuan atau kompetensi.
  • Menjamin terjadinya pemecahan masalah/ solusi untuk mengatasi kesenjangan hasil belajar yang dihadapi oleh pemelajar.
  • Memastikan bahwa pada akhir program pembelajaran, pemelajar perlu memilki kompetensi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang diperlukan.

 5. Evaluate – Evaluasi

Tujuan dari fase evaluasi adalah mengukur kualitas dari produk dan proses sebelum dan setelah pelaksanaan kegiatan.

Prosedur utama dari proses evaluasi adalah :

  1. Menentukan kriteria evaluasi
  2. Memilih alat untuk evaluasi
  3. Mengadakan evaluasi itu sendiri

Hasil dari evaluasi adalah perencanaan evaluasi.

Komponen dari perencanaan evaluasi adalah :

  • Sebuah ringkasan tentang tujuan, alat pengumpul data, tanggung jawab terhadap waktu dan perorangan/group  untuk setiap level evaluasi
  • Satu set kriteria penilaian evaluasi
  • Satu set alat untuk evaluasi

 Konsep Penting Dalam Desain Instruksional Model ADDIE

  1. Tahap Analisis

Kosep menarik dari tahap ini adalah bagaimana seorang perancang instruksional melakukan analisis kinerja untuk mengetahui dan mengklarifikasi apakah masalah kinerja yang dihadapi memerlukan solusi berupa penyelenggaraan program pembelajaran atau perbaikan manajemen, apakah masalah tersebut adalah benar-benar masalah dan membutuhkan upaya untuk penyelesaian. Disamping itu kemampuan menganalisis kebutuhan, juga merupakan langkah yang sangat penting untuk menentukan kemampuan-kemampuan atau kompetensi yang perlu dipelajari oleh pemelajar untuk meningkatkan kinerja atau prestasi belajar.

 2. Tahap Desain

Langkah penting yang dilakukan dalam tahap desain adalah bagaimana seorang perancang instruksional mampu menetapkan pengalaman belajar atau learning experience seperti apa yang perlu dimiliki oleh pemelajar selama mengikuti aktivitas pembelajaran. Hal tersebut berkaitan juga dengan akltifitas mendesain, daftar tugas, Perangkat pembelajaran, dan penyusunan strategi tes, dan rancangan investasi program.

3. Tahap Pengembangan

Konsep penting dalam tahap ini adalah bahwa seorang perancang instruksional harus memiliki kemampuan mencakup kegiatan memilih dan menentukan metode, media, serta strategi pembelajaran yang sesuai untuk digunakan dalam menyampaikan materi atau substansi program pembelajaran.

 4. Tahap Implementasi

Konsep penting pada tahap implementasi, adalah bagaimana perancang instruksional mampu memilih metode pembelajaran seperti apa yang yang paling efektif dalam menyampaikan bahan atau materi pembelajaran. Bagaimana upaya menarik dan memelihara minat pemelajar agar mampu memusatkan perhatian pada penyampaian materi.

5. Tahap Evaluasi

Konsep penting dari tahapan evaluasi model ADDIE adalah bagaimana seorang perancang instruksional mampu melakukan evaluasi keseluruhan model, dari tahap awal sampai akhir. Langkah-langkah yang penting dalam evaluasi model ADDIE adalah bagaimana menentukan kriteria evaluasi, memilih alat untuk evaluasi, dan mengadakan Evaluasi itu sendiri. Kegiatan evaluasi setidaknya mampu menjawab pertanyaan sebagai berikut: bagaimana sikap pemelajar terhadap kegiatan pembelajaran secara keseluruhan, bagaimana peningkatan kompetensi dalam diri pemelajar yang merupakan dampak dari keikutsertaan dalam program pembelajaran, dan keuntungan apa yang dirasakan oleh sekolah akibat adanya peningkatan kompetensi pemelajar setelah mengikuti program pembelajaran.

3.    Kendala dalam Implementasi di tempat kerja

Kendala yang mungkin dihadapai dalam implementasi ditempat kerja.

  1. Pada tahap analisis: dimana pada saat melakukan anailisis kinerja dan analisis kebutuhan, kekhawatiran tidak fokusnya guru dalam menganalisis kinerja dan kebutuhan, apakah analisis yang dilakukan memang benar-benar suatu hal yang sangat urgen. Jika hal tersebut terjadi maka akan sangat berpengaruh terhadap tahapan desain selanjutnya.
  2. Pada tahap desain: Kendala yang mungkin dihadapi adalah menetapkan pengalaman belajar kepada pemelajar, hal ini terkait dengan desain tes, perangkat pembelajaran, yang membutuhkan biaya, kendala utama adalah jika dalam mengembangkan program tidak didukung oleh dana yang cukup dari sekolah.
  3. Pada tahap pengembangan: Kendala yang mungkin dihadapi adalah tidak tersedianya media yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, dan karakteristik pemelajar, padahal media yang dimaksudkan sangat menunjang ketercapaian kompetensi bagi pemelajar.
  4. Pada tahap Implementasi: Kendala yang dihadapi pada tahap ini, bisa datang dari pembelajar maupun dari pemelajar itu sendiri, dari pihak pembelajar, adanya ketidak sesuaian metode yang sudah dirancang sejak awal dengan metode yang dilakukan dilapangan, hal ini mungkin saja terjadi jika kondisi dilapangan tidak mendukung untuk menerapkan metode yang telah ditetapkan. Sementara dari pihak pemelajar, adalah menurunnya minat belajar pada saat penyampaian materi.
  5. Pada tahap evaluasi: kendala yang mungkin dihadapi adalah bagaimana menentukan kriteria evaluasi, memilih alat untuk evaluasi, dan mengadakan evaluasi secara akurat yang sesuai dengan kondisi yang diharapkan.
Dipublikasi di Uncategorized | 5 Komentar

Buku: Mastering The Instructional Design Process A Systematic Approach

COVERBuku ini sangat khas dengan banyaknya langkah-analisis kebutuhan yang harus dilakukan yang tidak dibahas dalam banyak buku Desain Instruksional lainnya. Bedah buku ini fokus pada empat langkah analisis dalam model Mastering Instructional Design Process, yakni Conducting a Need Assessment, Assess Relevant Characteristic of Learner,Analyze Characteristic of a Work Setting, dan Perform Job, task, and content analysis. Keempat langkah ini khusus membahas bagaimana menganalisis kebutuhan instruksional yang mejadi ciri khas dalam buku MIDP ini.

1.    Langkah-langkah Analisis Kebutuhan Model Mastering IDP.

a.    Melakukan Penilaian Kebutuhan – Conducting a Need Assessment

             Untuk mengembangkan rencana penilaian kebutuhan, pendesain instruksional harus terlebih dahulu menjelaskan mengapa mereka melakukan penilaian. Selain itu, tempat yang tepat untuk memulai tergantung pada masalah yang harus dipecahkan, jumlah orang yang terpengaruh olehnya, dan rentang waktu yang tersedia untuk solusi dimaksudkan. Misalnya, titik awal yang tepat untuk penilaian alpha tidak sama dengan penilaian delta. Demikian juga, titik awal untuk penilaian kebutuhan yang komprehensif berbeda dari penilaian kebutuhan situasi spesifik.

Tahapan penilaian kebutuhan adalah sebagai berikut:.

  • Menetapkan Tujuan dari Penilaian Kebutuhan

Untuk menetapkan tujuan penilaian kebutuhan, pendesain instruksional harus mulai dengan menjelaskan apa hasil yang ingin dicapai dari kajian kebutuhan.

  • Mengidentifikasi Target  Audiens

Target audiens adalah karyawan yang kebutuhan instruksionalnya akan diidentifikasi melalui kebutuhan proses penilaian. Setiap penilaian kebutuhan harus mengidentifikasi siapa individu yang saat ini terpengaruh oleh masalah kinerja, berapa banyak mereka yang terpengaruh, dan di mana mereka berada.

  • Menetapkan Prosedur Sampling

Sampling adalah proses mengidentifikasi kelompok-kelompok kecil untuk pemeriksaan. Hal ini dilakukan untuk menghemat waktu dan biaya dalam mengumpulkan informasi tentang kebutuhan.

  • Menentukan Strategi Sengumpulan Data Dan Taktik

Langkah ini bertujuan menetapkan bagaimana informasi tentang kebutuhan instruksional dikumpulkan. Lima metode yang biasanya digunakan yakni: wawancara, observasi, pemeriksaan dari kinerja atau indikator produktivitas, kuesioner, dan analisis tugas.

  • Menentukan Instrumen dan Protokol

Instrumen apa yang harus digunakan selama pengkajian kebutuhan, dan bagaimana mereka harus digunakan? Persetujuan atau protokol apa yang diperlukan untuk melakukan penilaian kebutuhan, dan bagaimana pendesain instruksional berinteraksi dengan anggota dari organisasi?

  • Menentukan Metode Analisis Data

Langkah ini dilakukan untuk menganalisis informasi penilaian kebutuhan yang telah dikumpulkan. Metode analisis data tergantung pada desain penilaian kebutuhan, sesuai dengan desain penelitian, yang telah dipilih sebelumnya.

  • Menilai kelayakan dari Rencana Penilaian Kebutuhan

Sebelum menyelesaikan rencana penilaian kebutuhan, pendesain instruksional harus meninjau tiga pertanyaan penting: (1) Apakah bisa dilakukan dengan sumber daya yang tersedia? (2) Apakah bisa diterapkan dalam budaya organisasi? dan (3) Apakah semua informasi berlebihan telah dihilangkan dari rencana?

 b.    Menilai Karakteristik Pemelajar – Assess Relevant Characteristic of Learner

Langkah ini dilakukan untuk menilai karakteristik yang relevan dari peserta didik. Menyarankan metode untuk mengidentifikasi karakteristik peserta didik yang tepat, membahas cara-cara melakukan penilaian peserta didik, memberikan saran tentang pengembangan profil peserta didik, menggambarkan perkembangan baru yang mempengaruhi penilaian peserta didik, dan menawarkan petunjuk untuk menilai dan membenarkan penilaian peserta didik. Ada tiga kategori dasar dari karakteristik peserta didik yang relevan yaitu karakteristik yang berhubungan dengan situasi tertentu, masalah kinerja, atau kebutuhan instruksional. Karakteristik situasi yang berhubungan berasal dari peristiwa seputar keputusan untuk merancang dan memberikan instruksi. Karakteristik Keputusan terkait berkaitan dengan mereka yang membuat keputusan tentang partisipasi peserta didik dalam pembelajaran. Karakteristik peserta didik terkait berasal dari peserta didik itu sendiri.

Ada dua jenis kegiatan dalam menentukan karakteristik peserta didik:

  • Menentukan Metode untuk Menilai Karakteristik Pembelajar
  1. Pendekatan yang diambil (The derived approach). Dengan melakukan tukar pendapat (brainstorming), dan poendektaan yang mengeksplorasi individu peserta didik akan dapat  diperoleh karakteristik peserta didik yang relevan.
  2. Pendekatan yang dirancang (The contrived approach).Jika karakteristik peserta didik tidak dapat diidentifikasi secara mudah melalui pendekatan yang diambil  (the derived approach), maka desainer peserta didik harus  merancang  daftar karakteristik untuk dipertimbangkan.
  • Mengembangkan sebuah profil karakteristik peserta didik:
  1. Profil seorang peserta didik adalah deskripsi naratif dari peserta didik untuk peserta didik  yang menyusun asumsi-asumsi kunci  mengenai mereka sebagai masukan persiapan peserta didik.
  2. Untuk mencukupi, profil peserta didik harus konsisten dengan hasil-hasil penilaian peserta didik dan  cukup lengkap sehingga dapat digunakan untuk keputusan peserta didik.

 c.    Analisa Karakteristik Pengaturan Kerja – Analyzing Characteristics   of A Work Setting..

 Menganalisis karakteristik pengaturan kerja adalah proses pengumpulan informasi tentang sumber daya organisasi, kendala, dan budaya sehingga instruksi yang akan dirancang sesuai dengan lingkungan.

Laporan kinerja yang berhubungan dengan kompetensi ini menunjukkan bahwa pendesain instruksional harus dapat:

  1. Mengidentifikasi aspek lingkungan fisik dan sosial yang berdampak pada pengiriman instruksi.
  2. Mengidentifikasi aspek lingkungan dan budaya yang mempengaruhi sikap terhadap penemuan instruksional.
  3. Mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan dan budaya yang mempengaruhi belajar, sikap, dan kinerja.
  4. Mengidentifikasi sifat dan peran dari berbagai lingkungan kerja dalam proses pengajaran dan pembelajaran.
  5. Menentukan sejauh mana misi organisasi, filsafat, dan nilai-nilai mempengaruhi desain dan keberhasilan proyek.

 d.    Analisis  Kerja – Performing Job, Task, and Content Analysis.

1. Job Analysis

Langkah 1: Mengidentifikasi Jobs Akan Dianalisis

Mengidentifikasi pekerjaan yang akan dianalisis adalah yang pertama, dan sederhana, Tempat yang baik untuk memulai setiap analisis pekerjaan adalah dengan review daftar/deskripsi pekerjaan. Setiap pekerjaan diklasifikasikan sesuai dengan skema yang unik yang menunjukkan keterampilan yang diperlukan.

Langkah 2: Klarifikasi Hasil Berasal dari Analisis

Perancang instruksional harus memusatkan perhatian mereka pada dua pertanyaan: (1) Mengapa analisis pekerjaan dilakukan? Dan (2) Apa hasil yang dicari? Selalu mulai dengan membahas pertanyaan pertama, sehingga memperjelas tujuan penyelidikan.

Langkah 3: Mempersiapkan Rencana Job Analysis

Langkah ketiga adalah persiapan rencana untuk membimbing penyelidikan. Rencana tersebut harus menangani setidaknya pertanyaan-pertanyaan berikut: (1) Siapa yang akan melakukan analisis pekerjaan? (2) Apa tujuan utama dari analisis? (3) Bagaimana hasil analisis tersebut digunakan? (4) Siapa yang tergantung pada hasil analisis? Dan (5) Apa sumber atau metode harus digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi pekerjaan?

Langkah 4: Melaksanakan Rencana Analisis pekerjaan

Langkah keempat adalah implementasi analisis jabatan. Pada titik ini, pendesain instruksional melaksanakan rencana analisis pekerjaan, mengumpulkan informasi tentang pekerjaan yang sedang diselidiki. Langkah 5: Menganalisis dan Menggunakan Hasil Analisis Jabatan

Pendesain instruksional memilih metode untuk menganalisis hasil analisis jabatan seperti penilaian kebutuhan. pemilihan ini akan tergantung pada bagaimana informasi tersebut akan dikumpulkan. Hasil analisis pekerjaan dinyatakan sebagai deskripsi pekerjaan, spesifikasi pekerjaan, daftar tugas, atau standar kinerja pekerjaan.

 2. Analisis Tugas

Untuk merancang instruksi pekerjaan tertentu, perancang instruksional harus tahu secara tepat pekerja apa yang akan di lakukan, bagaimana mereka melakukannya, mengapa mereka melakukannya, persyaratan mental, fisik, dan peralatan apa atau sumber daya lainnya yang harus mereka melakukan. Langkah-langkah dalam Melakukan Analisis Tugas adalah:

1. Identifikasi pekerjaan atau tugas yang akan dianalisis.

2. Memperjelas hasil yang diinginkan dari analisis tugas.

3. Siapkan rencana untuk memandu analisis tugas.

4. Melaksanakan rencana analisis tugas.

5. Menganalisis dan menggunakan hasil penyelidikan.

 3. Analisis Isi

Analisis isi, ditujukan (1) untuk mengidentifikasi dan menetapkan ide tunggal atau unit keterampilan untuk pengajaran, (2) memutuskan secara obyektif topik pembelajaran, dan (3) memberikan bimbingan terhadap topik  pembelajaran. Langkah-langkah dalam melakukan analisis isi (Swanson dan Gradous, 1986):

  1. Mengidentifikasi subjek atau topik.
  2. Mengidentifikasi kompetensi awal pemelajar dengan cara menyelidiki perilaku mental pemelajar dengan wawancara, pengamatan aktifitas, atau dengan cara lain.
  3. Melakukan pencarian literatur tentang topik.
  4. Mensintesis hasil.
  5. Jelaskan subjek atau konten.

 2.    Konsep Penting dan Implementasi ditempat kerja.

  1. Definisi Penilaian Kebutuhan

Kebutuhan didefinisikan sebagai kesenjangan kinerja memisahkan apa yang orang tahu, lakukan, atau merasa dari apa yang mereka harus tahu, lakukan, atau merasa kompeten untuk melakukan. Kebutuhan harus selalu dikaitkan dengan pengetahuan yang esensial, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki individu untuk melakukan pekerjaan secara kompeten dan dengan demikian mencapai hasil yang diinginkan. Penilaian kebutuhan adalah “mengidentifikasi kesenjangan dalam hasil, menempatkan mereka dalam urutan prioritas, dan memilih yang paling penting untuk diperbaiki. Meskipun kesenjangan tersebut adalah titik awal untuk mengembangkan pembelajaran, namun menganalisis kesenjangan kadang-kadang penuh dengan masalah menghadapi tingkat keahlian kinerja dalam kelompok atau organisasi.

  1. Pentingnya Menilai Karakteristik relevan dari Pemelajar

Pertanyaan-pertanyaan ini mengekspresikan fokus utama keprihatinan di kalangan banyak teori desain instruksional dalam beberapa tahun terakhir. Behavioris percaya bahwa perubahan lingkungan dalam bentuk pembelajaran. Pemikiran mereka adalah dasar bagi pandangan awal desain instruksional (Lamos, 1984). Kognitivisme, fokus pada interaksi antara lingkungan eksternal dan internal pemelajar, Kognitif banyak berfokus pada apa yang dilakukan peserta didik di dalam proses belajar (yang mengikuti orientasi mereka) seperti apa yang harus dilakukan pendesain instruksional untuk membentuk lingkungan yang kondusif untuk belajar. Menurut pandangan kognitif, peserta didik membuat interpretasi mereka sendiri berdasarkan pengalaman mereka, harapan, dan keyakinan. Akibatnya, sifat pengalaman-pengalaman, harapan, dan keyakinan pada dasarnya penting untuk membantu pemelajar membuat makna informasi atau ide-ide baru.

  1. Pentingnya Menetapkan Analisis Kerja

Proses desain pembelajaran adalah upaya perubahan yang dimaksudkan untuk memenuhi atau mencegah kekurangan dalam pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Hal ini penting dilakukan karena berkaitan dengan lingkungan di mana pembelajaran akan dirancang, disampaikan, dan kemudian diterapkan.

  1. Pentingnya analisis tugas

Untuk merancang instruksi pekerjaan tertentu, perancang instruksional harus tahu secara tepat pekerja apa yang akan di lakukan, bagaimana mereka melakukannya, mengapa mereka melakukannya, apa mental, fisik, dan apa persyaratan peserta didik untuk melakukannya, dan peralatan apa atau sumber daya lainnya yang harus mereka melakukan. Hasil analisis pekerjaan terlalu umum untuk memberikan detail jumlah. Akibatnya, analisis tugas ini diperlukan sebagai titik awal untuk mempersiapkan tujuan kinerja untuk memandu hasil yang ingin dicapai pembelajaran.

  1. Pentingnya Analisis Isi

Untuk melakukan, pekerja membutuhkan informasi bahwa kebutuhan telah diterjemahkan ke dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap dan bahwa kebutuhan telah terorganisir dalam cara yang dapat mereka terapkan dalam pengaturan kerja. Analisis isi penting, karena merupakan proses penting dalam mengidentifikasi informasi bahwa kebutuhan peserta didik harus diterjemahkan ke dalam pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan, keterampilan, dan sikap melalui pengalaman instruksional yang direncanakan. Pendesain instruksional memainkan peran penting dalam mengorganisir informasi dengan cara yang akan bermakna bagi para pelajar dan yang akan membantu mereka menerjemahkan informasi (fakta, konsep, proses, prosedur, prinsip) menjadi pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan, keterampilan, dan sikap mereka.

Akhirnya, memahami berbagai konsep penting dalam melakukan analisis kebutuhan, baik yang berkaitan dengan peserta didik, konten/bahan pembelajaran, maupun kompetensi dan kinerja sangat penting diketahui bagi seorang pendidik/guru khususnya dalam merancang/mendesain pembelajaran yang akan dilakukannya.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Buku: Motivational Design For Learning And Performance: The ARCS Model Approach

(John M. Keller)

ARCS merupakan akronim dari: Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction. ARCS sebagai model pendekatan dalam pembelajaran dikembangkan oleh Keller dan Kopp (1987) sebagai jawaban pertanyaan “bagaimana merancang pembelajaran yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi dan hasil belajar”. Model ARCS berakar pada banyak teori dan konsep motivasi, khasnya adalah teori harapan-nilai (expectancy-value).

ARCS

 1.    Langkah-langkah Desain Model ARCS

Langkah 1: Obtain Course Information/Memperoleh Informasi Kursus

Langkah ini dilakukan untuk memilih dan membangkan taktik motivasi yang sesuai dalam pembelajaran, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam langkah ini adalah karakteristik peserta didik, tujuan yang ingin di capai, serta kesesuaian waktu dan biaya. Untuk menghindari efek yang kontraproduktif dari pengaruh diatas maka perlu untuk mengumpulkan informasi tentang tujuan dari pembelajaran yang akan dilaksanakan. Langkah 1 berfokus pada karakteristik belajar dan bagaimana mengim-plementasikannya, gambaran kegiatan dan tujuan pembelajarannya, perencanaan waktu, perencanaan pelajaran dan desain sebelum mengajarkannya. Ini akan membantu memutuskan berapa banyak usaha dalam merancang strategi motivasi yang akan dilakukan. Demikian halnya dengan Karakteristik dari pembelajar harus dipertimbangan ketika merancang dan mengembangkan materi pembelajaran, seperti gaya kepribadian, pengetahuan, dan pengalaman memiliki pengaruh yang kuat di lapangan dan penentuan strategi motivasi yang akan dikembangkan. Tidak ada satu cara terbaik untuk meningkatkan motivasi siswa, pendekatan terbaik adalah untuk memahami kepribadian dan preferensi individu pembelajar dan untuk mengembangkan metode dan gaya yang nyaman sebagai pembelajar.

Langkah 2 : Obtain Audience Information/Memperoleh Informasi Pemelajar.

Langkah ini berfokus pada beberapa faktor yang memiliki pengaruh kuat pada motivasi awal pemelajar dan bagaimana mereka akan menanggapi isi dan strategi pembelajaran yang akan diterapkan, misalnya, karakteristik pemelajar, sejauh mana kesamaan dan perbedaan kemampuan akademik mereka, memilih metode dengan menugaskan pemelajar untuk membantu mengantisipasi entry-level motivasi peserta didik. Informasi dari langkah pertama dan kedua ini akan memberikan dasar untuk menganalisis pemelajar yang akan dilakukan pada Langkah 3.

Langkah 3: Analyze Audience/Analisis Pemelajar

Analisis pemelajar merupakan langkah penting dalam proses mendesain model ARCS. Keputusan yang diambil akan memiliki pengaruh langsung dalam mendefinisikan tujuan dan memilih strategi motivasi dalam pembelajaran. Tujuan dari langkah ini adalah untuk memperkirakan strategi motivasi apa yang cocok untuk seluruh kelas atau sub-kelompok atau individu dalam kelas. Salah satu tantangan dalam memecahkan masalah motivasi adalah bahwa motivasi awal peserta didik bisa terlalu tinggi serta terlalu rendah. Jika terlalu rendah, prestasi mereka akan rendah karena mereka memiliki sedikit motivasi berpresatasi dan mereka tidak akan mengerahkan usaha yang cukup. Jika tingkat motivasi mereka terlalu tinggi, maka kualitas kinerja mereka menurun karena stres yang berlebihan yang menyebabkan mereka tidak dapat mengingat informasi. Dengan melakukan analisis pemelajar dapat ditentukan secara spesifik jenis masalah motivasi yang ada. Hal ini juga membantu menghindari masalah yang timbul karena memiliki terlalu sedikit atau terlalu banyak strategi motivasi.

Langkah 4: Analyze Existing Materials/Menganalisis Bahan yang Ada

Tujuan dari langkah ini adalah untuk menganalisis materi pembelajaran saat ini, yang bisa menjadi sebuah unit, modul, program pembelajaran, atau apapun segmen instruksi yang ditujukan untuk mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan strategi motivasi.  Hal yang penting untuk dipertimbangkan adalah memeriksa bahan-bahan instruksi untuk menentukan  strategi motivasi apa yang diperlukan, termasuk karakteristik pemelajar, materi pembelajaran yang sedang digunakan, atau dipertimbangkan untuk diadopsi.

Di sisi lain, perlu juga dipertimbangkan apakah bahan yang ada memiliki kekurangan yang akan menyebabkan demotivasi. Pertama, jika materi yang ada tidak relevan, maka perlu dilakukan penambahan, bagian mana yang perlu. Kedua, jika materi mengandung elemen motivasional terlalu banyak atau kegiatan yang tidak pantas, seperti permainan yang tidak cocok untuk pemelajar, maka perlu perbaikan seperlunya. Dalam situasi di mana siswa sangat termotivasi untuk siap mengikuti pembelajaran termasuk penilaian dalam waktu yang sempit, diupayakan untuk tidak menyisipkan kegiatan yang tidak perlu seperti, game atau simulasi.

Langkah 5 :    List Objectives and Assessments / Daftar Tujuan Motivasi dan Penilaian

Langkah ini dilakukan untuk menulis tujuan desain motivasi dan penilaian. Dalam tujuan akan digambarkan perilaku motivasi yang ingin diamati dalam pemelajar. Saat menulis tujuan, pertimbangkan perbedaan antara menutup kesenjangan motivasi dan menjaga motivasi. Dalam beberapa pengaturan, seperti yang ditunjukkan oleh analisis audiens, akan ada masalah motivasi tertentu yang memerlukan perhatian. Upayakan menyertakan strategi motivasi yang cukup untuk menghindari pembelajaran menjadi membosankan, seperti meningkatkan kepercayaan pemelajar dengan kegiatan yang menantang.

Langkah 6: List Potential Tactics/Daftar Strategi Potensial

Langkah ini dibutuhgkan kemampuan pembelajar untuk menganalisis melalui diskusi/brainstorming, bukan hanya yang berhubungan dengan tujuan pada Langkah 5, tetapi juga termasuk strategi yang akan membantu mempertahankan motivasi pemelajar pada kegiatan pembelajaran. Hasil langkah ini adalah adanya daftar sebanyak mungkin strategi motivasi sesuai dengan pemikiran kreatif pembelajar. Selanjutnya pada langkah berikutnya akan diinjau kembali kemungkinan strategi yang paling sesuai yang akan digunakan.

Langkah dalam memilih strategi. Dapat dilakukan dengan seleksi awal dengan menyiapkan daftar rencana atau solusi strategi motivasi yang akan dikembangkan, yang berkaitan dengan tujuan spesifik dan situasi umum. Kemudian, pada Langkah 7, akan diterapkan satu set kriteria seleksi untuk memilih, menggabungkan, dan mengatur strategi yang benar-benar akan digunakan.

Langkah 7: Select and Design Tactics/Memilih dan Mendesain Strategi

Dalam langkah ini pembelajar akan memilih strategi motivasi untuk benar-benar dimasukkan ke dalam bahan ajar. Selain beragam strategi potensial yang baru saja di buat, juga pembelajar telah memiliki informasi tentang lingkungan instruksional, karakteristik pemelajar, analisis bahan, dan tujuan motivasi , termasuk kriteria yang akan membantu memilih strategi yang paling dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Biasanya, dalam memilih dan mendesain strategi yang akan dimasukkan dalam kegiatan pembelajaran tidak hanya memilih salah satu strategi yang ada tetapi dilakukan dengan menggabungkan satu atau lebih strategi menjadi sebuah strategi tunggal yang memenuhi beberapa kebutuhan pembelajaran.

Langkah 8 : Integrate with Instructional Design Overview/ Mengintegrasikan Strategi Motivasi dengan Desain Pembelajaran

Langkah ini dilakukan untuk mengintegrasikan strategi motivasi yang sudah dirancang kedalam unsur-unsur utama pengajaran, yang meliputi tujuan pembelajaran, isi, dan kegiatan belajar. Saran pertama adalah meninjau unit instruksi yang sedang dikembangkan dan daftar semua unsur-unsurnya. Kemudian, meninjau strategi motivasi yang dipilih dan dan menempatkannya dalam situasi pembelajaran dengan tepat. Hal ini dibutuhkan kesiapan dalam membuat keputusan. LAngkah ini sangat berguna karena merupakan kompinasi dari keseluruhan langkah sebelumnyayang dilakukan secara bersama-sama. Pengajar yang telah memiliki banyak pengalaman akan sangat mempertimbangkan langkah ini secara lebih serius. Mereka biasanya akan lebih mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal lingkungan belajarnya secara komprehensif.

Langkah 9 : Select and Develop Materials/Memilih dan Mengembangkan Bahan

Dalam langkah ini, akan dilakukan identifikasi jenis strategi motuivasi yang akan dimasukkan kedalam bahan pembelajaran. Beberapa strategi mungkin tidak akan memerlukan mencari strategi karena dapat diterapkan secara langsung, atau hanya memerlukan modifikasi pada konten pembelajaran yang ada. Tapi, jika Anda ingin menggunakan permainan, simulasi, atau kegiatan pengalaman belajar dan belum memiliki strategi tertentu dalam pikiran, maka dapat dilakukan dengan mencari strategi bisa disesuaikan atau, setidaknya dapat berfungsi sebagai model untuk dikembangkan. Dalam langkah ini jangan lupa untuk mencatat (sebagai dokumentasi) hasil keputusan yang sudah diambil yakni strategi yang sebenarnya akan dikembangkan dan diintegrasikan ke dalam pelajaran.

Langkah 10: Evaluation and Revision/Evaluasi dan Revisi

Dalam merancang desain pembelajaran formal, langkah ini bagian dari proses yang tujuannya untuk mengevaluasi materi seberapa baik strategi motivasional yang dilakukan memiliki pengaruh terhasdap pemelajar. Tetapi kadang-kadang, evaluasi yang berkaitan dengan aktifitas mungkin tidak diperlukan. Jika sedang mengembangkan sebuah pembelajaran yang akan digunakan di kelas, maka pembelajar akan mengetahui seberapa baik berimplikasi kepada pemelajar, untuk itu bisa dilakukan diskusi dengan mereka. Jika Rancangan kegiatan pembelajaran dilakukan oleh orang lain, atau ingin bukti konkret dari reaksi hasil desain motivasional yang telah dirancang maka evaluasi formal perlu dilakukan.

2.    Konsep Penting Dalam Desain Model ARCS.

Model ARCS mengidentifikasi ada empat Kondep Penting untuk memotivasi pembelajaran:

a.  Attention (perhatian): adalah bentuk pengarahan untuk memusatkan tenaga dan energi psikis dalam menghadapi suatu obyek. Munculnya perhatian di dorong oleh rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu seseorang ini muncul karena dirangsang melalui elemen-elemen baru, aneh, lain dengan yang sudah ada, dan kontradiktif. Peserta didik diharap dapat menimbulkan minat yaitu kecenderungan untuk merasa tertarik pada pelajaran atau pokok pelajaran tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu melahirkan semangat yang baru dan dapat berperan positif dalam proses belajar mengajar selanjutnya.

b.  Relevance (relevansi): yaitu adanya hubungan yang ditunjukkan antara materi pembelajaran, kebutuhan dan kondisi pesrta didik. Ada tiga strategi yang dapat digunakan untuk menunjukkan relevansi dalam pembelajaran, yaitu:

  • Menyampaikan tujuan yang ingin dicapai setelah mempelajari materi pembelajaran.
  • Jelaskan manfaat pengetahuan/ketermpilan yang akan dipelajari.
  • Berikan contoh, latihan/tes yang langsung berhubungan dengan kondisi peserta didik atau profesi tertentu.

Relevansi menunjukkan adanya hubungan antara materi yang dipelajari dengan kebutuhan kondisi peserta didik. Peserta didik akan termotivasi bila mereka merasa bahwa apa yang akan dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi atau bermanfaat bagi mereka.

 c.  Confidence (kepercayaan diri): yaitu merasa diri kompeten atau mampu merupakan potensi untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan. Motivasi akan meningkat sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil. Ada sejumlah strategi untuk meningkatkan kepercayaan diri, yaitu sebagai berikut:

  • Meningkatkan harapan peserta didik untuk berhasil dengan memperbanyak pengalaman.
  • Menyusun pembelajaran menjadi bagian yang lebih kecil, sehingga peserta didik tidak di tuntut mempelajari banyak konsep sekaligus.
  • Meningkatkan harapan untuk berhasil dengan menggunakan persyaratan untuk berhasil.
  • Menggunakan strategi yang memungkinkan kontrol keberhasilan di tangan peserta didik.
  • Tumbuh kembangkan kepercayaan diri peserta didik dengan pernyataan-pernyataan yang membangun.
  • Berikan umpan balik konstruktif selama pembelajaran, agar peserta didik mengetahui sejauh mana pemahaman dan prestasi belajar mereka.

 d.  Satisfaction (kepuasan): adalah perasaan gembira, perasan ini dapat positif yaitu timbul kalau orang mendapatkan penghargaan dalam dirinya. Perasaan ini meningkat kepada perasaan harga diri kelak, membangkitkan semangat belajar di antaranya dengan:

  • Mengucapkan baik, bagus dan memberikan senyum bila peserta didik menjawab atau mengajukan pertanyaan.
  • Menunjukkan sikap non verbal positif pada saat menanggapi pertanyaan atau jawaban peserta didik.
  • Memuji dan memberi dorongan dengan senyuman, anggukan dan pandangan yang simpatik atas prestasi peserta didik.
  • Memberi tuntunan pada peserta didik agar dapat memberi jawaban yang benar.
  • Memberi pengarahan sederhana agar peserta didik memberi jawaban yang benar.
  1. 3.  Kesulitan yang dihadapi untuk menerapkan ARCS di tempat kerja

Kesulitan yang dihadapi dalam menerapkan model ARCS di tempat kerja yaitu:

  1. Penilaian perilaku peserta didik sulit dinilai secara kuantitatif
  2. Model ARCS ditujukan bagaimana meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini akan membutuhkan waktu tersendiri untuk menilai prestasi belajar siswa dari segi pengetahuannya, jika bisa dilakukan secara beriringan akan sulit karena membutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi dalam menilai prestasi belajar dan mengstabilkan kondisi pembelajaran tetap berada dalam situasi yang diinginkan.
  3. Akan sangat sulit menemukan dan menentukan startegi motivasi yang tepat diintegrasikan kedalam kegiatan pembelajaran jika motivasi individu dari setiap peserta didik sangat bervariasi.
Dipublikasi di Uncategorized | 10 Komentar

Buku: PRINCIPLES OF INSTRUCTIONAL DESIGN, (Robert M. Gagne, Walter W. Wager, Katherine C. Golas, John M. Keller)

B2000699341-260x260-0-0_Principles_Of_Instructional_Design_by_Robert_M_Briuku Principles Of Instructional Design ini memberikan penjelasan kepada kita bagaimana prinsip mengembangakan dan mendesain sebuah pembelajaran yang efektif. Dengan mendefenisikan pembelajaran sebagai rangkaian peristiwa dalam suatu kegiatan yang bertujuan memfasilitasi pembelajaran, seorang guru yang memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip desain instruksional, memiliki visi yang lebih luas tentang apa yang dibutuhkan untuk membantu siswa belajar. Pembelajaran akan lebih efektif jika guru melibatkan para siswa  dalam peristiwa-peristiwa dan kegiatan yang memfasilitasi pembelajaran. Dengan menggunakan prinsip-prinsip dari desain instruksional, guru dapat memilih atau merencanakan dan mengembangkan kegiatan terbaik untuk membantu siswa belajar.

A.   Asumsi Dasar Tentang Desain Pembelajaran

Tidak satu model desain instruksioan yang cocok untuk semua situasi dan kondisi pembelajaran. Menciptaan model-model desain instruksional yang bervariasi tersebut menunjukkan bahwa ada prinsip dan peristiwa yang mempengaruhi belajar, dan bagaimana menciptakan strategi pembelajaran yang terbaik. Namun demikian, ada beberapa asumsi dasar yang menjadi acuan dalam mendesain sebuah pembelajaran, yaitu:

  1. Desain instruksional lebih bertujuan untuk membentuk proses belajar dari pada mengajar.
  2. Disadari karena belajar adalah proses kompleks yang dipengaruhi oleh banyak variable.
  3. Model desain instruksional dapat diterapkan pada berbagai tingkatan.
  4. Desain instruksional merupakan proses berulang-ulang.Mengingat pemahaman kita tentang bagaimana orang belajar, kita tidak dapat merancang pembelajaran tanpa melibatkan peserta didik dalam proses.
  5. Desain instruksional itu sendiri adalah proses yang terdiri dari sejumlah sub proses yang diidentifikasi dan terkait.
  6. Berbagai jenis pembelajaran yang disebutkan akan menghasilkan berbagai jenis pembelajaran.Tidak ada cara terbaik untuk mengajarkan segala sesuatu, dan kondisi pembelajaran yang sesuai dengan jenis hasil yang kita inginkan akan mempengaruhi pemikiran kita tentang desain kegiatan pembelajaran dan bahan.

B.   Prosedur langkah-langkah

Setiap individu memiliki keyakinan pribadi tentang bagaimana belajar. Dan bagi setiap individu belajar berasal dari pengalaman pribadi, refleksi diri, pengamatan orang lain, dan melalui pengalaman mencoba untuk mengajar atau mengajak orang lain untuk dapat berpikir seperti cara kita. Belajar, seperti yang didefinisikan oleh Robert Gagne (1985), adalah sebuah proses yang mengarah ke perubahan dalam diri pemelajar dan kemampuan yang dapat tercermin dalam perilaku. Sebagai manusia kita memandang dan memproses informasi disetiap menit. Beberapa informasi ini kemudian disaring dan beberapa dijadikan masukkan untuk diketahui dan ingat. Perubahan dalam kemampuan adalah hasil dari apa yang kita sebut dengan situasi belajar. Situasi belajar memiliki dua bagian yakni situasi belajar eksternal dan situasi belajar internal.  Bagian internal dari situasi belajar, nampaknya berasal dari memori yang disimpan dan keinginan dari pemelajar.  Sedangkan Situasi belajar eksternal berkaitan kondisi lingkungan dimana pembelajaran berlangsung.

Proses pembelajaran telah diselidiki oleh metode ilmu pengetahuan selama bertahun-tahun. Seperti ilmuwan yang meneliti tentang belajar, pada dasarnya tertarik untuk menjelaskan bagaimana pembelajaran terjadi. Dengan kata lain, mereka ingin ada hubungan baik secara eksternal dan internal dalam situasi belajar untuk proses perubahan perilaku yang disebut belajar. Hubungan ini kemudian menjadi dasar untuk menyambungkan antara situasi belajar dan perubahan perilaku yang mungkin lebih tepat disebut “kondisi belajar” (Gagne, 1985). Ini adalah kondisi, baik eksternal dan internal untuk pemelajar, yang memungkinkan proses belajar itu terjadi. Jadi jika seseorang memiliki keinginan proses pembelajaran terjadi, maka dalam merancang pembelajaran, salah satunya harus mengatur kondisi eksternal dan internal belajar.

 C.   Beberapa Contoh Dari Prinsip Belajar

Ada beberapa prinsip yang berasal dari teori belajar dan pembelajaran yang relevan dengan desain instruksional. Prinsip-prinsipnya adalah sebagai berikut:

  1. Contiguity, Prinsip Kedekatan yang menyatakan bahwa situasi stimulus harus akan disajikan bersamaan dengan respon yang diinginkan.
  2. Repetition, Prinsip pengulangan menyatakan bahwa situasi stimulus dan respon perlu diulang, atau dipraktekkan, untuk belajar ditingkatkan dan retensi menjadi lebih terjamin.
  3. Reinforcement, secara histories Prinsip penguatan ini secara telah dinyatakan sebagai berikut: Belajar dari tindakan baru yang diperkuat ketika terjadinya tindakan diikuti oleh sesuatu yang memuaskan (Thorndike, 1913).
  4. Social-Cultural Principles of Learning  Prinsip Belajar berdasarkan sosial-budaya. Sebagian besar psikolog pendidikan sejak awal mempelajari bagaimana individu belajar dari instuksi/petunjuk tanpa mempertimbangan lingkungan sosial-budaya pemelajar. seperti faktor tingkatan pada pembelajaran, penggunaan ilustrasi, dan cara presentasi, antara lain, menentukan perbedaan yang diisolasikan dalam upaya untuk memberikan kontribusi terhadap perbedaan dalam situasi belajar. Namun, penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa konteks sosial-budaya dari belajar merupakan factor yang mungkin sama pentingnya lebih dari komponen lainnya.

 Prinsip-prinsip yang berasal dari sosial-budaya termasuk model-model berikut ini adalah:

  1. Negotiated Meaning, belajar adalah proses sosial dari membangun makna. Prinsip ini, bila diterapkan, akan disebut sebagai konteks di mana pemelajar akan bekerjasama dengan pemelajar lain dan menentukan pengetahuan yang lain dalam arti informasi. Implikasinya adalah bahwa lingkungan belajar dapat dikolaborasikan untuk memfasilitasi proses ini.
  2. Situated Cognition, Kemampuan belajar diperoleh dalam konteks tertentu, dan kegunaannya dirasakan pada konteks sebagai implikasi dari belajar. Prinsip yang harus perhatikan adalah pembelajaran yang terjadi dalam konteks otentik dapat diterapkan lebih bermakna sehingga dapat diingat dan mengingat bila diperlukan.

Mencantumkan sosial-budaya sebagai prinsip-prinsip dalam desain instruksional sebagai langkah logis dalam pengembangan model desain dengan sifat belajar yang sangat multidimensi, dan pasti sesuai dengan kondisi belajar. Kondisi ini mungkin lebih bersifat umum dari jenis pemelajaran tertentu. Prinsip-prinsip tersebut, kemudian, akan menginformasikan praktek dari sejumlah besar situasi belajar.

  1. Activity Theory, Prinsip teori kegiatan atau aktivitas termasuk gagasan dari belajar yang terjadi sebagai akibat dari aktivitas. Semua aktivitas dilakukan dengan maksud tertentu, dan dengan berpartisipasi dalam kegiatan, pembelajaran bisa terjadi. Salah satu hipotesis yang diusulkan oleh Brown, Collins, dan Duguid (1989) adalah pembelajaran yang terbaik terjadi apabila kegiatan-kegiatan itu secara otentik merupakan bagian dari karya budaya. Belajar adalah proses yang mentransformasikan pengetahuan dan praktek budaya. Meskipun ini merupakan penyederhanaan besar dari satu set kompleks proposisi dan kerangka teori aktivitas, prinsip pembelajaran secara aktif adalah penting bagi perancang instruksional, terutama dalam pemilihan hasil pembelajaran, dan desain dari kegiatan belajar.

 D.   Kondisi Belajar

Pembelajaran yang mempertimbangkan faktor eksternal dan internal untuk peserta didik yang secara kolektif dapat disebut kondisi pembelajaran (Gagne, 1985). Faktor eksternal, seperti lingkungan belajar, sumber daya dalam lingkungan tersebut, dan pengelolaan kegiatan belajar berinteraksi dengan kondisi internal, seperti keadaan pikiran bahwa pemelajar membawa tugas untuk  belajar, kemampuan dipelajari sebelumnya, dan tujuan pribadi para pemelajar secara individu. Kemampuan internal ini nampak sangat penting dalam satu set dari faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.

 The Processes of learning

Dalam menjelaskan kondisi pembelajaran, baik eksternal dan internal, harus dimulai dengan suatu kerangka atau model, dari proses yang memperlihatkan adanya tindakan pembelajaran. Suatu model diterima secara luas oleh para peneliti modern yang menggabungkan ide-ide utama teori pembelajaran secara kontemporer yang dikembangkan awalnya oleh Atkinson dan Shiffrin (1968), Memahami pembelajaran sebagai pengolahan informasi yang terdiri dari beberapa tahap antara persepsi dan memori.

Dalam tahapan proses informasi pengolahan model,  reseptor sensorik mengirimkan informasi dari lingkungan ke sistem saraf pusat. Informasi mencapai pendaftaran singkat di salah satu register sensorik dan kemudian diubah menjadi pola yang dikenali dengan memori jangka pendek Perubahan yang terjadi pada saat itu disebut persepsi selektif atau persepsi fitur. Penyimpanan informasi dalam memori jangka pendek memiliki durasi yang relatif singkat, kurang dari 20 detik, kecuali berlatih. Aspek lain dari memori jangka pendek yang cukup penting untuk belajar adalah kapasitas yang terbatas. Hanya beberapa item yang terpisah beberapa, mungkin sedikitnya empat sampai tujuh, dapat “diselenggarakan dalam pikiran” pada satu waktu. Karena penyimpanan jangka pendek merupakan salah satu tahap dari proses pembelajaran, batas kapasitasnya bisa sangat mempengaruhi kesulitan dalan tugas belajar.

 Informasi dari salah satu memori kerja atau memori jangka panjang, ketika diambil, lolos ke generator respon dan ditransformasikan menjadi tindakan. Aktivitas pesan kemudian berefek pada (otot), menghasilkan kinerja yang dapat diamati terjadi di lingkungan pemelajar.Tindakan ini yang memungkinkan pengamatan eksternal untuk memberitahu bahwa stimulasi awal telah memiliki efek yang diharapkan. Informasi kemudian telah “diproses” dalam semua cara, dan pemelajar telah, benar-benar belajar.

 Control Processes

Dua struktur penting yang yang mengatur arus informasi selama pembelajaran adalah Executive Control dan Expectancies. Misalnya, peserta didik memiliki harapan dari apa yang akan mereka dapat lakukan setelah mereka belajar, dan pada gilirannya apakah ini dapat mempengaruhi bagaimana situasi eksternal yang dirasakan, bagaimana itu disandikan dalam memori, dan bagaimana hal itu transformasikan menjadi prestasi. Struktur kontrol eksekutif mengatur penggunaan strategi kognitif, yang dapat menentukan bagaimana informasi dikodekan ketika memasuki memori jangka panjang, atau bagaimana proses pengambilan dilakukan .

 Instruction and Learning Processes

Pembelajaran akan memfasilitasi belajar  bila didukung oleh kejadian internal dari pengolahan informasi. Kejadian eksternal yang disebut pembelajaran,  kemudian, harus diselaraskan dengan kejadian internal untuk mendukung tahapan yang berbeda dalam proses. Pembelajaran, kemudian, dapat dipahami sebagai usaha sengaja dalam mengatur kejadian eksternal yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran internal.

Keseluruh isi buku ini untuk merujuk pada peristiwa pembelajaran (Gagne, 1985). Tujuannya adalah untuk menjelaskan tentang jenis proses internal yang akan mengarah pada pembelajaran yang efisien. Peristiwa pembelajaran melibatkan jenis kegiatan berikut dengan berbagai urutan dan terkait dengan proses pembelajaran sebelumnya yakni:

  1. Stimulasi untuk mendapatkan perhatian dengan memastikan adanya penerimaan rangsangan
  2. Menginformasikan kepada peserta didik tujuan dari pembelajaran untuk menetapkan harapan yang sesuai
  3. Mengingatkan peserta didik dari materi yang sebelumnya dipelajari dengan mengambil dari LTM
  4. Jelas dan khas penyajian materi untuk memastikan persepsi selektif
  5. Bimbingan belajar dengan encoding semantik yang sesuai
  6. Memunculkan prestasi, yang melibatkan bangkitnya respon
  7. Memberikan umpan balik tentang kinerja
  8. Menilai kinerja yang melibatkan adanya kesempatan terjadi respon umpan balik tambahan
  9. Mengatur berbagai praktek untuk membantu pengambilan dan pemindahan

 Kapabilitas belajar dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu dari lima domain kemampuan. Secara singkat, lima jenis kemampuan belajar dengan yang ditawarkan dalam buku ini adalah sebagai berikut:

  1. Intellectual Skill: Yang memungkinkan pemelajar untuk melaksanakan prosedur secara simbolis dikendalikan menggunakan diskriminasi, konsep, aturan, dan keterampilan dalam pemecahan masalah
  2. Cognitive Strategies: sarana yang digunakan oleh peserta didik dikontrol berdasarkan proses belajar mereka sendiri
  3. Verbal Information: Fakta dan terorganisir “pengetahuan tentang dunia” yang tersimpan dalam memori pembelajar
  4. Attitudes: keadaan internal yang dinyatakan mempengaruhi pilihan terhadap  tindakan pribadi yang dibuat oleh seorang pemelajar
  5. Motor Skill: Gerakan otot yang terorganisir dalam rangka mencapai tujuan dalam bentuk tindakan.

 Yang menarik adalah bagaimana berbagai jenis kemampuan belajar memfasilitasi jenis belajar lainnya. Dalam menggunakan menggunakan prinsip-prinsip desain instruksional untuk merancang pelajaran mungkin diperlukan sebuah model sederhana untuk perencanaan pelajaran. Jika tujuan yang diinginkan telah ditetapkan, dan materi kurikulum dikembangkan, guru mungkin hanya untuk (1) mengelola materi yang nantinya disampaikan kepada pemelajar, (2) membimbing kegiatan belajar siswa, dan (3) menilai pembelajaran dan memberikan umpan balik korektif.

 Langkah-langkah pengembangan model dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut:

  1. Tentukan tujuan untuk instruksional. Kebutuhan instruksional diselidiki sebagai langkah pertama. Ini kemudian dipertimbangkan oleh suatu kelompok yang bertanggung jawab untuk mencapai konsensus pada tujuan pengajaran. Sumber daya yang tersedia untuk memenuhi tujuan-tujuan ini juga harus dipertimbangkan secara hati-hati, karena dengan situasi yang memaksakan perencanaan instruksional akan mengalami kendala. Contoh dari kendala adalah waktu yang diperbolehkan untuk pembelajaran.
  2. Tujuan pengajaran dapat diterjemahkan ke dalam sebuah kerangka kerja sebagai bagian dari kurikulum. Demikian juga tujuan dari program yang dibuat oleh individu mencerminkan tujuan instruksional ditentukan pada berbagai tipe keerhasilan yang dihasilkan berdasarkan deskripsi tujuan.
  3. Tujuan tersebut kemudian dianalisis dan unit utama pembelajaran diidentifikasi. Tujuan Unit berasal dari tujuan mata pelajaran, dengan memperhatikan bagaimana mereka mendukung jenis hasil diwakili pada program.
  4. Penentuan jenis kemampuan yang harus dipelajari, dan memberikan kesimpulan berdasarkan kondisi pembelajaran yang diperlukan, sehingga memungkinkan untuk merencanakan urutan pelajaran. Urutan ini memfasilitasi pembelajaran kumulatif.
  5. Pelajaran selanjutnya dipecah menjadi kejadian atau kegiatan belajar. Pusat perhatian pada pengaturan kondisi eksternal yang paling efektif dalam mencapai hasil yang diinginkan. Pertimbangan juga harus diberikan kepada karakteristik peserta didik, karena ini akan menentukan banyak kondisi internal yang terlibat dalam bekerja sama. Perencanaan ini juga melibatkan teknologi
  6. Unsur tambahan yang dibutuhkan untuk penyelesaian desain instruksional adalah seperangkat prosedur penilaian apa yang telah dipelajari pemelajar. Dalam konsep, komponen ini secara alami diikuti berdasarkan tujuan instruksional. Tujuan menggambarkan domain dari item yang dipilih. Penilaian prosedur dan instrumen yang dirancang untuk menyediakan pengukuran kriteria-referenced hasil belajar (Popham, 1981).
  7. Desain pelajaran dan kursus, dengan teknik yang menyertainya akan menilai hasil pembelajaran, memungkinkan perencanaan sistem secara keseluruhan. Sistem instruksional bertujuan untuk mencapai tujuan yang komprehensif di sekolah-sekolah dan program pendidikan di semua tingkatan. Sebuah cara harus ditemukan agar sesuai dengan berbagai komponen bersama-sama dalam suatu sistem manajemen, kadang-kadang disebut sistem pengiriman instruksional. Tentu, guru atau instruktur memainkan peran kunci dalam pengoperasian sistem tersebut.
  8. Akhirnya, perhatian harus diberikan pada evaluasi upaya pembelajaran. Prosedur untuk evaluasi dipergunakan terlebih dahulu untuk usaha desain itu sendiri. Bukti yang dicari untuk revisi yang akan meningkatkan dan memperbaiki pembelajaran (evaluasi formatif). Pada tahap selanjutnya, evaluasi sumatif dilakukan untuk mencari bukti efektivitas belajar dari apa yang telah dirancang.

 Kelebihan dan keterbatasan penggunaan

Buku ini memberikan dampak positif bagi para penulis buku teks (ajar), pengembang materi kurikulum, pendesainer latihan berbasis web, perancang system manajemen pengetahuan, penceramah, pelatih, guru tapi juga peserta didik.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar